Kerbau Mati Mendadak Bertambah, Peternak di Sekitar Sirkuit Cemas

  • Bagikan
F kerbau
FOTO DIKI WAHYUDI/RADAR MANDALIKA KELUAR BUSA: Terlihat dari mulut kerbau ini mulai mengeluarkan busa dari mulutnya. Sementara warga di sekitar sedang menaikan kerbau ke atas pikap untuk dibawa ke jagal, Jumat kemarin.

PRAYA – Data terbaru yang diterima Radar Mandalika, ada 19 ekor kerbau milik warga di sekitar Sirkuit Mandalika Desa Kuta, Kecamatan Pujut mati mandadak. Kerbau itu sebelum mati terlebih dahulu mengeluarkan busa dari mulutnya.

“Semua kita pasti cemas. Makanya sekarang hewan peliharaan kami jaga. Tidak seperti biasa sebelum banyak proyek di Kuta,” ungkap Amaq Silah warga Kuta.

 Sebelumnya, Jumat (10/9) kerbau mati mandadak milik warga di Dusun Ketapang Desa Kuta terus bertambah. Jumlah hari itu ada18 ekor yang mati mendadak. “Dari Hari Rabu ada yang mati, Kamis ada juga dan tidak malam. Kalau totalnya 18 ekor sama anaknya masih kecil,” kata pemilik kerbau, Lalu Nure yang ditemui di Kuta.


Dari pengakuan pemilik kerbau ini, ada juga kerbau miliknya yang berhasil disembelih. Namun kerbau masih kecil terpaksa dikubur. Ia mengakui, sebelum mati dari mulut kerbau mengeluarkan busa warna putih.
“Saya tidak tau kenapa bias mati begini, setiap hari ada saja yang mati,” katanya.

Sementara, tim dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB langsung turun Jumat pagi tadi ke Dusun Ketapang Desa Kuta. Mereka turun dalam rangka mengambil sampel darah dari hewan milik Lalu Nure.
“Ada tiga ekor tempat kami ambil sampel, awalnya kami mau ambil semua Cuma sulit komunikasi dengan pemilik,” ungkap Dokter Hewan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, Muslih.

Dokter ini mengaku, pihaknya turun ke lokasi karena memang dari kemarin ada masuk laporan. Kepala dinas pun tadi pagi memerintahkan untuk turun langsung. “Jadi sampel yang ada ini kami akan bawa ke lab dan menunggu hasilnya keluar. Pemeriksaan lab juga adanya di Bali,” bebernya.
Diakuinya, menurut laporan ada 15 ekor kerbau yang mati namun tidak mati secara bersamaan. Ada juga yang berhasil diberikan anti biotik. “Kalau dibiarkan bahaya karena bias menjangkit kerbau yang lain. Apalagi ini satu kandang,” katanya.


Dari kejadian ini, dokter menduga sementara bahwa kerbau yang mati mendadak terkena penyakit ngorok atau septicaemia Epizootika (SE). Penyakit menular ini hanya bisa menular kepada dua hewan yakni, sapi dan kerbau.”Kalau keracunan disebabkan limbah mungkin belum mengarah ke sana ya, karena kami bicara berdasarkan gejala kami lihat. Kata pemilik juga kerbau ini minum air sumur bor selama ini,” jelasnya.
Untuk sementara, pihaknya akan menyampaikan apa penyebab kerbau ini mati mendadak nanti setelah ada keluar hasil lab.”Paling tidak Senin pagi atau siang,” katanya tegas.

Di samping itu, Sabtu kemarin dokter hewan ini juga memberikan informasi bahwa sampel darah kerbau akan dikirim ke Denpasar, Bali Senin (hari ini, red).”Sampel Hari Senin baru bisa kami kirim ke Denpasar  karena kalau kirim besok (Sabtu), Lab Denpasar libur, takutnya sampel rusak di jalan,” katanya via wa.(red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *