TGH: Fahrurrozi: Jangan Ulangi Kesalahan yang Sama

  • Bagikan
F TGH. Fahrurrozi Wardi
SATRIA/RADARMANDALIKA.ID TGH. Fahrurrozi Wardi

PRAYA – Tokoh agama Lombok Tengah, TGH. Fahrurrozi Wardi meminta agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Demikian disampaikan TGH. Fahrurrozi saat dimintai tanggapan atas isi ceramah salah satu Ustadz di Lombok Timur yang membuat banyak pihak tersinggun dan tersakiti dalam program wawancara eksklusif Radar Mandalika, Senin kemarin.

Selain itu, setelah mengamati isi keseluruhan video ceramah ustadz itu. Dirinya melihat kedepan sulit dan susah ketemu titiknya.  Sebab diakuinya, pendidikan alumni Timur Tengah itu berbeda, apalagi bagi jebolan yang biasa diistilahkan Muhammad Bin Abdul Wahab.  Kelompok ini gencar tentang kemusrikan.

“Di sini kadang sulit titik temunya, tapi jalur dakwah kita dengan beliau ini memang tidak salah juga,” ungkapnya.

 

Dibeberkannya, dirinya sendiri pernah mengalami beberapa pendidikan formal di Makkah dan Madinah. Di antaranya, Darul Ulum Makkah, Darul Hadist Makkah, Mahaf Tanawi di Madinah. “Saya tau banyak tentang pendidikan jalur Muhammad Bin Abdul Wahab,” sebutnya.

 

Namun TGH. Fahrurrozi menyayangkan juga banyak penceramah muda beda cara dengan penceramah para guru kita. Di sana guru kita begitu toleran, beda halnya di sini sedikit-sedikit bidah.

“Ini tokoh Wahabi dosen kita Syeh Muhammad Bin Bas. Tapi ceramah tidak sedahsyat adik kita, beliau sangat bijak tokoh wahabih di sana. Jalur ini agak berbeda,” sebutnya.

Untuk itu, dia memastikan agak sulit ketemu. Ada caranya ketika kedewasaan lebih dikedepankan. Untuk saat ini, duduk bersama saja sulit. Apalagi mayoritas kita non Wahabi.

“Mereka zikir Maulid disebut bidah. Kalau mau tetap kembangkan dakwah yang kamu capai jangan sampai singgung orang lain, ini baru bisa ketemu. Kita lihat mereka mau benar sendiri, siapapun kalau mau begini tentu sulit ketemu. Jadi pendapat orang lain diabaikan,” tegasnya lagi.

Untuk itu, tuan guru satu ini berpesan agar tidak menyinggung orang lain. Demikian saat dakwah jangan sampai menyinggung atau menyakiti perasaan orang lain. “Kedepannya jangan ulangi kesalahan yang sama. Jangan ungkit ibadah orang lain, jangan melakukan memojokan dengan menyebut itu musrik. Cara dakwah bijak agar tidak ada orang tersinggung,” jelasnya tegas.

 

Selain itu, kepada penceramah muda kembali ditegaskan harusnya ditopang dengan keilmuan, bukan hanya sebatas mampu bicara saja. Harus dilihat dampak dari kita bicara agar orang tidak marah dan tersinggung. Katanya, adik-adik kita penceramah muda agar banyak belajar karena dipastikan tidak sebanyak pengalaman seniornya.

“Dakwah Wahabi memberantas kemusrikan,” tuturnya.

Di samping itu, TGH. Fahrurrozi juga melihat pemerintah NTB kurang peran dalam insiden ini. Ini dilihat setiap ada masalah seperti sekarang ini baru dilakukan pendekatan.

“Harus ada selalu kesinambungan persahabat dan kerjasama harus ada, ada silaturrahmi kita selalu terjalin baik. Kalau saya lihat sekarang kurang, khusus Lombok Tengah cukup baik,” ungkapnya.

 

Sementara kepada pihak kepolisian Polda NTB yang menangani kasus ustadz yang isi ceramah membuat sakit hati itu, diharapkan jangan ada yang terzolimi.”Polisi jangan mudah tergoyah dengan orang lain. Polisi harus tegas,” pungkasnya.(red)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *