15 Wilayah Penyangga KEK Mandalika Lemah Sinyal

  • Bagikan
Kadiskominfotik NTB
JHONI SUTANGGA/RADAR MANDALIKA GROUP I Gede Putu Ariyadi

MATARAM – Saat ini masih ada 15 wilayah penyangga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yang masih blank spot. Dampaknya, aktivitas bisnis yang menggunakan jasa internet belum bisa berjalan maksimal.

Adapun 15 daerah itu yakni Selong Belanak, Lantan, Aik Berik, Bebuaq, Mertak, Mawun, Banyu Urip, Prabu, Montong Ajan, Montong Sapah, Batu Jangkih, Pandan Tinggang, Bangket Parak, Benang Stokel dan Setiling.

“Di daerah itu sinyal lemah. Masih 2G dan 3G. Kalau sinyal itu dipakai, banyak orang jadi blank spot,” ujar Kepala Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik (Diskominfotik) NTB, Gede Putu Ariyadi.

Menurut Aryadi kondisi wilayah itu harus segera diselesaikan. Bahkan 2021 semuanya harus tuntas. Pasalnya even MotoGP akan berlangsung tidak hanya itu ratusan ribu tamu dipastikan akan menyaksikan olah raga motor bergengsi tersebut. Dalam hal ini posisi pemerintah hanya membuka adanya sinyal. Selanjutnya tugas pengusaha jasa telekomunikasi untuk mengembangkannya.

Menurut mantan Irbansus Inspektorat NTB itu, kondisi ke 15 daerah itu sudah ia sampaikan datanya ke Kemenkominfotik. Sebab dalam hal ini urusan sepenuh di pusat. Namun demikian masalah ini sebelumnya pun telah diatensi. Beberapa waktu yang lalu komisi I DPR RI dan Kemenkominfo bersama jasa pengusaha telekomunikasi saat berkunjung ke KEK Mandalika langsung dan masalah itu menjadi point pembahasan. Pertemuan tersebut, lanjut Ariyadi dilanjutkan kembali di Jakarta.

“Sehingga 2021 masalah jaringan lemah di KEK Mandalika ini harus tuntas,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan sebenarnya terkait jaringan ini telah ada dalam RPJMN. Dimana 2020 Indonesia Terkoneksi harus tuntas dilaksanakan. Namun saat ini pusat hanya membangun palapering saja, sehingga perlu dibangun penguatan sinyal.

“Penanganan blank spot lintas area itu menjadi kewenangan pusat bersama unit teknis BAKTI lalu di didaerah ada Walmon atau Telkom,” katanya.

Hal yang penting juga, lanjut Aryadi bukan hanya ketersediaan jaringan 4G misalnya, tetapi bagaimana kekuatan sinyal itu ada. Jangan sampai sinyal lemah disebabkan terllau banyak pengguna namun tidak ada penguat. (jho)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *