Dari Hobi Sampai Akhirnya Menggeluti
Untuk kali ketiga sapi milik peternak Lombok Barat ( Lobar) Atang Setyanegoro dipilih menjadi Bantuan Masyarakat dari Presiden (Banmaspres) Prabowo Subianto. Dari awal Hobi mengantarkan namanya menjadi peternak sukses yang selalu menjadi langganan istana negara.
WINDY DHARMA/LOMBOK BARAT
SAPI Jumbo berwarna Hitam dengan corak putih diwajahnya bersantai di kandang milik Atang di Lingkungan Menang Kelurahan Dasan Geres Kecamatan Gerung, Selasa (12/5). Simental Cross dengan bobot mencapai sekitar 1 ton 15 Kilogram menjadi sapi terberat ke tiga di Nusa Tenggara Barat (NTB). Prestasi yang terbilang cukup cemerlang hingga Istana Negara tetap langganan membelinya untuk menjadi sapi Kurban Presiden RI kepada Masyarakat. Sebab ditahun sebelumnya ia berhasil merawat Sapi hingga 1 ton 70 kilogram dan Sapi terberat di NTB. Bahkan presiden membayarnya hingga Rp 136 juta.
Proses pemeliharaan sapi dengan bobot di atas satu ton bukan perkara mudah bagi Atang. Tantangan perubahan cuaca sangat berpengaruh terhadap kondisi fisik dan nafsu makan hewan ternak ini. Kondisi cuaca yang sangat panas sempat membuat salah satu sapi unggulannya mengalami penurunan nafsu makan yang berimbas pada penyusutan bobot badan. Atang menjelaskan pada saat pemeriksaan berat badan beberapa waktu lalu oleh pihak Dinas Pertanian, sapi miliknya sempat mengalami penurunan bobot akibat cuaca yang kurang mendukung. Suhu udara yang panas membuat sapi lahap makan. Bobotnya yang sempat menyentuh angka lebih dari 1 ton 30 kilogram harus terkoreksi. Dinas Pertanian mencatat saat itu bobotnya sekitar 1 ton 5 kilogram.
“Kemarin kebetulan pada saat mau ditimbang kan cuaca pas kurang bagus, panas sekali. Sapi ini kurang lebih sekitar empat hari dia kurang lahap makannya. Padahal sebelumnya itu waktu sebelum lebaran, bulan puasa itu kita timbang sapi ini sudah beratnya sudah 1 ton 30 lebih,” ujar Atang.
Meski sempat mengalami penurunan sekitar 15 hingga 20 kilogram, Atang menilai hal tersebut masih dalam batas kewajaran untuk kategori sapi besar. Menurutnya, isi perut sapi jumbo saja bisa mencapai 50 kilogram, sehingga penurunan sedikit bobot tidak serta-merta mengurangi kualitas kesehatan sapi secara keseluruhan. Saat ini, kondisi sapi tersebut telah kembali normal dan diperkirakan bobotnya sudah mencapai kisaran 1 ton 15 kilogram.
Kunci utama merawat sapi dengan bobot fantastis terletak pada manajemen kenyamanan. Atang menekankan pemberian pakan berkualitas tinggi tidak akan maksimal jika sapi merasa stres atau tidak nyaman di lingkungannya. Ia menerapkan standar perawatan harian yang sangat disiplin, mulai dari kebersihan fisik hingga pencegahan hama.
Atang membagikan rahasia perawatannya yang berfokus pada kesejahteraan hewan. Menurutnya, sapi harus merasa nyaman agar nafsu makannya tetap terjaga. Rutin memandikan sapi agar terhindar dari rasa gatal dan gangguan nyamuk yang dapat mengganggu waktu istirahat sapi tetap dilakukan.
“Intinya dia nyaman. Dan juga kebersihan kandang itu intinya itu sih, sama vitamin jangan lupa,” tutur Atang.
Bagi Atang, memelihara sapi jumbo bukan sekadar urusan bisnis semata, melainkan sebuah hobi yang telah ditekuninya sejak lama. Dedikasinya merawat sapi-sapi berukuran besar ini bahkan telah membuahkan hasil yang membanggakan, di mana sapi miliknya telah terpilih sebagai sapi kurban presiden selama tiga tahun berturut-turut.
“Jadi sebenarnya saya pelihara sapi besar itu sudah dari dulu saya hobi. Nah, kalaupun itu nanti masuk presiden ini kan sebenarnya kan coba-coba, bonus saja. Kalaupun enggak, itu tetap hobi kita tersalurkan,” ungkapnya dengan rendah hati.
Menyongsong tahun depan, langkah strategis disiapkan dirinya. Sejak sekarang menyiapkan sapi yang akan kembali bersaing sebagai sapi kurban terbaik. Bahkan salah satu sapinya saat ini sudah mencapai bobot 900 kilogram lebih. Meski sudah mulai mendapatkan tawaran harga dari sesama kolektor, Atang memilih untuk menahan penjualannya karena sulitnya mencari bibit sapi (bakalan) berkualitas jumbo di wilayah Lombok saat ini.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Lobar H Lalu M. Hakam menilai keberhasilan sapi peternak Lobar masuk nominasi sapi kurban presiden pencapaian penting.
“Dari tiga yang kita usulkan itu, satu yang lolos verifikasi. Yang dilakukan oleh Setpres itu bobotnya 1,001 ton. Itu yang berada di Menang. Jenis sapinya simental cross,” ujarnya.
Penilaian Setpres tidak hanya melihat ukuran tubuh sapi, tetapi juga kesehatan dan kualitas ternak secara keseluruhan. Keberhasilan ini dinilainya bisa memicu semangat peternak lain mengembangkan ternak unggulan dengan nilai jual lebih tinggi.
“Sudah tiga kali berturut turut, Ini bisa jadi motivasi ke masyarakat kita juga. Karena ini dianggap kompetisi dengan kabupaten lain sehingga peternak kita semakin giat merawat ternak dari varietas-varietas unggul,” pungkasnya. (win)
