Berbagi Cerita dengan Nurhayati, Kasek MA Mu’alimat NW Pancor

F Bok 7

FENDI/RADARMANDALIKA.ID Nurhayati, Q.H, S.S

Hebat di Bahasa Inggris,  Pilihan Orang Tua Lebih Tepat

Nurhayati tidak pernah terlintas di kepalanya akan menjadi pendidik bidang ilmu agama. Tapi dia sekarang dipercaya menjadi kepala sekolah (Kasek) MA Mu’alimat NW Pancor, Lombok Timur.

FENDI-LOMBOK TIMUR

GURU kelahiran Korleko, 31 Desember 1971 ini sejak masa sekolah memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang bagus, sehingga saat itu ia berkeinginan melanjutkan studi bahasa inggris di Universitas Mataram (Unram).

Namun sayang, dirinya yang lulusan SDN 1 Korleko Kecamatan Labuhan Haji, Kemudian jenjang SLTP di SMPN 3 Selong, dan SLTA di MA NW Korleko tersebut harus mengikuti keinginan orang tua untuk sekolah di Pancor.

“Bapak saya kepinggin melanjutkan kuliah bahasa inggris,” bebernya.

Kepada dia, orang tua menyampaikan. “Kenapa pergi jauh- jauh sekolah cukup aja di mahad, jadi mahadah,” katanya menceritakan permintaan orang tua.

 “Bapak orang yang sekolah di mahad orang yang jago kitab kuning,” sambungnya.

Namun pendirian orang tua yang sudah kokoh, bahkan dia meminta temannya untuk membujuk ayahnya namun sang ayah tetap tidak goyah dari keputusan awal. Dengan niat mulia untuk menimba ilmu dan membahagiakan orang tua dirinya memutuskan untuk mahad.

“Saya tidak bisa pakai kain panjang, saya minta tolong temen saya. Saya bilang sama teman saya, Aisyah minta tolong pakaikan saya kain,” ceritanya pada wartawan Radarmandalika.id, Selasa (17/11).

Katanya, saat masuk mahad dirinya merasa seperti orang yang sangat bodoh dan tidak tahu apa- apa, dibandingkan dengan teman lainnya.

“Ketika di mahad bapak Maulana Syekh Muhammad Zainuddin Abdul Majid saat itu, Ya Allah ya robbi seperti beliau hanya melihat diri saya, tatapan saya seperti beradu sama beliau, air mata saya membasahi jilbab saya, sambil berbisik dalam hati syukur bapak saya menyekolahkan saya ke mahad,” ungkapnya.

Dia baru sadar alasan babak memintanya masuk mahad, tangisan melihat sang guru tidak serta merta membuat dirinya menjadi orang yang pintar dan paham pelajaran mahad. Dirinya terus berusaha untuk belajar dengan modal petuah dari sang guru.

“Mahadah kalau suka sama temennya yang pintar, ndak ada rasa iri kita, tidak ada rasa dengki terhadapnya, kalau kita suka sama temen yang pintar pasti Allah memberikan kepintaran seperti apa yang dimiliki teman kita,” nasihat sang guru kepadanya.

Modal inilah yang dia bawa dan termotivasi untuk selalu lapang dada dan berhati penyabar serta selalu bersyukur atas apa yang dialaminya.

Dengan niat untuk memahami ilmu agama dengan baik dan motivasi untuk membahagiakan kedua orang tua, dirinya yang lemah bersimpuh meminta pertolongan sang maha pencipta Allah SWT.

“Saya bangun tengah malam, saya tahajjud saya minta kepada tuhan sambil menangis berikan saya paham ilmu nahwu untuk membuktikan perkataan teman saya,” ucapnya.

Karena keterbelakangan dirinya berusaha keras untuk belajar dan membiasakan mengulangi pelajaran yang telah diberikan oleh masyaikh maupun teman mahadnya.

Dengan perjuangan dan pembiasaan belajar tersebut dirinya akhirnya lulus mahadah dengan predikat yang memuaskan, masuk sebagai nominasi sepuluh besar di angkatannya.

Berbekal pemahaman nahwu dan syaraf pada masa mahdah, ia akhirnya kuliah mengambil studi sastra arab di Universitas Nahdatul Wathan Mataram.

Perjalanan karir sebagai pendidik dia lalui mulai dari setelah lulus mahadah, pada waktu itu tahun 1994 dia mulai mengajar Nahwu dan syaraf, kemudian mengajar bahasa Arab, dan juga pernah mengajar Ta’lim Mutaalim. Akhirnya pada tahun 2019 dirinya menjabat sebagai kepala sekolah MA Mu’alimat NW Pancor sampai sekarang.

Untuk memacu prestasi sekolah dirinya terus mengaktifkan ekstrakulikuler sekolah seperti Tahfiz, Tilawah, PMR, Pramuka, dan juga Silat. Berkat pembinaan tesebut, siswinya banyak yang mendapat juara di tingkat nasional maupun internasional seperti, Juara Favorite Jambore Nasional Generasi Hijau di Malang, Juara Favorit Kemah Bela Negara di Kalimantan, Juara 3 internasional pencak silat camp di Bali, juga prestasi- prestasi lainnya.

Nahkodai MA Mualimat dirinya akan terus berupaya untuk meningkatkan daya saing sekolah dengan pembiasaan belajar yang islami sesuai dengan visi sekolah Membudayaakan bacaan al- quran dan menciptakan santri wati yang hafizoh. (*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Gaji GTT Direncanakan Naik 200-500 Ribu

Read Next

Satgas Covid-19 Ngaku Tidak Dilibatkan di Debat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *