Terobosan Pemerintah Kelurahan Leneng Wujudkan Zero Waste

F bok 3 scaled

RAZAK/RADAR MANDALIKA PEMILAHAN SAMPAH: Lurah Leneng, Lalu Muhammad Isnaini bersama pengurus Pokmas Bumi Sejahtera meninjau pendropan sampah kali pertama oleh petugas ke PT Bintang Sejahtera, Senin (5/7).

Sulap Sampah jadi Pupuk Cairan dan Rupiah

Pemerintah Kelurahan Leneng, Kecamatan Praya Lombok Tengah terus berupaya mencari cara bagaimana menuntaskan masalah sampah. Tidak hanya sekadar pola konvensional yakni sistem ambil, angkut, dan buang. Tapi, kelurahan kini tengah menggalakkan program pemilahan sampah yang kemudian dikonversi menjadi rupiah.

RAZAK – PRAYA

LURAH Leneng, Lalu Muhammad Isnaini terus berupaya mencari solusi atas persoalan sampah di wilayahnya. Otaknya terus berputar memikirkan solusi bagaimana menuntaskan persoalan sampah di Kabupaten Lombok Tengah. Khususnya di wilayah Kelurahan Leneng.
Dia berkomitmen terus mendukung program Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB dalam hal ini, Zero Waste alias bebas sampah. Ke depan, harapan Kelurahan Leneng menjadi wilayah Zero Waste bisa terwujud. Masalah persoalan sampah harus diatasi dengan metode atau pendekatan profesional.
Berhubungan dengan Zero Waste. Isnaini masih ingat. Kabupaten Lombok Tengah di bawah kepemimpinan H Moh. Suhaili FT pernah mencetuskan program ABSAR. Aman, Bersih, dan Religus. Bagi Isnaini, tiga akar kata itu menjadi satu paket.
“Kita harus artikulasikan dalam bentuk program. Kalau berbicara bersih, isunya kan sampah. Kalau kita berbicara sampah. Kita kan harus berbicara metode penanganannya,” katanya kepada Radar Mandalika, belum lama ini.
Berbicara masalah penanganan sampah. Pikirannya jauh ke depan. Memandang bagaimana jadinya tempat pembuangan akhir (TPA) yang ada di Lombok Tengah. Kalau saja penanganan sampah tetap dengan pola konvensional. Sistem ambil, angkut, dan buang itu tidak bisa menuntaskan masalah sampah di Lombok Tengah.
“Kumpul, angkut, buang itu yang pengertian secara tradisional yang kita lihat dan ditangani sama Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Di mana sampah itu berkumpul, diangkut dan dibuang,” katanya.
Karena itulah yang kemudian membuatnya terus mencari cara. Harus ada paragdigma atau metode baru. Untuk mengurangi hingga mengolah sampah di daerah Tastura. “Nah pengolahan ini ada kita lakukan. Ada kelompok masyarakat peduli sampah yang mengelola menjadi pupuk cair untuk tanaman-tanaman hias,” tutur Isnaini.
Kini cara lainnya yang sedang ia galakkan mengatasi persoalan sampah adalah, mendorong masyarakat untuk memilah sampah. Program pemilahan sampah ini sudah berjalan baru satu bulan. “Kita didampingi dan bermitra dengan Bank Sampat PT Bintang Sejahtera untuk menangani sampah,” kata Isnaini.
Kelurahan Leneng secara perlahan kini mulai meninggalkan penanganan sampah dengan pola konvensional. Tidak hanya sekadar ambil, angkut, dan buang. Akan tetapi, bagaimana penanganan sampah bisa dikonversikan menjadi uang sehingga bernilai ekonomis.
“Sekarang kita pilah, angkut, uang. Bahkan saya merubah sampah menjadi emas,” kata Isnaini.
Dalam program pemilahan sampah ini ditangani Pokmas Bumi Sejahtera Kelurahan Leneng yang bekerja sama dengan PT. Bintang Sejahter. Pengurus pokmas sudah lengkap dan tetap bersinergi dengan Pemerintah Keluraha Leneng. Strukturnya mulai dari direktur, bendahara, sekretaris, bagian angkut sampah, dan lainnya.
“Petugas-petugas ini melakukan audit (penanganan pemilhan sampah). Ini kan kita masih riset,” kata Isnaini.
Dalam program pemilahan sampah ini untuk sementara baru menyasar 110 kepala keluarga (KK) yang dijadikan sampel sebagai pilot project dari 11 lingkungan yang ada di Kelurahan Leneng. Masing-masing lingkungan diambil 10 KK. Setiap KK diberikan karung untuk tempat menampung sampah.
Masing-masing KK kemudian mengumpulkan sampah. Sampah dikumpulkan di satu tempat untuk kemudian ditimbang beratnya dan dirupiahkan. Selanjutnya, sampah itu diangkut oleh petugas Pokmas Bumi Sejahtera menggunakan armada sampah. Pengangkutan sampah dari lingkungan yang dijadikan sampel dilakukan setiap minggu.
“Satu KK itu kita kasih empat karung bawang. Karena kita harus memilah empat karakterisktik sampah. Sampah plastik, sampah residu, sampah kertas, dan sampah logam. Masing-masing sampah itu memiliki perlakuan berbeda-beda secara harga. Jadi sampah ini kita rupiahkan,” terang Isnaini.
Setelah sampah ditimbang, baru kemudian diangkut oleh petugas dan dikumpulkan di satu lokasi yang ada di belakang Kantor Lurah Leneng. Isnaini mengutarakan, pengangkutan sampah dalam program pemilahan sampah ini pertama kali dilakukan mulai minggu kedua di bulan Juni.
“Hasil minggu pertama akumulasinya 900 kg sampah dari 110 KK. Asumsi kita kurang lebih 1 kg produk sampah setiap KK per hari dengan empat karakteristik sampah itu tadi. Selam tiga minggu ini sudah terkumpul sekitar 2 ton sampah,” kata Isnaini sambil menunjuk sampah yang dikumpulkan di belakang kantor lurah.
Pendropan sampah pertama kali dilakukan ke PT Bintang Sejahter mulai tanggal 5 Juni 2021. “Sampah kemarin dibuang di depo aja. Sebelum ada program pemilahan sampah, sampah ini dibuang aja. Tapi sekarang menumpuk (di kantor lurah) tapi bernilai uang. Sampah kemudian tidak sekadar sampah yang menjadi momok. Tapi bagaimana sampah ini bisa menjadi uang,” cetus Isnaini.
Dari situ, Isnaini menghitung. Ternyata sampah bisa menghasilkan nilai ekonomi yang bisa dikonversikan menjadi uang. Karena itu, pihak kelurahan akan terus menguatkan dan mendorong masyarakat untuk menggalakkan program pemilhan sampah.
“Mudah-mudah di perubahan anggaran di tahun 2021, saya merencanakan untuk menyiapkan anggaran untuk beli karung. Kita butuh Rp 40-an juta lah,” ujar Isnaini.
Disamping bernilai ekomi, juga mewujudkan kebersihan tempat tinggal. Bagaimana mengedukasi masyarakat untuk terbiasa memilah sampah. “Sehingga Zero Waste itu tidak sekadar selogan. Atau kemudian yang pernah dilaunching oleh Bupati program ABSAR itu tidak juga sekadar selogan. Tapi ada upaya terapan konkrit berupa artikulasi dalam bentuk kegiatan,” jelasnya. (*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Ribut di Kafe, Made Diamankan Polisi

Read Next

Kades Ngaku Program Pemetaan Batas Wilayah jadi Beban

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *