LOBAR—Menjadikan Lombok Barat (Lobar) daerah sentra melon serius digarap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lobar. Potensi komoditas ini dianggap menjanjikan untuk peningkatan ekonomi desa di Lobar.
Dinas Pertanian (Distan) Lobar tengah mendata sejumlah desa yang dianggap potensial untuk menjadi lokasi pengembangan budi daya melon ini. Dinas menargetkan Lobar jadi sentra melon pada 2027 mendatang. Sejauh ini terdapat 7 titik lokasi budi daya melon di Lobar, yakni Desa Batu Putih Kecamatan Sekotong, Kebon Ayu Kecamatan Gerung, serta Desa Labuapi, Midang, dan Mambalan Kecamatan Gunungsari.
“Sesuai dengan arahan Ibu Bupati, kita akan mendokumentasikan data produksi per titik tersebut untuk bisa kita laporkan by system guna mendongkrak angka pertumbuhan ekonomi,” terang Kepala Distan Lobar H. Lalu Moh. Hakam, akhir pekan kemarin.
Selain memulai pemetaan titik-titik potensial, dinas juga akan melakukan penguatan peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan peran petani untuk mendongkrak rencana itu. Pemda akan mulai melakukan intervensi mendorong kelompok tani, termasuk pemuda desa, untuk mau menjajaki budi daya melon.
“Kita tumbuhkan minat desa-desa lain yang potensial untuk bisa mengikuti jejak desa yang berhasil mengembangkan melon ini,” ucapnya.
Menurutnya, dari sisi rantai pasok dan pemasaran, para petani dan pembudidaya tidak perlu khawatir. Sebab, selama ini beberapa desa pembudi daya melon di Lobar tidak mengalami kendala berarti soal pemasaran, lantaran komoditas itu sudah memiliki pangsa pasarnya sendiri dan tetap dicari. Bahkan, hasil panen melon biasanya langsung terserap pasar dalam waktu singkat setelah masa panen selesai.
“Para petani dan pembudi daya melon ini tidak kebingungan untuk pemasarannya karena satu jam atau dua jam setelah panen itu sudah ada peminatnya dan sudah ada pangsa pasarnya tersendiri, terutama pasar-pasar modern,” tambahnya.
Tidak sampai di situ, Hakam mengatakan Wabup juga sudah memerintahkan agar sektor pertanian tersebut terintegrasi dengan sektor pariwisata untuk memenuhi kebutuhan restoran dan perhotelan di kawasan Senggigi maupun daerah lainnya.
“Memang butuh effort yang lebih untuk memberikan pemahaman kepada kelompok tani kita, dan di sana juga butuh peran pemerintah desa untuk support,” ucapnya.
Hakam menyebutkan salah satu desa yang sudah menunjukkan hal itu adalah Desa Mambalan. Pemerintah desa melalui BUMDes berperan aktif memberikan pendampingan serta dukungan kepada kelompok tani lokal. Model pengelolaan di Desa Mambalan diharapkan mampu menjadi role model bagi desa-desa lainnya dalam membangkitkan semangat dan potensi pertanian daerah.
“Sehingga target kita ke depan menjadikan Lombok Barat sentra melon bisa terwujud,” imbuhnya.
Terkaid dengan dukungan Pemda, Hakam mengatakan pihaknya mulai melakukan pemetaan spasial (mapping) berbasis data, perumusan kebijakan berupa program kegiatan dan infrastruktur pendukung (sarpras), serta menghubungkan para petani langsung dengan pelaku industri pasar maupun pemasok hotel di kawasan pariwisata Lombok Barat. Bahkan, pengembangan budi daya melon itu bisa masuk dalam program sejahtera dari desa.
Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, BUMDes, dan petani, target Lombok Barat sebagai kabupaten sentra melon diyakini dapat terwujud dengan baik. (Win)

