KOKOH: Bangunan Masjid Gunung Pujut yang masih kokoh berdiri.(HAZA/RADAR MANDALIKA)

Saksi Penyebaran Islam, Arsitektur Bangunan Masjid Gunung Pujut Sarat Filosofi

Di tengah pesatnya pembangun di Lombok Tengah, terdapat peninggalan bersejarah masjid kuno yakni Masjid Gunung Pujut yang berlokasi di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut. Masjid Gunung Pujut merupakan salah satu situs cagar budaya yang menyimpan banyak cerita khususnya terkait ajaran Wetu Telu.

HAZA-LOMBOK TENGAH

PULAU Lombok terkenal dengan sebutan pulau seribu masjid, hal ini dikarenakan penduduknya mayoritas menganut agama Islam.

Di Pulau Lombok sendiri khususnya di Lombok Tengah terdapat masjid kuno yang sampai saat ini masih berdiri kokoh yaitu Masjid Gunung Pujut.

Lokasi Masjid Gunung Pujut sendiri tidak jauh dari kawasan KEK Mandalika kurang lebih berjarak 2-3 kilometer ke arah utara. Masjid ini sebagai bukti sejarah perkembangan Islam di Pulau Lombok.

Dari informasi yang didapat koran ini, masjid ini dibangun oleh raja Kerajaan Pujut yaitu Pangeran Sange Pati pada tahun 1008 H.

“Peninggalan ini sekarang menjadi destinasi wisata religi di Lombok Tengah. Di sekitar masjid terdapat makam para alim ulama, orang-orang terdahulu yang berperan penting dalam penyebaran agama Islam,” tutur Fathurahman selaku Tokoh Masyarakat setempat, kemarin.

Selain memiliki nilai sejarah yang kental, masjid ini juga memiliki keunikan tersendiri. Dibangun di atas bukit, dimana di dalamnya terdapat empat sakaguru atau tiang dari kayu yang bermakan empat perkara yang dijalankan oleh para wali yakni Syareat, Tarekat, Hakekat, dan Ma’rifat atau sabar, syukur, ridho dan tawakal. Sedangkan tiang-tiang sudut melambangkan empat anasir yakni air, api, tanah, dan angin. Serta 28 buah tiang pendukung yang mengelilingi. Tiang-tiang ini sekaligus berfungsi sebagai tempat menempelkan dinding. Sementara lantai masjid masih tanah dan atap yang terbuat dari alang-alang.

Ciri khas lain bangunannya masjid ini ialah tegak menjulang dengan atapnya hampir menyentuh tanah. Hal ini mengandung makna setiap orang yang hendak melakukan salat haruslah merendahkan diri menghamba kepada Tuhan yang maha tinggi. Masjid ini tetap dirawat dan menjadi bagian dari wisata religi serta sejarah yang mengingatkan kepada semua warga bagaimana penyebaran agama Islam zaman dulu.

Untuk sampai ke lokasi harus berjalan kaki menaiki ratusan anak tangga yang terbuat dari semen, kurang lebih 15 menit dari pos penjaga/pelayanan informasi.

“Dahulu masjid ini menjadi lokasi berbagai aktivitas keagamaan seperti ajaran Islam Wetu Telu yang berkembang di tengah masyarakat Lombok pada awal masuknya ajaran Islam yang dipimpin oleh Kyai dan ajaran agama Hindu yang dipimpin oleh pemangku adat seperti upacara Nyelamet Desa dan Nyaur Sesangi. Saat ini kompleks bangunan Masjid Kuno Pujut sudah tidak sebagai sarana aktivitas ibadah lagi sehingga diklasifikasikan sebagai monumen mati,” ujarnya.

Kalau dilihat dari segi ukuran masjid kuno ini sangat minimalis 8,6 x 8,6 meter tidak seperti ukuran masjid pada umumnya. Terbuat dari pagar bambu dan beratapkan alang-alang membuatnya sangat unik dan klasik.

Bagian dalam masjid juga dilengkapi dengan bedug yang dulunya digunakan sebagai penanda waktu salat bagi masyarakat sekitar. Selain itu, masih ada mimbar tua yang digunakan oleh khatib saat khotbah.

“Masjid Kuno Gunung Pujut merupakan salah satu situs cagar budaya yang menyimpan banyak cerita dan merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Pujut. Yang mana sampai saat ini masih kerap dikunjungi oleh wisatawan diperkirakan berada pada awal abad ke-17,” pungkasnya.(bersambung)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 723

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *