PENCARIAN: Tim Gabungan Sar bersama warga saat melakukan pencarian korban hanyut di Kawasan Wisata Tibu Ijo Kekait, Senin (6/4). (Ist)

LOBAR – Seorang warga Otak Desa, Kecamatan Ampenan Kota Mataram Lisa Pratiwi hanyut terserat arus di kawasan wisata Air Terjun Tibu Ijo Desa Kekait Kecamatan Gunungsari, Minggu (5/4) siang. Hingga memasuki hari kedua tim SAR gabungan masih terus melakukan upaya pencarian intensif, Senin (6/4).

Insiden yang menimpa korban saat kondisi arus sungai dilaporkan cukup kuat. Dari informasi yang beredar awalnya korban bersama seorang teman laki-lakinya sedang menikmati waktu liburan bersama di lokasi wisata tersebut. Nasib nahas menimpa korban saat ia sedang dalam perjalanan menuju titik utama air terjun. Secara tiba-tiba, arus sungai yang meluap menyeret tubuh korban.

Kepala Kantor SAR Mataram, Muhamad Hariyadi, melalui Koordinator Lapangan, Ida Bagus Netra Adnyana, mengonfirmasi bahwa tim telah bergerak sesaat setelah menerima laporan. Kecepatan pengiriman tim menjadi prioritas utama mengingat kondisi medan di sekitar Air Terjun Tibu Ijo yang cukup menantang, terlebih saat cuaca tidak menentu.

“Tim berangkat menuju lokasi pada pukul 18.50 WITA dengan menggunakan rescue car. Kami juga membawa berbagai peralatan SAR air lengkap untuk menunjang proses pencarian di sepanjang aliran sungai,” ujar Ida Bagus Netra Adnyana dalam keterangannya di lokasi pencarian.

Menurutnya pada hari kedua proses pencarian terus diperluas melibatkan berbagai unsur terkait. Sinergi antara lembaga pemerintah dan masyarakat dilakukan pada operasi kali ini. Tim gabungan menyusuri setiap lekukan aliran sungai dan memeriksa titik-titik yang dicurigai sebagai tempat tersangkutnya korban, seperti area bebatuan besar dan cekungan air.

Selain dari tim rescue Kantor SAR Mataram, operasi ini juga melibatkan BPBD Lombok Barat, Camat Gunung Sari, jajaran Polsek Gunung Sari, serta Babinsa dan Bhabinkamtibmas setempat. Kehadiran perangkat desa dan relawan lokal juga sangat membantu tim dalam memahami karakteristik aliran sungai di Desa Kekait yang dikenal memiliki arus bawah yang cukup kuat saat debit air meningkat.

“Kami terus melakukan penyisiran secara mendetail di sepanjang aliran sungai. Fokus utama kami hari ini adalah menyisir area dari titik awal jatuhnya korban hingga beberapa kilometer ke arah hilir,” tambah Ida Bagus.

Sementara itu, terungkap fakta bahwa lokasi wisata itu sudah ditutup oleh pemerintah desa setempat sejak tahun lalu. Lantaran kejadian serupa sudah sering terjadi. Sehingga pemerintah desa lebih memilih menutupnya dari pada terus memakan korban.

“sudah banyak kejadian disana, banyak korban. Makanya kita inisiatif bersama kepala dusun Kekait daye kita tutup tempat itu sudah sejak enam bulan lalu,” terang Kepala Desa Kekait, Masjudin Dahlan saat dikonfirmasi awak media, Senin(6/4).

Meski diakuinya kawasan wisata Tebo Ijo itu masuk wilayah tiga desa. Namun karena pintu masuk objek wisata itu melalui desa Kekait, sehingga pihaknya memilih langkah antipasi.

Menurutnya plang informasi penutupan jalur menuju lokasi wisata itu sudah lama terpasang di pintu masuk dan jalur kawasan wisata itu.

“Kita tidak tahu apakah yang bersangkutan sudah baca atau melihat atau tidak plang penutupan itu,” uujarnya.

Menurutnya saat kejadian itu kondisi hujan di desa Kekait tidak terlalu deras. Namun Pihaknya menduga hujan deras justru terjadi di hulu atau hutan. Sehingga air sungai deras mengalir.

“Informasinya korban ini bersama pacarnya sedang mau menyeberangi sungai, dan tiba-tiba air bah datang,” bebernya.

Meski demikian, Pemdes bersama warga tetap membantu pencarian korban.
“Kita tetap bantu pencarian,” pungkasnya. (win)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *