Oleh: Abdus Syukur
MEDIA massa lokal sedang menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Di satu sisi, media dituntut tetap menjalankan fungsi jurnalistik sebagai pilar demokrasi. Di sisi lain, biaya operasional terus berjalan. Gaji wartawan, server, perangkat kerja, transportasi liputan, produksi video hingga pengelolaan media sosial.
Persoalannya, tidak sedikit media lokal yang masih menggantungkan kelangsungan hidupnya pada belanja publik. Terutama kerja sama publikasi dan berbagai bentuk kegiatan komunikasi pemerintah.
Ketergantungan semacam ini mungkin terasa nyaman dalam jangka pendek. Namun dalam perspektif bisnis, kondisi tersebut menyimpan risiko besar.
Ketika anggaran pemerintah berubah, kebijakan komunikasi bergeser atau prioritas belanja daerah dipangkas, pendapatan media ikut terguncang.
Karena itu, sudah waktunya media lokal melihat persoalan ini bukan hanya sebagai persoalan jurnalistik. Tetapi juga sebagai persoalan ekonomi dan keberlanjutan bisnis.
Kesalahan terbesar pengelola media mungkin adalah menganggap produk media hanya berupa berita.
Padahal, sebuah perusahaan media memiliki banyak aset yang bisa dikembangkan menjadi sumber pendapatan.
Ada wartawan yang memiliki kemampuan menulis. Ada fotografer dan videografer. Ada editor, desainer, pengelola media sosial, website, jaringan narasumber dan yang paling penting. Audiens. Semua itu memiliki nilai ekonomi.
Karena itu, media seharusnya tidak hanya menjual ruang iklan atau berita advertorial. Media dapat mengembangkan berbagai produk turunan dari kemampuan yang selama ini sudah dimiliki. Salah satunya adalah membangun digital content agency.
Media dapat menawarkan jasa pengelolaan media sosial perusahaan, produksi video promosi, fotografi, artikel SEO, company profile, dokumentasi kegiatan, live streaming hingga pengelolaan komunikasi digital.
Misalnya, sebuah media memiliki sepuluh klien perusahaan dengan paket layanan rata-rata Rp 3 juta per bulan. Potensinya sudah mencapai Rp 30 juta per bulan.
Angka tersebut tentu bukan jaminan, tetapi memberikan gambaran bahwa kemampuan produksi konten yang selama ini digunakan untuk kepentingan redaksi sebenarnya dapat dikembangkan menjadi lini bisnis.
Dari Berita Menjadi Event
Peluang lain yang sangat dekat dengan dunia media adalah penyelenggaraan event. Media memiliki kemampuan mengumpulkan orang, mengelola informasi dan membangun perhatian publik.
Kemampuan tersebut dapat diterjemahkan menjadi kegiatan seperti economic forum, tourism award, UMKM award, digital entrepreneur award, diskusi publik, seminar, pelatihan jurnalistik maupun business gathering.
Pendapatan tidak harus berasal dari pemerintah.
Sponsor swasta, perusahaan, perbankan, hotel, pelaku UMKM, perguruan tinggi hingga komunitas dapat menjadi bagian dari ekosistem event.
Dengan model ini, media tidak hanya menjadi pihak yang memberitakan kegiatan orang lain, tetapi juga mampu menciptakan kegiatan sendiri.
Wartawan Juga Memiliki Kompetensi yang Bisa Dijual
Perubahan teknologi membuat kebutuhan terhadap kemampuan komunikasi semakin besar. Perusahaan, organisasi dan lembaga pendidikan membutuhkan orang yang mampu menulis, membuat video, mengelola media sosial dan memahami bagaimana sebuah informasi dikonsumsi publik. Di sinilah media dapat membangun media academy.
Pelatihannya bisa meliputi jurnalistik digital, SEO, fotografi, videografi, public speaking, media handling, crisis communication, penulisan press release hingga pemanfaatan kecerdasan buatan untuk produksi konten. Dengan demikian, kompetensi yang selama ini menjadi modal profesi wartawan dapat dikembangkan menjadi produk pendidikan dan pelatihan.
Membentuk Komunitas Pembaca
Media juga perlu mulai melihat pembaca bukan sekadar angka traffic. Pembaca adalah komunitas. Komunitas tersebut dapat dikembangkan melalui membership. Misalnya dibuat program Sahabat Media, dengan iuran Rp 25 ribu per bulan atau Rp 250 ribu per tahun.
Anggota dapat memperoleh newsletter khusus, forum diskusi, akses event tertentu, laporan khusus, merchandise atau berbagai manfaat dari mitra media. Seribu anggota dengan iuran Rp 25 ribu per bulan secara matematis menghasilkan Rp 25 juta per bulan.
Tentu membangun 1.000 anggota bukan pekerjaan mudah. Namun model ini menunjukkan bahwa keberlangsungan media tidak selalu harus bergantung pada iklan atau anggaran pemerintah.
Data Lokal Juga Bernilai Ekonomi
Media lokal memiliki keunggulan yang sulit dimiliki perusahaan dari luar daerah. Kedekatan dengan realitas lokal. Media mengetahui isu ekonomi daerah, perkembangan pariwisata, aktivitas UMKM, harga hotel, konektivitas transportasi, tren investasi hingga perubahan perilaku masyarakat. Informasi tersebut dapat diolah menjadi laporan dan riset.
Misalnya, media dapat menerbitkan Laporan Ekonomi NTB, Tourism Business Report, UMKM Outlook atau laporan tren ekonomi daerah. Produk semacam ini dapat ditawarkan kepada perusahaan, investor, akademisi maupun organisasi yang membutuhkan informasi lokal. Artinya, berita yang dikumpulkan setiap hari sebenarnya dapat dikembangkan menjadi aset data.
Diversifikasi Adalah Kunci
Tidak ada satu model bisnis yang mampu menjamin media bertahan selamanya. Karena itu, kuncinya adalah diversifikasi. Media idealnya memiliki beberapa sumber pendapatan. Iklan, kerja sama komersial, content agency, event, membership, pelatihan, sponsorship hingga produk data.
Google News Initiative juga mendorong penerbit untuk melakukan diversifikasi pendapatan melalui berbagai model, termasuk iklan, membership, event, branded content, pelatihan dan layanan lainnya.
Dalam konteks media lokal, diversifikasi bukan sekadar strategi bisnis. Ini juga berkaitan dengan independensi jurnalistik. Semakin banyak sumber pendapatan yang dimiliki media, semakin kecil ketergantungannya kepada satu sumber dana.
Jangan Menjadi Media yang Hanya Menunggu Proyek
Pada akhirnya, persoalan terbesar media lokal bukan hanya bagaimana mendapatkan iklan. Persoalannya adalah bagaimana mengubah cara berpikir. Media jangan hanya menjadi institusi yang menunggu proyek, tetapi harus menjadi perusahaan yang menciptakan produk. Jangan hanya bertanya, “Siapa yang mau memasang iklan?”
Mulailah bertanya. Masalah apa yang bisa kami selesaikan dengan kemampuan media yang kami miliki? Perusahaan membutuhkan konten. UMKM membutuhkan promosi. Hotel membutuhkan wisatawan. Event membutuhkan publikasi. Organisasi membutuhkan komunikasi. Masyarakat membutuhkan informasi. Semua kebutuhan tersebut berada di sekitar media.
Tantangannya adalah apakah media berani mengubah kompetensi jurnalistik menjadi produk ekonomi tanpa mengorbankan independensi redaksi. Di sinilah masa depan media lokal ditentukan.
Media yang mampu membangun audiens, mengembangkan kompetensi dan mendiversifikasi pendapatan akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.
Sebab pada akhirnya, media yang sehat bukanlah media yang paling banyak menerima anggaran, tetapi media yang mampu membiayai keberlangsungannya sendiri sambil tetap menjaga kepercayaan publik. (*)
Penulis: Pemimpin Umum Radar Mandalika

