KEMBALI RUSAK: Beginilah kondisi jalan menuju Pelabuhan Gili Mas Lembar yang sempat ditambal sulam kembali rusak beberapa hari lalu.(IST/RADAR MANDALIKA)

LOBAR—Tambal sulam perbaikan jalan menuju Pelabuhan Gili Mas Kecamatan Lembar tak berumur panjang. Perbaikan yang dilakukan sekitar Februari lalu itu kondisinya kembali rusak parah. Intensitas kendaraan bermuatan berat yang melintas di jalur pelabuhan itu diduga menjadi penyebab kembali rusaknya jalan tersebut.

Dari pantauan lapangan, beberapa titik yang ditambal sulam seperti di tikungan maupun jalan dari simpang tiga Lembar sudah kembali rusak. Kubangan dan jalan bergelombang, sangat rawan kecelakaan. Warga yang melintas harus ekstra hati-hati, terlebih kendaraan pengangkut barang seperti truk dan fuso tetap lalu lalang di jalur itu.

Kepala Desa (Kades) Lembar Selatan, H Beny Basuki mengharapkan pemerintah tak menutup mata dan serius memperbaiki jalan provinsi itu. Sebab kondisinya sudah tak layak dilalui karena membahayakan pengendara. “Kondisinya rusak parah, harus segera ditangani permanen,” tegasnya akhir pekan kemarin.

Ia mengungkit kasus kecelakaan lalu lintas di jalur itu yang pernah menimpa warga dan turis kapal pesiar. Selain membahayakan nyawa, kondisi jalan itu memalukan nama pariwisata daerah. Akibat kesal dengan kondisi jalan rusak, warga melakukan aksi menanam pohon pisang sebagai bentuk protes.

“Tapi penanganan yang dilakukan pemerintah pun masih sebatas tambal sulam. Itupun sebagian bantuan dari perusahaan BUMN dan swasta yang beroperasi di daerah itu,” sesalnya.

Sementara itu, Kabid Sarana Prasarana (Sarpras) Dinas Perhubungan (Dishub) Lobar Fathurrahman mengatakan untuk penanganan jalan Gili Mas masih bersifat sementara atau jangka pendek. Sembali menunggu perbaikan permanen dari pemerintah provinsi. Selain itu, pengaturan kendaraan truk berkapasitas besar akan dilakukan Dishub untuk mengurangi beban tonase yang melintasi jalan itu.

“Agar kendaraan muatan besar tak parkir di sepanjang bahu jalan menunggu giliran bongkar muat kapal,” jelasnya.

Diakuinya anggaran perbaikan jalan tak terlalu besar dan hanya cukup untuk pemeliharaan. Sehingga dilakukan tambal sulam jalan berlubang. Terhadap jalan yang berlubang dan ditanami warga pohon pisang itu karena drainasenya buruk.

“Masyarakat menanam pohon itu sebagai penanda biar pengguna jalan tak lewat yang lubang itu,” bebernya.

Terkait kelas jalan itu, Faturrahman mengatakan jalan itu masih kelas 3 B. Harusnya jalan yang menuju pelabuhan terbesar di NTB itu masuk jalan nasional kelas 1. Mengingat jumlah dan bobot kendaraan yang melintas di jalan itu cukup besar. Sementara jalan kelas 3 B maksimal dilalui kendaraan dengan bobot muat 7 ton. Namun nyatanya kendaraan yang melintas bobotnya sudah melebihi 10 ton.

“Belum lagi beban berlebih pasti lebih besar, harusnya kelas satu jalan nasional kalau kita meliihat jenis kendaraan yang lewat di sana,” paparnya.

Untuk jalan kelas satu memiliki ketebalan yang bisa menahan beban maksimal 10 ton dengan lebar jalan minimal 9 meter.  Meski demikian pihaknya memahami kondisi anggaran daerah yang belum bisa menganggarkan pembangunan jalan. Sehingga pihaknya berharap perbaikan itu umurnya bisa berlangsung lama.(win)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 377

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *