Dewan Rifa’i: Tiga Tahun Petani Tembakau Merugi

  • Bagikan
F tembakau
FOTO KHOTIM/RADARMANDALIKA.ID MERUGI: Dua petani tembakau ini sedang melakukan proses sortir dan pengepresan di gudang miliknya di Desa Kidang, Kecamatan Praya Timur, Senin sore lalu.

PRAYA – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lombok Tengah, Ahmad Rifa’I menyentil Pemkab. Dia menyebutkan, selama ini dilihat perhatian Pemkab ke petani tembakau kurang. Parahnya lagi, sudah tiga tahun belakang ini petani tembakau merugi khususnya di harga jual.
“Sejak tahun 2019 sampai dengan 2021 petani tembakau terus mengalami rugi, baik petani yang bermitra dengan perusahaan besar maupun yang dikelola mandiri,” ungkapnya kepada Radarmandalika.id, Rabu kemarin.
Anggota DPRD Dapil Kopang-Janapria ini mengatakan, selain harga tembakau yang anjlok yang diakibatkan cuaca menyebabkan kualitas tembakau kurang bagus.
Selain itu, adapun kendala lain soal air, kemudian pupuk yang langka dan mahal saat dibutuhkan petani jadi penyakit musiman. Belum lagi harga di gudang perusahan turun drastic.
“Perbandingan harga di tahun 2019 sampai dengan 2020, harga 1 kwintal tembakau kering bisa mencapai 4,5 juta sampai dengan 4,7 juta. Sekarang 1 kwintal 4,1 juta saja. Bahkan tembakau yang hitam dalam kategori jelek dihargakan 500 ribu,” bebernya.

Selain itu, rugi juga dirasakan bagi petani yang tidak bermitra, dimana dengan perbandingan harga petani mitra sekitar 4 juta per kwintal namun non mitra harus dibayarkan dengan 3 juta per kwintal.
“Yang di Lombok hanya perusahaan Bentole dan Djarum saja yang membeli dengan harga bagus,” ceritanya.(tim)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *