IST/RADAR MANDALIKA BELAJAR: Salah satu sekolah saat menggelar kegiatan belajar mengajar di dalam ruangan.

KLU- Dinas Dikbudpora Kabupaten Lombok Utara (KLU) tidak menampik masih tingginya angka putus sekolah di daerah itu. Ia menilai ada sejumlah faktor yang memicu terjadi persoalan di dunia pendidikan itu.

Kepala Dikbudpora Lombok Utara, Adenan menilai angka putus sekolah disebabkan banyak faktor. Di antaranya faktor ekonomi, pernikahan dini, hingga tingkat kesadaran masyarakat akan pendidikan yang masih rendah.

“Ini kembali lagi kepada psikologis masing-masing orang sebetulnya,” beber Adenan.

Contoh temuan putus sekolah akibat faktor ekonomi, siswa mendapatkan bantuan dari PKH senilai Rp 1,6 juta. Uang tersebut, kata Adenan, justru digunakan untuk membeli sepeda dan sisanya dihabiskan orangtuanya. Tak lama kemudian, siswa tersebut keluar sekolah dan memutuskan merantau ke Bali.

“Contohnya ada di dekat rumah saya. Ini membuat angka putus sekolah bertambah,” bebernya.

Selain itu, pernikahan dini juga berkontribusi dalam peningkatan angka putus sekolah. Seperti yang diketahui, angka pernikahan dini di KLU masih tinggi hingga saat ini.

“Ini berujung ke peningkatan angka stunting,” katanya.

Mengatasi persoalan ini, Dikbudpora KLU, kata Adenan, tengah menggalakkan gerakan Saber DO (drop out, red) yang menjadi salah satu program prioritas pemerintahan sebelumnya yang dinilai ini cukup efektif untuk menekan angka putus sekolah.

“Perhatian kita pada ekolah SD dan SMP yang memang  masih ada angka putus sekolah, kalau SMA menjadi ranah provinsi,” ujarnya.

Ia menerangkan melalui gerakan Saber DO ini, Pemerintah KLU mencari masyarakat putus sekolah supaya mengikuti pendidikan kesetaraan paket A, B dan C.

Gerakan ini dilakukan agar masyarakat putus sekolah bisa memiliki hak sipil seperti yang lainnya. Di dalam gerakan ini, Adenan mengatakan pihaknya melibatkan kepala dusun hingga ketua RT di tiap desa.

“Makanya pemerintah juga harus tegas, jika ada yang mau keluar sekolah, tidak perlu berikan PKH. Biar mereka tetap sekolah,” jelasnya.

Adenan menambahkan, meski angka putus sekolah masih tinggi, namun kondisi pendidikan KLU saat ini masih cuku baik dari sebelumnya, dulunya banyak sekolah yang harus mencari siswa yang mau bersekolah. Namun saat ini, kesadaran sudah mulai terbangun.

“Tapi jika dibandingkan dulu sama saat ini, pendidikan kita jauh perubahannya, lebih baik,” cetusnya. (dhe)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 462

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *