Mataram – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Triwulan II 2026 tumbuh 7,41 persen dibandingkan Triwulan II 2025 (year on year).
Capaian tersebut menempatkan NTB sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Indonesia setelan Maluku Utara yang mencapai 15,35 persen, sekaligus jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,29 persen.
Kepala BPS NTB, Wahyudin, mengatakan capaian tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Bumi Gora tidak lagi hanya bergantung pada sektor pertambangan, tetapi mulai ditopang sektor-sektor ekonomi riil yang semakin beragam.
Hal itu terjadi seiring berakhirnya relaksasi ekspor konsentrat tembaga PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) yang sebelumnya menjadi salah satu faktor pendorong lonjakan pertumbuhan ekonomi NTB.
“Struktur pertumbuhan NTB justru semakin sehat karena sektor-sektor ekonomi riil tetap tumbuh positif dan menjadi penopang utama perekonomian daerah,” ujarnya saat menyampaikan Berita Resmi Statistik (BRS) di Kantor BPS NTB, Mataram, Rabu (5/8/2026).
Selain tumbuh secara tahunan (y-on-y), ekonomi NTB juga meningkat 0,72 persen dibandingkan Triwulan I 2026 atau secara quarter to quarter (q-to-q). Sementara secara kumulatif Semester I 2026, pertumbuhan ekonomi mencapai 10,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kendati demikian, dijelaskan Wahyudin bahwa sektor pertambangan dan penggalian masih menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi pada Triwulan II 2026 dengan kenaikan 30,57 persen. Selanjutnya industri pengolahan tumbuh 7,45 persen, pengadaan air dan pengelolaan sampah 6,52 persen, jasa keuangan 5,69 persen, serta penyediaan akomodasi dan makan minum 4,86 persen.
Sementara itu, berdasarkan perbandingan antartriwulan, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 11,42 persen. Disusul jasa lainnya 8,90 persen, transportasi dan pergudangan 6,22 persen, administrasi pemerintahan 5,87 persen, serta real estat 2,41 persen.
“Pertumbuhan terjadi pada seluruh (tujuh belas) lapangan usaha,” katanya.
BPS juga mencatat sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyumbang terbesar struktur perekonomian NTB dengan kontribusi 21,93 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Posisi berikutnya ditempati sektor pertambangan dan penggalian sebesar 20,02 persen, perdagangan besar dan eceran 13,94 persen, serta konstruksi 8,51 persen.
Nilai PDRB NTB pada Triwulan II 2026 atas dasar harga berlaku mencapai Rp53,91 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp29,89 triliun.
Secara kumulatif Semester I 2026, seluruh lapangan usaha juga mencatat pertumbuhan positif. Sektor pertambangan dan penggalian tumbuh 31,18 persen, industri pengolahan 29,67 persen, jasa keuangan 9,56 persen, penyediaan akomodasi dan makan minum 7,61 persen, perdagangan 7,04 persen, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan 6,27 persen.
Meski demikian, BPS mengingatkan masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu menjadi perhatian, terutama dalam memperluas lapangan kerja yang berkualitas dan memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi semakin dirasakan masyarakat hingga ke wilayah perdesaan.
“Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga momentum tersebut agar pertumbuhan ekonomi semakin inklusif, berkelanjutan, dan mampu menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat,” tandas Wahyudin.(red)
