MotoGP 2026 yang akan berlangsung pada 9–11 Oktober 2026, kembali menjadi momentum penting bagi Nusa Tenggara Barat. Ketika pembalap dunia kembali mengaspal di Pertamina Mandalika International Circuit, perhatian publik internasional juga akan kembali tertuju kepada Lombok dan NTB.

Di balik deru mesin, sorotan kamera, dan ribuan penonton yang memadati kawasan Mandalika, sesungguhnya terdapat peluang yang jauh lebih besar. Bukan hanya bagi penyelenggara atau industri pariwisata berskala besar, tetapi juga bagi masyarakat, pelaku UMKM, pengusaha kuliner, pengemudi transportasi, pemandu wisata, pengelola desa wisata, hingga pelaku ekonomi kreatif.

Karena itu, rapat koordinasi persiapan MotoGP 2026 bidang akomodasi dan destinasi yang digelar di Aula Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTB, Senin, 7 September 2026, patut dilihat sebagai bagian dari upaya bersama untuk memastikan momentum besar tersebut memberikan pengalaman terbaik bagi wisatawan sekaligus manfaat yang semakin luas bagi masyarakat NTB.

MotoGP memang berlangsung di sirkuit. Tetapi dampaknya idealnya tidak berhenti di sekitar sirkuit.

Wisatawan yang datang ke Lombok untuk menyaksikan balapan tentu memiliki kesempatan untuk mengenal lebih banyak tentang NTB. Mereka bisa menikmati kuliner lokal, mengunjungi desa wisata, menikmati keindahan alam, mengenal budaya Sasak, berbelanja produk UMKM, atau melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi di Lombok dan Sumbawa.

Di sinilah pentingnya membangun konektivitas antara event MotoGP dengan destinasi wisata.

Mandalika adalah magnet yang sangat kuat. Tetapi NTB memiliki banyak cerita lain yang tidak kalah menarik untuk diperkenalkan kepada dunia.

Rinjani dengan lanskapnya, Sembalun dengan keindahannya, kawasan Gili, Senggigi, Sekotong, desa-desa wisata, kekayaan budaya, kuliner, hingga destinasi di Pulau Sumbawa adalah bagian dari wajah NTB yang seharusnya ikut mendapatkan manfaat dari momentum MotoGP.

Tentu hal tersebut bukan pekerjaan satu pihak. Pemerintah, pengelola kawasan, pelaku industri pariwisata, asosiasi, masyarakat, media, hingga pelaku UMKM memiliki peran masing-masing. Yang dibutuhkan adalah koordinasi yang semakin baik dan kesadaran bahwa keberhasilan MotoGP bukan hanya soal suksesnya penyelenggaraan balapan. Tetapi juga bagaimana event tersebut menjadi jembatan untuk memperkenalkan NTB secara lebih luas.

Begitu pula dengan sektor akomodasi. Ketersediaan kamar hotel memang penting. Tetapi keramahan, kebersihan, kenyamanan, pelayanan dan pengalaman wisatawan juga tidak kalah penting. Wisatawan yang merasa nyaman akan membawa cerita baik tentang Lombok ketika mereka pulang.

Sebaliknya, pengalaman yang kurang menyenangkan, sekecil apa pun, dapat menjadi cerita yang ikut menyebar melalui media sosial.

Karena itu, persiapan MotoGP sebaiknya tidak hanya berbicara tentang jumlah kamar yang tersedia. Lebih jauh, bagaimana seluruh pelaku usaha pariwisata dapat memberikan pelayanan yang membuat tamu merasa dihargai dan diterima sebagai bagian dari pengalaman NTB.

Begitu pula soal harga. Momentum MotoGP tentu memberikan peluang ekonomi bagi pelaku usaha. Itu sesuatu yang wajar. Namun, keseimbangan tetap penting agar wisatawan mendapatkan nilai yang sepadan dengan apa yang mereka bayarkan. Pengalaman yang baik akan jauh lebih berharga bagi keberlanjutan pariwisata dibanding keuntungan sesaat.

Pada akhirnya, wisatawan bukan hanya mencari tempat untuk tidur atau tiket untuk menonton balapan. Mereka mencari pengalaman.

Dan, pengalaman itu dibentuk sejak mereka tiba di bandara, berada di jalan, memasuki hotel, menikmati makanan, mengunjungi destinasi, berinteraksi dengan masyarakat, hingga meninggalkan Lombok.

Karena itu, persoalan konektivitas juga menjadi bagian penting. Kemudahan penerbangan, transportasi, informasi destinasi dan akses antarkawasan akan sangat menentukan bagaimana wisatawan menikmati NTB.

Semakin mudah wisatawan bergerak, semakin besar pula peluang mereka membelanjakan uangnya di berbagai tempat.

Di sinilah kita berharap MotoGP 2026 dapat menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem pariwisata NTB secara bersama-sama.

Tidak perlu melihat event ini semata-mata sebagai milik pemerintah, pengelola sirkuit, hotel, atau industri pariwisata. MotoGP adalah momentum bersama.

Masyarakat NTB juga harus merasakan bahwa ada peluang yang terbuka di balik kedatangan dunia ke Lombok.

Seorang penjual makanan bisa mendapatkan pelanggan baru. Pengemudi bisa mendapatkan penumpang. Pengrajin bisa memperkenalkan produknya. Pemandu wisata bisa membawa tamu ke destinasi lokal. Desa wisata bisa mendapatkan kunjungan. Anak-anak muda bisa menemukan peluang baru di sektor ekonomi kreatif.

Jika semakin banyak masyarakat yang mendapatkan manfaat, maka semakin kuat pula rasa memiliki terhadap event internasional tersebut.

Pada titik inilah MotoGP tidak hanya menjadi pertandingan olahraga, tetapi menjadi bagian dari perjalanan pembangunan pariwisata NTB.

Kita tentu berharap persiapan menuju MotoGP 2026 terus dilakukan dengan semangat kolaborasi. Setiap rapat menghasilkan langkah nyata, setiap evaluasi menjadi bahan perbaikan, dan setiap persoalan dilihat sebagai kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Sebab NTB tidak hanya ingin dikenal karena memiliki sirkuit kelas dunia. Kita ingin wisatawan datang karena MotoGP, kemudian jatuh cinta kepada Lombok dan Sumbawa karena keramahan masyarakatnya, keindahan alamnya, kekayaan budayanya, serta pengalaman yang mereka bawa pulang.

Pada akhirnya, keberhasilan terbesar MotoGP bagi NTB bukan hanya ketika balapan berlangsung lancar dan sukses.

Keberhasilan itu akan terasa ketika setelah suara mesin terakhir berhenti, cerita baik tentang Lombok dan Sumbawa justru terus berjalan dari mulut ke mulut, dari layar ke layar, dan dari hati para wisatawan yang pernah datang. (*)

Penulis: H Abdus Syukur

Anggota Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Nusa Tanggara Barat (NTB)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *