Cara Desa Sekotong Tengah Berkontestasi di Lomba Kampung Sehat NTB

F BOK HALAMAN SATU

IST/RADAR MANDALIKA INOVASI: Pintu masuk kawasan Ekowisata Mangrove Pantai Tanjung Batu sebagai kawasan konservasi mangrove dan destinasi wisata, di Desa Sekotong Tengah Kecamatan Sekotong.

Tonjolkan Tujuh Inovasi Untuk jadi Juara

Desa Sekotong Tengah, Kecamatan Sekotong merupakan salah satu desa yang mewakili Kabupaten Lombok Barat (Lobar) di lomba kampung sehat tingkat Provinsi NTB. Lantas apa saja gerakan desa ini agar bisa memangka lomba itu ?

WINDY DHARMA-LOMBOK BARAT

SUDAH Hampir 4 bulan lamanya warga Desa Sekotong Tengah Kecamatan Sekotong  begitu bersemangat. Tak hanya dari kalangan muda saja namun para orang tua terlihat sehat. Terlebih sejak beberapa pekan lalu, Desa itu ditetapkan sebagai salah satu peserta lomba kampung sehat tingkat NTB perwakilan Lobar.

Tak ayal, desa itu terus melakukan terobosan dalam berbagai bidang demi bisa memenangkan lomba yang diinisiasi Polda NTB itu. Mulai dari kelembagaan,bkesehatan, ekonomi dan keamanan terus dibenahi. Maklum sebagai salah satu juara kampung sehat tingat kabupaten Lobar. Predikat kampung sehat tetap harus di sandang oleh desa tertua di Kecamatan Sekotong ini.  Kepala Desa Sekotong Tengah, L Sarappudin mengatakan bahwa berbagai inovasi telah dilakukan di desa.

“Sebenarnya yang kami lakukan pada lomba kampung sehat ini merupakan tugas yang sehari hari kami lakukan di desa. Bukan hanya pada saat lomba saja,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama,Sekretaris Desa Sekotong Tengah,Muhamad Rasid menyebutkan terdapat tujuh inovasi Desa Sekotong Tengah yang akan di tonjolkan pada lomba kampung sehat tingkat provinsi NTB.

Mulai dari Ekowisata Mangrove Pantai Tanjung Batu, Produk minuman kesehatan/serbat, Radio Komunitas Ampera FM sebagai radio darurat covid 19, beserta Kelompok Tanaman Obat Keluarga (Toga).

“Toga ini yang sudah meraih juara di tingkat nasional,” teranv Rasid.

Lebih jauh,Ketua KIM Sekotong ini kembali menyebutkan inovasi di bidang kelembagaan. Seperti lembaga desa yang khusus dan terpadu dalam penanganan bencana. Mengingat desa itu menjadi daerah rawan bencana.

“Sejak tahun 2017 telah terbentuk dan di latih beberapa lembaga desa di bidang kebencanaan.

Ada Relawan Sibat (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat),Relawan Destana (Desa Tangguh Bencana) dan Kampung Siaga Bencana (KSB) yang memiliki tupoksi berbeda beda tetapi menyatu ketika terjadi suatu bencana di desa,”jelasnya.

Berdasarkan 4 bidang penilaian pada lomba kampung sehat,Desa Sekotong Tengah memiliki beberapa inovasi yaitu. Pertama lembaga-lembaga khusus pada penanganan bencana. seperti Sibat, Destana, KSB dan Satgas Covid 19. Kemudian lanjut pada yang ke dua Ekowisata Mangrove Pantai Tanjung Batu sebagai kawasan konservasi mangrove dan destinasi wisata. ke tiga Taman Bermain anak dalam upaya menciptakan desa layak anak dan pencegahan perkawinan usia anak. selanjutanya ke empat Kelompok Asuhan Mandiri Tanaman Obat Keluarga dengan produk serbat yang pernah juara hingga tingkat nasional.

“Harus Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dengan 7 unit usaha, Kandang Kumpul untuk menciptakan kebersihan lingkungan dan kamtibmas. dan Lembaga adat krame dese atau bale mediasi untuk mendorong penyelesaian persoalan warga dengan mengedepankan kearifan lokal,” pungkasnya.

Sementara itu dalam meningkatkan perekonomian Desa Sekotong Tengah, dan memaksimalkan Potensi yang dimilikinya sepert i Hutan Bakau. Pengembangan Budidaya Kepiting Bakau mulai terpikirkan.

Kapolsek Sekotong Iptu Ikadek Sumerta, mengatakan Desa Sekotong tengah menurunkan LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) Desa Sekotong Tengah.

“Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Sekotong Tengah telah memasuki hari kedua, melaksanakan penataan lokasi budidaya kepiting bakau oleh Masyarakat Aik Tangi,” ungkapnya.

Ia mengatakan tujuan dari penataan lokasi budidaya kepiting bakau ini adalah untuk meningkatkan pendapatan masyarakat Desa Sekotong Tengah. Ini dinilai sangat berpotensi untuk memajukan perekonomian Masyarakat Desa Sekotong Tengah.

“Melalui budidaya kepiting bakau, dengan memperkenalkan teknik budidaya yang ramah lingkungan, namun dapat menghasilkan nilai tambah dari segi peningkatan ekonomi keluarga. Potensi Bakau di Dewasa sekotong tengah dimanfaatkan melalui budidaya kepiting bakau, selain wisata bakaunya yang sudah dikenal masyarakat,” imbuhnya.

Kegiatan oleh LPM Desa Sekotong Tengah ini dilaksanakan dengan menggunakan beberapa metoda pendekatan yaitu memberikan pemahaman kepada masyarakat yang dilaksanakan dalam bentuk FGD (Focus Group Discussion).

Diharapkan, ini berdampak kepada peningkatan pendapatan rumah tangga melalui penambahan nilai terhadap hasil tangkapan. (*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Merger PD BPR NTB Tidak Jelas

Read Next

Mantan Kades Dukungan PAS

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *