Disoal, Kontraktor Proyek SPAM Pengga Bakal Dipanggil Dewan

  • Bagikan
F Pipa scaled
FENDI/ RADAR MANDALIKA RUSAK: Kondisi badan jalan yang rusak di kecamatan prabarda dampak dari pengerjaan proyek pipa air baku untuk KEK Mandalika, kemarin

PRAYA – Ketua Komisi III DPRD Lombok Tengah, Muhalip membenarkan persoalan yang dikeluhkan warga di Kecamatan Praya Barat Daya. Dimana, dari hasil sidak yang dilakukan belum lama ini, pihaknya menemukan kejanggalan dalam pengerjaan proyek system penyediaan air minum (SPAM) pipa Pengga-KEK Mandalika.

Muhalip menyebutkan, terjadi kerusakan jalan akibat galian pipa, pekerja proyek diduga kurang tepat dan kurang paham kontruksi, hingga pengawasan yang minim dari PT. Nindya Karya.
“Intinya semu akan kita panggil. Bangun jalan dengan anggaran besar, tapi dirusak dengan mudah. Bagaimanapun juga PT. Nindya Kraya dan pihak terkait lainnya harus bertanggung jawab,” tegasnya.
Dia mengatakan, sesuai dengan kesepakatan pengerjaan, bahwa setiap kerusakan yang terjadi harus diganti, misalnya jika bahu jalan dalam keadaan dirabat maka harus dirabat kembali. Demikian juga jika ada badan jalan yang hotmik ikut digali maka harus dikembalikan seperti semula.
“Sementara ini hanya dirabat dan bahkan masih ada yang berlubang,” protesnya.

Sementara, Pemerintah Kecamatan Praya Barat Daya mengaku tidak pernah menerima surat pemberitahuan terkait pengerjaan proyek SPAM Bedungan Pengga. Camat Prabarda, H.M. Rumetan pun mempersoalkan proyek besar ini. Dia menegaskan, sejauh ini pihaknya belum pernah bertemu dengan pihak kontraktor proyek pemasangan pipa air baku Pengga – KEK Mandalika, PT. Nindya Kraya, bahkan kendati saat ini tengah terjadi persoalan di bawah.

Camat mensiyalir pengerjaan SPAM ini belum mendapat izin, sehingga persoalan kerusakan jalan aspal dampak proyek ini dikeluhkan warga.
“Belum ada izin saat mualinya, jalan rusak masyarakat mengeluh,” ungkapnya pada Radar Mandalika, Rabu kemarin.
Camat menegaskan, banyaknya keluhan warga tidak hanya soal badan jalan yang rusak, namun juga masyarakat merasa khawatir dengan kondisi debit air di Bendungan Pengga akan disedot habis karen bersarnya pipa yang dipasang.
“Dengan besar pipa yang dipasang itu, dua hari saja air akan habis, ini menjadi kehawatiran warga,” tegasnya.
Camat mengakui, banyak warga yang mengantungkan mata pencaharian dengan menangkap ikan di bendungan tersebut, sehingga masyarakat membutuhkan informasi dan sosialisasi agar persoalan ini bisa terjawab.
Dia mengatakan, minimnya koordinasi ini sangat disayangkan pihak kecamatan, sebab menurutnya hanya mendapat imbas masalah dari proyek yang tengah dikerjakan tersebut.
Demikian juga dengan wacana pemanfaatan air untuk warga sekitar yakni sekitar 30 persen, informasi tersebut masih simpangsiur dan belum ada penjelasan pasti dari pihak penyelenggara program.

Camat mengatakan, mestinya dalam pelaksanaan proyek tersebut didahulukan sosialisasi kepada masyarakat sehingga ketika dipergunakan tidak akan menimbulkan masalah dan juga menganggu masyarakat.
“Pelaksanaan proyek mestinya jalani aturan, koordinasi tetap jalan, harus ada sinergitas. Jangan sampai ada masalah baru dipanggil,” keluhnya.(ndi)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *