WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA SEPI: Beginilah kondisi Pasar Seni (Art Market) Senggigi. Terpantau hanya beberapa Art Shop yang buka, Selasa (28/6).

Minim Perhatian, Kejayaan Telah Berlalu

 

 

 

Pasar Seni Senggigi (Art Market) yang dulu menjadi adalan daerah sekarang justru kurang diperhatikan pemerintah daerah. Berbagai cobaan terus menerpa para pedangan di sana.

 

 

WINDY DHARMA-LOMBOK BARAT

 

 

MAHAYUDIN sedang asik berbincang dengan temannya sesama pedangan. Pagi itu, Sama seperti hari-hari sebelumnya, suasana Pasar Seni (Art Market) Senggigi terlihat sepi. Sejumlah kerajianan hingga souvenir terjajakan di art shop yang masih dibuka di pasar itu. Namun terdapat beberapa rolling door art shop yang masih tertutup walaupun matahari sudah mulai sejajar dengan kepala. Sesekali terlihat pedagang yang sedang menyapu halaman art shop di pasar itu. Hingga pukul menujukan 12.00 wita, hanya satu dua turis berkulit putih yang singah sejenak dan pergi begitu saja.

 

Senyum masih bisa diperlihatkan para pedangan dilokasi itu. Meski kejayaan Pasar Seni di atas era 90’an dahulu, kini hanya bisa dikenang. Saat ditemui Radar Mandalika, para pedangan itu tetap ramah menyapa. Kondisi perekonomian begitu sulit dihadapi para pedangan itu. Para pedangan itu tak sungkan menceritakan kondisi yang tengah dihadapi saat ini.

“Terus Berjuang” hanya itu keyakinan yang masih dipegang terus oleh sejumlah pedangan itu. Bagaimana tidak, berbagai cobaan, mulai dari bencana alam Gempa Bumi, hingga bencanaa non alam covid-19 terus menerpa usaha para pedangan itu. Keteguhan agar asap dapur terus mengepul membuat para pedangan itu tak ingin menyerah dengan keadaan.

 

“Kalau sekarang ada lah pengunjungnya satu dua, ndak kayak saat covid itu mati total (ndak ada yang datang). Mudah-mudahan kedapan ini ada event dan tamu ramai,” ujar Mahyudin, Selasa (28/6).

 

Secerca harapan mulai dirasakan para pedangan itu ketika event MotoGP Maret lalu. Namun tak berlangsung lama. Selepas event itu, tamu yang sempat ramai kini kembali sepi datang berbelanja. Sehari saja diakui pria yang dianggap pak RT oleh para pedangan itu, mereka hanya cukup untuk makan. Bahkan terkadang selama seminggu tak ada sepeserpun diperoleh.

 

“Kadang justru ndak ada sama sekali, tapi alhamdulillah kebersamaan pedangan disini begitu erat kekeluarganya, kalau ada yang barangnya dibeli, kadang dibeli makanan untuk bersama dimakan,” bebernya.

 

High Season yang sebentar lagi tiba pun tengah ditunggu. Karena disaat itu tamu akan datang ke pasar seni itu, meski tak ramai. Apalagi ketika ada kunjungan wisatawan kapal pesiar dari pelabuhan Gili Mas singgah ke pasar itu. Akan sangat dirasakan dampaknya untuk perekonomian mereka.

 

“Insya Allah Juli-Agustus biasanya (High Season) kita lihat, kalau jumlah tamunya segitu-segitu aja yang datang, berarti belum banyak perubahan kondisi covid ini,” ujarnya.

 

Diakuinya kini hanya sekitar 50 persen art shop yang buka. Itupun yang menjaganya bisa satu orang untuk dua sampai tiga art shop. Pandemi membuat beberapa pedangan mengalihkan art shopnya kepada pedangan yang lain. Ataupun baru akan buka ketika ramai kunjungan.

 

“Kalau ramai bisa 75 persen yang buka,” katanya.

 

Selain karena pandemi selama dua tahun, terlihat juga kondisi pasar seni itu yang kurang terurus pemerintah daerah. Terutama Pemerintah Provinsi selalu pemilik aset lahan pasar seni itu. Sebab panggung seni yang berada di tengah pasar itu tak lagi terpakai. Kalaupun ada event itupun yang digelar Pemkab Lobar event pesona Senggigi namun jarang di lokasi pasar seni.

 

Ia masih mengingat kejayaan pasar seni ini ketika diresmikan 1994. Cukup banyak event tradisional digelar pada 1996. Berbagai kesenian yang berasal dari kabupaten kota lain di Lombok pentas di pasar seni itu. Selepas itu kunjungan begitu ramai sampai akhir memasuki tahun 2000’an kunjungan menurun. Begitu juga dengan event ataupun hiburan yang tak pernah lagi tampil.

 

Pihaknya kini hanya berharap adanya perhatian pemerintah untuk promosi pasar seni itu agar kembali ramai didatangi tamu. Sebab selama ini mereka harus berjuang sendiri. Belum lagi persaingan dengan pusat oleh-oleh modern yang mulai ramai munjul disepanjang jalan raya Batulayar-Senggigi. Bahkan para agent travel lebih memilih membawa tamu mereka ke pusat oleh-oleh modern itu dari pada pasar seni. Meski para agent travel itu tahu perbandingan harga lebih murah di pasar seni dari para pusat oleh-oleh. Namun diduga karena tingginya komisi yang diperoleh para travel itu dari pihak toko pusat oleh-oleh itu yang membuat mereka tatap membawa tamu ke sana.

 

“Kita kalah persaingan, bagilah juga ke sini. Kami hanya kebagian tamu pejalan kaki yang mau mampir. Kita harap pemerintah hadir, perhatikan kami,” cetuk pedangan lainnya.

 

Saat ditanya kabar pemkab Lobar yang ingin meminta aset itu ke pemprov NTB untun dikelola, pria yang sudah lama menjadi pedangan itu mengaku sempat mendengarnya. Namun hingga kini belum terealisasi. Ia menduga karena kontrak pihak PT Rajawali yang bekerjasama dengan Pemprov NTB mengelola pasar seni itu masih ada hingga 2024 menjadi alasanya. Meski demikian siapapun nantinya yang mengambil alih aset itu, para pedangan itu kembali mengharapkan untuk menata kembali pasar seni itu. Termasuk berbagai event yang digelar di pasar itu. Terlebih cukup banyak pedangan yang berasal dari warga Lombok Barat yang mengantungkan nasibnya di pasar seni itu.

 

“Siapapun nantinya, kami sangat berharap kami diperhatikan,” pungkasnya.(*)

 

 

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *