Bawaslu Lombok Tengah Diduga “Masuk Angin”

F AAA Hearing LSM

KHOTIM/RADAR MANDALIKA DEMO: Gabungan LSM di Loteng saat menyampaikan tuntutannya di hadapan Ketua Bawaslu, Abdul Hanan, kemarin.

PRAYA — Massa aksi yang tergabung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lombok Tengah (Loteng) melakukan aksi demo ke kantor Bawaslu, kemarin.

Aksi ini dilakukan, sebagai bentuk protes atas dugaan tebang pilihnya Bawaslu dalam melakukan penindakan terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) yang diduga terlibat politik praktis.

Seperti penanganan terhadap kasus empat ASN yang merupakan kepala dinas yang jelas-jelas berpose salam empat jari di media sosial. Hingga sekarang penangananya tidak jelas. Kasusnya sudah dihentikan karena alasan tidak memenuhi syarat.

Berbeda dengan kasus melilit Ketua PGRI Kecamatan Pujut, H Jempol. Kasusnya “dikebut” dan sekarang sudah dinaikan ke Gakumdu, karena menurut Bawaslu ada unsur pidananya.

Kordum aksi, Bustomi Taefuri  mengatakan, pihaknya melakukan aksi demontransi ini karena pihaknya sebagai masyarakat melihat ada perlakuan tidak adil yang dilakukan Bawaslu kepada salah seorang guru SD yang bertugas di wilayah Pujut.

  “Coba bayangkan, apa bedanya kasus guru ini dengan empat ASN yang salam empat jari itu.   Kenapa malah guru ini yang kasusnya naik. Sedangkan empat ASN yang merupakan kadis tidak ditindak sama,” katanya dengan tegas, kemarin.

Omik menegaskan, pihaknya mendorong Bawaslu agar melakukan penanganan yang sama.  Artinya,empat kadis yang jelas —jelas melanggar netralitas harus juga  diberikan tidakan yang sama dengan guru ini. 

“Jika tidak, ada perlakuan kesewenang- wenangan dan ada diskrminatif yang dilakukan oleh Bawaslu,” tegasnya.

Senada disampaikan Ketua LSM Formapi NTB, Ikhsan Ramdhani. Ia menegaskan, bahwa ada tebang pilih dalam penegakan hukum yang dilakukan oleh Bawaslu. Pasalnya banyak pejabat yang jelas- jelas terlibat politik praktis tapi tidak ditindak.

 “ Tebang pilih jelas terlihat, karena ASN ada peluang untuk pidana tapi tidak ditindak. Ini ada guru didorong dan empat pejabat atau ASN tidak,” jelasnya.

Dengan apa yang dilakukan oleh Bawaslu ini, pihaknya sebagai masyarakat patut mencurigai bahwa Bawaslu “masuk angin”. Karena jelas empat Kadis itu melanggar netralitas dengan melakukan poto salam empat jari, namun tidak diberikan tindakan sesuai dengan aturan yang ada.

 “Saya mendorong Bawaslu untuk memproses empat kadis ini juga.  Karena sudah jelas mereka melanggar netralitas dalam Pilkada ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Baiq Ningrum menegaskan, Bawaslu bukan lagi sebagai penyelenggara tapi tapi “iblis demokrasi”, tebang pilih yang dilakukan sangat menciderai pesta demokerasi saat ini.

“Harusnya kalian jujur dan adil karena kalian adalah penyelenggara. Apa bedanya dengan ASN lain yang melakukan pelanggaran tapi kenapa hanya seorang guru yang diperoses ke ranah hukum,” tegasnya.

Ditambahkan, Apriadi Abdi jika memang alasan Bawaslu proses penanganan empat Kadis tidak memenuhi syarat, karena kekurangan saksi dan lokusnya di Lotim, pihaknya telah memutuskan hari ini (kemarin,Red) akan melaporkan kembali empat kadis tersebut.  Pihaknya harapkan agar Bawaslu untuk melakukan penanganan dengan serius.

“Lihat saja buktinya hingga sekarang foto empat kadis itu masih beredar di media sosial. Apa ini tidak melanggar netralitas,” Tanya dia.

Sementara, Ketua Bawaslu Loteng, Abdul Hanan menegaskan, kasus sebelumnya yakni empat ASN sudah diperoses . Bahkan, pihaknya sudah memanggil empat ASN tersebut untuk dimintai keterangan.  Hanya saja, setelah digelar di Gakumdu, kasus itu tidak memenuhi unsur dinaikan, karena memang tidak memenuhi syarat.  Berbeda dengan kasus guru ini, Gakumdu menyimpulkan terhadap bisa naik ke tahap penyidikan.

 “Kasus di Sembalun yang pose empat jari oleh ASN ketika kami dalami dan bahas dengan Gakumdu memang tidak dapat naik di penyidikan, karena tidak cukup bukti,” jelasnya. (tim/jay)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Cerita Guru Honorer Asal Lombok Timur

Read Next

Kadus Powen Akan Gugat Kades Batujai

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *