PRAYA – Rencana Kunjungan Kerja (Kunker) sebanyak 17 kepala desa di Lombok Tengah menyita perhatian masyarakat. Pasalnya, kunker sejumlah kepala desa yang termasuk kepala desa yang ada di Kecamatan Jonggat tersebut diisukan akan dilakukan hingga ke luar negeri yakni ke Singapura.
Kepala Desa Nyerot Kecamatan Jonggat, Sahim menyangkal isu tersebut. Dijelaskan jika isu tersebut dibuat oleh orang yang kurang paham aturan. Melainkan para kepala akan melakukan kunker ke Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Ditegaskan, Pemerintah Daerah (Pemda) Lombok Tengah sudah bersurat kepada Pemda Batam terkait rencana kunjungan kerja tersebut.
“Orang bodoh dan tidak paham aturan yang buat isu kades kunker ke luar negeri,” terangnya saat dikonfirmasi Radar Mandalika, kemarin (31/7/2023).
Pihaknya tidak merinci titik lokasi pelaksanaan kunker yang akan di lakukan di Batam. Namun jelasnya nantinya pemerintah daerah Batam yang akan mengarahkan rombongan kepala desa untuk mengunjungi wilayah tertentu.
Pihaknya menerangkan, Kunker tersebut menjadi sarana untuk belajar bagi para kepala desa di Lombok Tengah terkait bagaimana desa- desa lain khususnya di daerah Batam mengelola wilayah mereka sehingga bisa maju dan membangun masyarakat.
“Intinya kita ingin tahu kemajuan daerah orang untuk kita contoh,” terangnya.
Menyinggung isu Kunker ke Singapura, dia kembali menegaskan tidak ada kunker ke Singapura. Namun menurut Sahim, jika para kepala desa yang liburan ke Singapura itu dipastikan dilakukan di luar jadwal kunjungan kerja. Demikian juga dengan penggunaan anggaran, mantan anggota DPRD Loteng ini menegaskan jika perjalanan dinas kepala desa hanya ke Batam, sedangkan di luar itu dibiayai secara pribadi oleh kepala desa yang bersangkutan.
“Uang perjalanan dinas mereka setor ke travel untuk di Batam saja,” ujarnya.
Pihaknya juga menegaskan jika siapun pejabat bisa melakukan liburan dengan berkeliling dunia, namun kegiatan tersebut dibiayai menggunakan uang pribadi kepala desa tersebut.
“Selama punya uang pribadi, siapapun pejabat boleh maen- maen keliling dunia asal tidak gunakan uang negara,” tandasnya.
Pentingnya kunjungan kerja ini juga sempat disinggung Ketua Forum Kepala Desa (FKF) Loteng, Suasto Hadiputro Armin. Dimana kunjungan kerja para kepala desa sebagai sarana untuk mempelajari berbagai metode dan kebijakan yang dilakukan oleh desa- desa lain di Indonesia, sehingga nantinya bisa diadopsi dan diterapkan di Lombok Tengah demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui agenda ini para kades bisa belajar langsung dan berbagi tips mengenai cara pengelolaan infrastruktur, pengelolaan destinasi, hingga penyerapan UMKM di desa wisata agar bisa memerikan manfaat yang besar bagi warga desa itu sendiri.
“Tujuannya untuk bertukar pengalaman terkait cara pengelolaan pembangunan, baik pariwisata, ekonomi kreatif dan lainnya sehingga bisa kita contoh,” terangnya belum lama ini.(ndi)