Dari Ritual Menolak Balak 44 Penghulu Gunung di Lombok Timur

F BOK 1

PKP SETDA LOTIM FOR RADAR MANDALIKA RITUAL : Para pemangku saat melakukan ritual menolak balak di berugak (gazebo) Keagungan, untuk mencegah dampak bencana di Gumi Selaparang.

Doa Bersama untuk Tangkal Dampak Bencana Alam Maupun Non Alam  

Banyak cara untuk bermunajat pada Tuhan. Tidak saja melalui tahlilan, wirid, melainkan juga melalui tradisi ritual. 

MUHAMAD RIFA’I – LOTIM

KABUPATEN Lombok Timur (Lotim), kaya dengan budaya. Banyak ritual setiap tahun dihelat masyarakat, dengan harapan memohon keselamatan, menolak balak dan lainnya. Beberapa ritual yang kerap terjadi di wilayah Lotim, mulai dari ritual Rebo Bontong di Pantai Menanga Baris, ritual Nyelamak Dilauk di Desa  Tanjung Luar Kecamatan Keruak, ritual adat Bale Beleq Baloq Imut di Desa Wakan Kecamatan Jerowaru, ritual Ngayu-ayu di Sembalun, dan temasuk ritual menolak balak dilakukan 44 penghulu Gunung di Desa smebalun Bilok Petung Sembalun, serta banyak lagi ritual lainnya. Ritual tersebut, merupakan wadah dengan berharap apa yang dihajatkan, dapat dikabulkan Allah SWT.

Senin (1/2) lalu, Lombok Mercusuar Sembalun, menggelar doa bersama menolak bala dengan tokoh agama, tokoh adat, tokoh budaya, dan seluruh elemen masyarakat. Termasuk, diikuti pemerintah daerah sampai provinsi, dan instansi lainnya. Yang tidak ketinggalan, para sesepuh Bilok Petung, 44 penghulu gunung, kiyai, pemangku dan toak lokak.

Para pihak yang mengikuti ritual itu, dilangsungkan di berugak (gazebo) Keagungan Bilok Petung. Wakil Bupati Lotim H Rumaksi SJ, juga ikut dalam ritual tersebut lengkap menggunakan baju ada sasak. Di sana, Rumaksi menyebutkan bahwa, ritual ini sebagai salah satu upaya meminimalisasi dampak berbagai bencana, baik alam maupun non alam.

Salah satu bencana Covid-19 yang tengah dihadapi saat ini kata Rumaksi mencontohkan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk penanggulangannya. Karenanya diharapkan melalui doa yang dipanjatkan bersama itu, dapat segera mengakhiri pandemi ini.

Dari ritual itu, Sekda NTB H Lalu Gita Ariadi, juga berharap lewat ritual ini, pandemi segera diangkat Tuhan. Ritual nyentulak desa ini, dikatakannya untuk melestarikan adat dan budaya gotong royong masyarakat sasak, sebagai wadah silaturahmi seluruh tokoh di pulau Lombok.

“Lewat doa bersama ini, untuk mencegah dampak bencana yang terjadi di Gumi Selaraparang ini,” kata Lalu Gita Ariadi, Sekda Lotim. (*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Abrasi di Mataram, Apa Solusinya ?

Read Next

Hak Interpelasi, DPRD Waktu Itu Hanya Gertak Sambal

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *