Suatu pagi, saya menunggu antrean di salah satu kantor pajak. Menanti giliran untuk mengurus pergantian nama wajib pajak—dari pemegang saham yang telah wafat kepada penerusnya. Sebuah urusan administratif yang tampak sederhana, namun menyimpan jejak tanggung jawab yang tidak ringan.

Pandanganku tertuju pada sebuah pintu tertutup. Di atasnya tertulis kalimat yang tegas: Selamat Datang di Zona Integritas. Sebuah kalimat yang, setidaknya di permukaan, menawarkan harapan—tentang pelayanan yang bersih, transparan, dan berkeadilan.

Namun, di dalam benak, muncul pertanyaan yang barangkali terdengar nakal. Sejauh mana tulisan itu benar-benar hidup dalam praktik? Sebab di luar sana, kita masih kerap mendengar kasus-kasus yang justru terasa seperti mengikis makna dari Zona Integritas itu sendiri.

Di titik itulah, saya menyadari—integritas tidak pernah cukup ditulis. Ia harus dijalankan. Ia tidak hidup di papan nama, tetapi dalam sikap petugas, dalam cara melayani, dalam keputusan-keputusan kecil yang sering kali tak terlihat, namun menentukan rasa keadilan bagi masyarakat.

Zona Integritas, jika hanya berhenti sebagai slogan, ia akan kehilangan ruhnya. Tetapi jika ia benar-benar menjadi kesadaran, maka tanpa banyak kata pun, publik akan merasakannya: pelayanan yang tulus, proses yang jelas, dan kepercayaan yang perlahan tumbuh kembali.

Saya kembali melihat sekeliling. Wajah-wajah yang menunggu, sebagian tampak sabar, sebagian lagi menyimpan kegelisahan. Mereka datang dengan harapan yang sama. Urusan selesai tanpa dipersulit, tanpa biaya tersembunyi, tanpa perlakuan yang berbeda. Harapan yang sederhana, tetapi justru di situlah letak ukuran integritas sebuah institusi.

Di tengah antrean itu, saya juga menyadari bahwa kepercayaan publik tidak pernah lahir dari satu kebijakan besar, melainkan dari pengalaman kecil yang berulang. Dari cara petugas menyapa, dari kejelasan informasi, dari kepastian waktu pelayanan. Hal-hal sederhana, namun jika diabaikan, mampu meruntuhkan makna besar yang tertulis di pintu itu.

Barangkali, Zona Integritas memang tidak membutuhkan banyak deklarasi. Ia hanya membutuhkan konsistensi. Karena ketika praktik sudah sejalan dengan nilai, maka tulisan di pintu itu tidak lagi perlu dipertanyakan—ia akan menjadi kenyataan yang dirasakan, bukan sekadar janji yang dibaca. (*)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *