LOBAR — Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Pemukiman (PUPR-KP) Lombok Barat (Lobar) cepat tanggap menjaga stabilitas pengairan untuk pertanian. Gotong royong massal Dinas PU di kawasan strategis Bendung Gebong serta Bangunan BJ 1, Kecamatan Narmada, Senin (11/5). Memastikan distribusi air ke lahan persawahan tetap berjalan lancar. Sebelumnya kendala teknis pada infrastruktur irigasi Sempat terjadi. Bendung Gebong memegang peranan vital pengairan yang berfungsi menaikkan muka air Sungai Babak untuk kemudian dialirkan ke Daerah Irigasi (DI) Gebong.

Aksi gotong royong itu tidak hanya dilakukan pihak Dinas PUPR-KP, tetapi sinergi dengan berbagai pihak di lapangan. Terlihat para pengamat pengairan, juru pengairan, petugas pintu air, hingga anggota Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dari empat kecamatan di Lombok Barat bahu-membahu membersihkan material yang menyumbat aliran sungai.

Kepala Dinas PUPR-KP Lobar, Lalu Ratnawi, menuturkan sebelumnya tumpukan kayu, sampah organik, serta sedimen lumpur yang dibawa oleh arus sungai pasca-banjir sempat menghambat debit air yang seharusnya masuk ke saluran primer.

“Tersumbatnya pintu air akibat tumpukan pohon dan lumpur bawaan banjir memang sempat membuat aliran air tidak maksimal, namun dengan aksi ini kita pastikan suplai kembali optimal,” ujar Lalu Ratnawi, Selasa (12/5).

Menurutnya, jika penanganan terlambat beresiko pada lahan produktif akan mengering. Berimbas pada jadwal masa tanam para petani. Kelancaran irigasi kunci utama mendukung produktivitas pertanian Lobar.

“Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi menyebabkan kekeringan pada lahan-lahan produktif di saat petani sangat membutuhkan pasokan air yang konsisten,” ungkapnya.

Berdasarkan data teknis, normalisasi di Bendung Gebong memberikan dampak luas. Aliran airnya melayani ribuan hektar lahan pertanian di tiga wilayah, Kecamatan Kediri, Kecamatan Gerung, dan Kecamatan Lembar. Ketiga kecamatan lumbung pangan.

Dinas PUPR-KP berkomitmen meningkatkan frekuensi pengawasan di titik-titik rawan sumbatan, terutama saat intensitas hujan tinggi yang menyebabkan debit sungai meningkat secara signifikan dan membawa material hanyutan.

“Kami akan terus berupaya bekerja secara maksimal agar kebutuhan air pertanian untuk ribuan hektar lahan di wilayah Kediri, Gerung, dan Lembar tetap terpenuhi dengan baik,” pungkasnya. (win)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *