KETERANGAN PERS: Kepala Dinas Pertanian H Sahri, didampingi Kabid Perkebunan dan Kabid PSP.

LOTIM – Beberapa pekan terakhir, hujan lebat tidak saja mengguyur Lombok Timur (Lotim). Tetapi juga merata di daerah lainnya. Akibat hujan lebat ini membuat petani tembakau harus siap-siap merugi. Setidaknya terdapat 4.245,23 hektare lahan tanam tembakau terkena dampak hujan.

Kepala Dinas Pertanian Lotim, H Sahri mengatakan, dari 4.245,23 hektare yang terkena dampak itu tersebar di delapan kecamatan. Diantaranya, Kecamatan Jerowaru seluas 3.788,03 hektare dari 4 ribu hektare lebih luas areal tanam, Kecamatan Suela 336,40 hektare, Keruak seluas 100 hektare, Sakra 0,30 hektare, Sikur 10,30 hektare, Sakra Barat 5 hektare, Selong 0,30 hektare, dan Wanasaba seluas 4,90 hektare. “Kami turut prihatin dengan kondisi yang dialami petani tembakau kita. Kami harap petani tembakau tetap bersabar, namanya musibah tidak bisa kita halangi,” katanya dalam keterangan pers di kantornya, kemarin (10/7).

Disebutkan, intensitas hujan yang tinggi mengakibatkan banyak tembakau petani layu dan bahkan mati. Sejak hujan lebat turun, tim dari Distan terus turun memantau perkembangan kondisi tembakau petani. Hasil pantauan, ada yang terkena dampak parah, ada yang sedang dan ada pula yang tanaman tembakaunya tidak terpengaruh sama sekali.

Mencegah kasus serupa terjadi lagi, pihaknya menyarankan petani memperbaiki saluran yang ada di areal persawahannya. Hal itu, menghindari masalah genangan air yang dapat mempengaruhi kondisi tembakau akibat hujan.

“Kami telah sarankan petani, melakukan penyemprotan dengan pestisida, agar tanaman tembakau terlindungi dari serangan jamur. Pasalnya, saat situasi lembab rawan serangan jamur,” imbuhnya.

Kaitan dengan kondisi saat ini setelah dilakukan analisa, lahan pertanian tembakau yang terdampak ini tidak lepas dari kurangnya memperhatikan teknis penanaman. Terutama, kurang memperhatikan pembuatan bedengan dan saluran. Sebab, lahan yang memiliki bedengan dan saluran baik, ditemukan tidak terkena dampak sama sekali.

Masih kata Sahri, tanaman tembakau yang sudah terdampak disarankan diberi pupuk guna memperbaiki pertumbuhan tanaman. Pupuk yang diberikan diakui bukan pupuk subsidi. Hal ini karena tanaman tembakau, tidak ada pupuk bersubsidi. “Ada juga lahan tembakau meski diguyur hujan justru lebih baik, karena saat hujan belum turun sangat harapkan air,” sebut Sahri.

“Jerowaru paling banyak terkena dampak, karena lahan persawahannya yang rendah,” sambungnya.

Untuk meringankan beban petani tembaku, Dinas Pertanian tetap mencari solusi. Kondisi di lapangan ini akan dibawa ke Kementerian Pertanian. Bagaimana pun tahun lalu, tenaga kerjanya diasuransikan, meski tembakaunya belum bisa diasuransikan.

Ia sendiri berharap, tembakau petani bisa diasuransikan, seperti asuransi tanaman pangan atau pun usaha ternak sapi dan kerbau. Hal itu, untuk meminimalisir angka kerugian diderita petani. “Kami sadar sesadar-sadarnya, terbatas dana jadi hanya berharap bantuan pusat,” pungkasnya. (fa’i/r3)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 424

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *