Cerita Para Imam Masjid di Pulau Lombok (11)

  • Bagikan
F Bok 4
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA TGH Abdul Mu’min

S2 di Universitas Ummul Quro Makkah, Berhasil Dirikan Ponpes

 

Menjadi imam masjid bukan perkara mudah. Harus benar-benar paham rukun dan tumakninah, termasuk memahami mana yang membatalkan dan tidak. Seperti apa, berikut penuturan TGH. Abdul Mu’min.

MUH. RIFA’I – LOMBOK TIMUR

TGH Abdul Mu’min lahir di Dusun Banjar Manis Desa Bintang Rinjani, Kecamatan Suralaga Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Dia dilahirkan bukan dari keluarga berada, akan tetapi dari keluarga yang kehidupannya sangat sederhana. Tapi tekadnya yang kuat mengantarkannya menjadi tokoh agama yang memiliki pengaruh di Lotim.
Diketahui, selepasnya mengenyam pendidikan Menengah Atas (MA), ia pun melanjutkan pendidikan Strata Satu (S1) di Universitas Muhammad Ibnu Suud Lipia, Jakarta. Perguruan tinggi modern itu tempatnya banyak belajar ilmu agama.
Sepulang pulang dari ibu kota, kemampuannya dibidang agama mulai dilirik masyarakat dusun setempat. Sesekali diminta menjadi imam salat berjamaah di desa itu. Kadangkala diwaktu luangnya, memimpin murojaah dikalangan teman-temannya. Sembari menambah dan mengulang hafalan Alqurannya.

Sementara, tahun 2002 ia pun selesai mengenyam pendidikan S1. Beberapa tahun kemudian, dengan modal kemampuan bahasa arab, membaca kitab kuning dan modal menghafal Alquran, semangatnya dimantabkan lagi melanjutkan pendidikan Pascasarjana (S2) ke luar negeri, yakni di Universitas Ummul Quro Tanah Suci Makkah. Kesempatan itu pula dimanfaatkan menunaikan ibadah haji.
Ilmu agama dan hafalan Alquran selama di tanah Suci Makkah terus diperdalam selama beberapa tahun. Sampai kemudian pada tahun 2012, berhasil menuntaskan pascasarjana. Ia pun pulang ke kampung halaman, mengembangkan ilmu yang diperolehnya selama belajar di tanah Suci Makkah.
Undangan ceramah mulai diterima dari berbagai wilayah. Baik itu diwilayah Kecamatan Suralaga, Sambelia, Sembalun dan beberapa wilayah lainnya di luar Lotim. Selain memenuhi pengajian diberbagai majelis taklim, ia pun mendirikan Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam Banjar manis pendidikan formal, mulai dari Sekolah Dasar Islam (SDI) terpadu, sampai SMA Islam Terpadu. Termasuk pula mengelola pendidikan non formal. Santri yang digembleng di madrasah itu, jumlahnya ratusan, karena sebagian besar diantaranya tinggal di asrama yang telah disiapkan.
Disela-sela kesibukannya menjadi seorang penceramah, ketika sedang berada di Ponpes, berusaha meluangkan waktu menjadi imam salat berjamaah para santri, sekaligus meluangkan waktu menyimak hafalan Alquran para santri.
Ia juga aktif menjadi khatib dan imam salat jumat di sejumlah tempat. Apalagi dibulan suci ramadan seperti sekarang ini, dia menjadi imam salat tarawih ditengah-tengah santrinya. Dan juga, menjadi imam salat tarawih dibanyak tempat.
Kepada Radar Mandalika secara umum mengatakan, menjadi imam salat, bukanlah sebuah tugas ringan. Karena memang, imam salat memiliki tanggungjawab besar, karena jika terjadi kesalahan saat menjadi imam, maka akan menanggung beban makmum juga.
Beberapa masjid tempatnya biasa menjadi imam salat, mulai dari Masjid Raya Selong, Masjid Al Islah Polres Lotim, Masjid Subulussalam Pancor Selong, Masjid di Desa Apitaik Pringgabaya, masjid besar desa Pringgasela, masjid besar desa Kedondong Pringgasela, Masjit Attaubah Sembalun Lawang, Masjid besar desa Penakak Masbagik, Masjid besar Desa Suralaga dan banyak lagi masjid-masjid lainnya.
“Mendapat kepercayaan masyarakat menjadi imam salat itu sejak tahun 2000-an sampai sekarang,” tutur TGH Abdul Mu’min. (bersambung)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *