LOBAR—Kelangkaan semen terjadi di Lombok Barat (Lobar) dan sejumlah wilayah di Lombok. Kondisi ini sangat dikeluhkan para pedagang hingga masyarakat. Menipisnya pasokan bahan material penting itu membuat harga semen di pasaran menjadi melambung tinggi hingga menembus angka sekitar Rp80–87 ribu per sak.
Kondisi kelangkaan semen itu dibenarkan Dinas Perdagangan (Disdag) Lobar, dan sudah berlangsung sejak awal Agustus 2026 lalu. Pihak dinas bahkan langsung mendatangi sejumlah distributor semen besar di Lobar untuk mengetahui penyebab kelangkaan itu.
Kabid Dagang Disdag Lobar, Lale Widiani, mengungkapkan kelangkaan itu disebabkan pasokan solar dan batu bara sebagai sumber energi utama produksi yang tersendat. Hal tersebut membuat produksi semen di pabrik menjadi terkendala.
“Permasalahannya sama. Saya ke distributor Tiga Roda, Bosowa, dan Tonasa, ketiga distributor tadi intinya sama,” ungkap Lale yang dikonfirmasi akhir pekan kemarin.
Pengiriman pasokan solar murni untuk Indonesia melalui Selat Hormuz, Iran, tersendat. Ketegangan Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Presiden Amerika Donald Trump menolak usulan atau proposal yang diajukan Iran sebagai syarat membuka selat utama jalur pengiriman minyak dunia itu.
“Pengiriman solar dari luar negeri ke Indonesia tersendat karena ndak bisa lewat Selat Hormuz. Sedangkan untuk semen ini dia menggunakan solar murni, katanya,” terangnya.
Selain itu, kondisi semakin diperparah dengan terlambatnya pengiriman batu bara melalui jalur pelayaran sungai di Kalimantan. Kemarau panjang yang menerjang Indonesia membuat sungai jalur kapal batu bara itu surut dan tidak dapat dilalui.
Penuturan pihak distributor, kondisi berkurangnya pasokan semen itu terjadi sejak akhir Juli 2026 lalu dan semakin parah di bulan September ini. Sejumlah merek semen bahkan sudah tidak pernah datang lagi. Jikapun masih ada sisa stok, harga yang dijual pedagang atau pengecer melonjak dari harga pasaran. Dari yang biasanya kisaran Rp65 ribu per sak menjadi Rp80–87 ribu per sak.
“Distributor harganya itu tetap, tidak menaikkan harga. Dari distributor ke toko itu tetap, dia ndak pernah naikkan harga distributor, toko juga tetap harganya, di pengecer dia naik harganya,” ungkapnya.
Kelangkaan semen itu dikatakan Lale tidak hanya dialami Lobar saja, namun seluruh daerah lain di Indonesia. Lantaran disebabkan pasokan bahan bakar yang berada di pusat. Bahkan, ini pertama kali dialami dan begitu parah.
“Tahun kemarin ndak terjadi seperti ini, katanya,” ucapnya.
Meski ada beberapa merek semen yang beredar, tetap saja tidak bisa memenuhi kebutuhan di masyarakat maupun pemerintah. Sebab, tiga merek besar semen Indonesia tetap menjadi pemasok utama kebutuhan material di Lobar.
Salah satu merek semen besar yang masih terbatas produksinya adalah merek Tiga Roda. Meski pasokan terlambat dan terbatas, perusahaan semen itu tetap melayani pembelian dengan sistem pembagian bergilir. Baik untuk kebutuhan proyek besar menggunakan truk molen dari perusahaan maupun untuk kebutuhan masyarakat.
“Tadi juga saya tanya di Tiga Roda, untuk perusahaan yang sudah taruh uang duluan (DP) untuk proyek-proyek ini, kami mengasih giliran, dia bilang katanya. Yang tadinya mungkin 1 bulan stok untuk proyek A misalnya, akan digulir kasih dulu yang distributor-distributor kecil. Sistem antrean,” pungkasnya. (Win)

