SEMANGAT: Peserta FLS3N saat menujukan pertunjukan pantomim, Senin (18/5). (WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA) 

LOBAR—Dinas Pendidikan dan Kebudayaan resmi membuka Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kabupaten Lobar Tahun 2026 di Gedung Seni Budaya Narmada. Lomba yang digelar selama empat hari dari 18-21 Mei 2026 itu diikuti 232 pelajar SD dan SMP dari sejumlah sekolah di Lobar.

Pembukaan lomba itu disaksikan langsung Bupati Lobar H Lalu Ahmad Zaini bersama sejumlah Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi NTB, Anggota DPRD Lobar asal Narmada Lingsar dan kepala desa.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, gelaran FLS3N kali ini dirangkaikan dengan Parade Budaya serta Bazar UMKM. Memberikan dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat setempat. Cabang lomba yang dipertandingkan dua kategori jenjang pendidikan. Untuk jenjang SD, cabang lomba dilombakan meliputi Kriya, Menulis Cerita, Tari, Mendongeng, Pantomim, Nyanyi Solo, dan Gambar Bercerita. Sedangkan untuk jenjang SMP, cabang yang dilombakan meliputi Kreativitas Musik Tradisional, Tari Kreasi, Ensamble Campuran Tiga Alat Musik, Menulis Cerita, Pantomim, Nyanyi Solo, Mendongeng, dan Ilustrasi.

Bupati Lobar H Lalu Ahmad Zaini mengapresiasi inovasi pelaksanaan FLS3N tahun ini. Kompetisi seperti ini dinilainya menjadi parameter melahirkan generasi muda unggul di bidang akademis, kreatif, inovatif, dan berkarakter. Sebab di era ini dituntut melahirkan generasi yang Berintegritas dan berakhlak mulia.

“Kita ingatkan seluruh peserta dan juri senantiasa menjunjung tinggi sportivitas serta kejujuran sepanjang kompetisi berlangsung,” pesan pria yang akrab di Sapa LAZ itu, Senin (18/5).

Menurutnya lomba buka sekedar mencari kemenangan namun menanamkan nilai integritas sejak dini. Proses yang jujur akan membentuk generasi yang tangguh dalam menghadapi masa depan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lobar H. Najamudin, melalui Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Dikbud Lobar M. Hirman Zulkarnaen, menjelaskan lomba ini bagian pemetaan talenta (talent mapping) yang sistematis di setiap satuan pendidikan. Langkah ini penting dilakukan untuk membangun basis data yang akurat mengenai potensi seni dan sastra yang dimiliki oleh para siswa di daerah.

“Berdasarkan data pemetaan database talenta tersebut, baru kita bisa petakan upaya apa yang kita lakukan ke depan,” ujar Hirman Zulkarnaen saat ditemui di sela-sela kegiatan.

Dari data itu, pihaknya dapat menyusun perencanaan strategis jangka panjang yang lebih terarah. Upaya pemajuan kebudayaan daerah, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) siswa. Program ke depan juga diarahkan agar mendapatkan dukungan berkelanjutan dari pemerintah kabupaten, khususnya dalam pemanfaatan potensi SDM yang berkualitas secara optimal. Lebih lanjut, Hirman mengaitkan kegiatan ini dengan arah kebijakan pendidikan nasional, menekankan konsep “Pendidikan Berdampak”. Menurutnya, pendidikan tidak boleh lagi hanya berorientasi pada mutu formalitas nilai di atas kertas, melainkan harus mampu memberikan pengaruh nyata terhadap pembentukan karakter, akhlak, dan kepribadian siswa.

“Sekarang kan tema pendidikan kita pendidikan berdampak. Berdampak bukan hanya sebatas mutu pendidikan saja, tapi bagaimana membangun karakter melalui program kegiatan yang sifatnya seni dan sastra,” kata Hirman menjelaskan.

Festival tahun ini diikuti oleh 232 peserta didik yang secara resmi telah terdaftar dalam Database Nasional FLS3N pusat. Komposisi peserta terdiri dari 112 siswa jenjang Sekolah Dasar (SD) dan 120 siswa jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Untuk menjaga objektivitas dan kualitas penilaian, panitia melibatkan sedikitnya 21 orang juri profesional yang berasal dari berbagai disiplin ilmu serta latar belakang akademisi.

Hirman menegaskan bahwa proses seleksi ini dilakukan secara murni sebagai langkah awal penyaringan di tingkat kabupaten. Para peserta terbaik yang berhasil meraih juara nantinya akan dibina untuk mewakili daerah ke ajang yang lebih tinggi.

“Setelah itu, mana yang memang memperoleh yang terbaik, itu yang akan dijaring lagi tingkat provinsi. Setelah provinsi, baru ke pusat,”burainya secara rinci.

Mengenai jenis materi yang dilombakan, Hirman mengonfirmasi bahwa mayoritas mata lomba FLS3N mengacu pada petunjuk teknis nasional yang mengusung konsep karya seni kontemporer. Meski demikian, pelestarian bahasa dan seni lokal Sasak tetap mendapat atensi khusus dari pemerintah daerah melalui agenda festival kebudayaan daerah yang berbeda, seperti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) yang secara spesifik melombakan tradisi lokal seperti tembang Sasak (nembang) dan sastra daerah lainnya.(win)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *