LOBAR—Kisah pilu dialami oleh keluarga Ahmad Mahnun, pasangan Suami Istri (Pasutri) penderita Lumpuh yang sempat viral di Desa Telagawaru Kecamatan Labuapi. Sang istri meninggal lebih dulu pada Kamis (2/4). Pasutri ini sempat viral karena kondisi lumpuh dan hanya terbaring diatas sealas tikar.
Kondisi ekonomi yang terbatas ditambah dengan masalah kesehatan yang mendera membuat keluarga ini sangat bergantung pada uluran tangan pemerintah dan pihak-pihak terkait. Meski Keluarga Mahnun tercatat sebagai penerima bantuan sosial dari pemerintah pusat, seperti Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) dan Program Keluarga Harapan (PKH). Namun bantuan kursi roda dan Matras Medis yang sempat di Janjikan oleh Dinas Sosial lombok Barat (Lobar) tak kunjung terealisasi hingga sang istri meninggal dunia.
Kondisi itu membuat Wakil Ketua Komisi IV DPRD Lobar Prof Syamsuriansyah prihatin dan mengambil langkah cepat membelikan kursi roda dan Matras Medis untuk Mahnun. Terlebih sejak awal, Politisi asal Labuapi-Kediri itu, yang membantu untuk proses pelayanan kesehatan hingga Rumah Sakit Provinsi NTB.
Ditengah kondisi berkabung Prof Syam membawakan langsung bantuan itu, Sabtu (4/4). Berinteraksi dan menyemangati pak Masnun yang masih berduka.
Kepala Dusun Gubuk Aida, Gubuk Aida, Idham Ahmad mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai langkah administratif mengajukan bantuan kursi roda dan kasus itu untuk keluarga Mahnun. Setelah kondisi keluarga ini sempat menjadi perhatian publik dan dikunjungi oleh perwakilan dewan, beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mulai turun ke lapangan untuk melakukan verifikasi data. Kunjungan dari pihak eksekutif maupun legislatif beberapa bulan lalu memang membawa harapan baru. Bahkan respon perwakilan dewan yang berkunjung sangat cepat setiap kali ada keluhan yang disampaikan.
Sayangnya meski pendataan telah dilakukan OPD terkait, namun realisasi dari janji bantuan kursi roda, kasur medis, obat-obatan, hingga kebutuhan harian seperti popok sekali pakai (pampers), hingga kini belum juga tiba di kediaman keluarga tersebut. Justru bantuan kursi roda datang dari Anggota DPRD Lobar Syamsuriansyah.
“Semenjak tiang (Saya) menjabat langsung kita sampaikan di Musrenbang kita mengajukan di Dinas Sosial untuk mendapatkan kursi roda. Dan setelah viral kemarin, langsung berapa OPD turun ke lapangan untuk mengecek kondisi keluarga,” jelasnya.
Diakuinya, pihaknya sudah melakukan tindak lanjut (follow-up) kepada instansi terkait untuk menanyakan kepastian waktu penyaluran bantuan tersebut. Dari hasil koordinasi terakhir, pihak dinas memberikan indikasi bahwa bantuan akan segera dicairkan dalam waktu dekat.
“Sampai hari ini belum terealisasi. Sampai kita tanyakan kemarin katanya bulan Mei, bulan depan akan dicairkan,” tambah Kepala Dusun itu.
Keterlambatan ini diharapkan tidak berlangsung lebih lama lagi, mengingat kondisi fisik keluarga Masnun yang sangat memerlukan alat bantu tersebut untuk menunjang aktivitas harian.
Meski demikian, pihaknya bersyukur adanya jaminan kelanjutan pendidikan bagi anak pak Mahnun dari Anggota DPRD Lobar Syamsuriansyah. Menjamin pendidikan sang anak hingga ke jenjang perguruan tinggi.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Lobar Prof Syamsuriansyah mengaku bersedih dengan kondisi dialami Pak Mahnun . Selain kehilangan pendamping hidup, ia juga tengah berjuang melawan keterbatasan fisik yang membuatnya sulit beraktivitas secara normal. Selama hampir satu setengah tahun terakhir, Pak Mahnun praktis hanya bisa terbaring di dalam rumah tanpa kemampuan untuk melihat suasana luar.
“Kemarin saya mendapatkan kabar duka dari keluarga, bahwa istri beliau meninggal dunia di rumah ini. Malamnya saya langsung datang ke sini bersama sejumlah masyarakat sekitar,” ujar Dr. Syamsuriansyah saat ditemui di lokasi.
Ia menjelaskan bantuan ini bentuk rasa empati yang mendalam karena selama ini Pak Mahnun tidak memiliki fasilitas yang layak untuk beristirahat.
“Sebagai orang yang pertama kali pernah berkunjung dan mengurus beliau ke RS Provinsi, tentu saya merasa sangat berduka. Cuman yang paling sakit itu adalah suaminya, Pak Mahnun. Beliau sama-sama kondisinya seperti ini, akhirnya ditinggal oleh istrinya,” tambahnya dengan nada getir.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Syam juga menyinggung peran pemerintah daerah. Meskipun pemerintah pernah berupaya memberikan bantuan, kendala klasik seperti keterbatasan anggaran seringkali membuat bantuan tersebut terhambat atau tidak tersalurkan tepat waktu. Ia menegaskan bahwa dalam situasi darurat kemanusiaan, kehadiran individu secara langsung tidak boleh menunggu proses administratif yang panjang.
“Pemerintah daerah pernah ingin membantu kursi roda dan sebagainya, tapi mungkin anggaran terbatas atau hal lain. Maka saya berinisiatif, atas nama kemanusiaan, kita harus hadir sebagai manusia yang melihat bahwa ini juga manusia. Karena kendalanya adalah kursi roda, alhamdulillah sore ini saya bawakan kursi roda untuk beliau,” tegasnya.
Di akhir kunjungannya, Syamsuriansyah memberikan pesan moral yang mendalam bagi seluruh lapisan masyarakat dan pemangku kebijakan. Ia mengajak semua pihak untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan menumbuhkan rasa empati yang kuat.
“Saya ingin katakan kepada kita semua, paling tidak kalau kita tidak bisa berbuat banyak kepada sesama manusia, setidaknya miliki empati. Kucing saja kalau mati kita rawat dengan baik saat dia sakit, masa iya kita sesama manusia tidak mampu memberikan sedikit empati?,” tutupnya. (win)
