Kasus Dermaga Labuhan Haji Naik Status

F NAIK SIDIK JELASKAN scaled

MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA NAIK TAHAP SIDIK : Pengerukan kolam labuh Dermaga Labuhan Haji yang saat ini dalam proses penyidikan Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Lotim.

LOTIM – Dalam waktu sebulan Kejaksaan Negeri (Kejari) Lombok Timur (Lotim) melakukan Pengumpulan Data (Puldata) dan Pengumpulan Keterangan (Pulbaket), kasus mega proyek pengerukan kolam labuh Pelabuhan Labuhan Haji Lotim tahun 2016 lalu, naik status ke tingkat penyidikan. Kasus itu masuk sidik, karena kejaksaan mengantongi dua alat bukti.

Kepala Kejari Lotim, Irwan Setiawan Wahyuhadi, di ruang kerja Kasi Intel, kemarin menjelaskan, selain mengantongi dua alat bukti menjadi dasar peningkatan status dari penyelidikan ke penyidikan. Termasuk pula telah meminta keterangan sejumlah pihak, mulai dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), pihak rekanan, dan lainnya. Tak terkecuali, mantan Bupati Lotim juga telah diminta keterangan.

Mega proyek yang dianggarkan sebesar Rp 38 miliar lebih itu, tahun 2016 itu dikerjakan dan mengalami mangkrak. Di lain pihak, pemerintah telah mengeluarkan uang muka pada pihak ketiga sekitar Rp 7 miliar lebih. Uang muka tersebut dijaminkan di salah satu perbankan di luar daerah. Belum lagi bicara denda, sekitar Rp 2 miliar lebih.

Dan sekarang ini, pemerintah sedang dalam proses gugatan perdata, menggugat pihak rekanan. Pemda sendiri, beberapa waktu lalu melayangkan Peninjauan Kembali (PK), untuk memenangkan kasus tersebut dari tangan pihak ketiga. “Kami masih menunggu hasil perhitungan kerugian dari Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP),” tegasnya.

“Bila hasil BPKP telah keluar, baru kita tetapkan tersangka,” imbuhnya.

Untuk diketahui, dalam kasus pengerukan kolam labuh dermaga Labuhan Haji, saat itu menjadi PPK inisial N. Kasus ini menjadi atensi kejaksaan, karena besarnya kerugian negara ditimbulkan akibat proyek tersebut. Ketika itu, proyek pengerukan kolam labuh, mangkrak dengan berbagai alasan. Hanya pipa yang dipasang pekerja, dan bisa mendatangkan kapal pengeruk tetapi tidak beroperasi. Bahkan hingga kini, pipa yang menjulur ke daratan untuk membuang sedotan pasir itu, masih tersisa. Mangkraknya proyek itu, juga disebabkan setelah tertangkapnya sejumlah Tenaga Kerja Asing (TKA) dalam proyek tersebut. (fa’i/r3)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

PKB Loteng Salurkan Bantuan di Kabul

Read Next

Gara-gara Banjir di Kuta, Penyelenggara MotoGP Akan Turun

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *