Terobosan Pemerintah Desa Ranggagata Atasi Sampah

F bok 1

DIKI WAHYUDI/RADAR MANDALIKA KERJASAMA: Kades Ranggagata M Haikal dan Dekan Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Unram, Baiq. Rien saat menandatangani dokumen kerjasama, Selasa kemarin.

Gandeng Unram, Ingin jadi Desa Percontohan

Pemerintah Desa Ranggagata, Kecamatan Praya Barat Daya memiliki terobosan baru untuk mengatasi persoalan sampah di desa. Pemerintahan di bawah komando Muhammad Haikal berhasil melakukan komunikasi untuk menuntaskan persoalan yang menjadi PR besar selama ini. Seperti apa?

FENDI- LOMBOK TENGAH

PERSOALAN sampah menjadi isu seksi di dunia. Termasuk di Lombok Tengah yang sampai dengan saat ini belum terlihat bukti nyata. Demikian juga di Desa Ranggagata, Kecamatan Praya Barat Daya.
Bahkan belum lama ini juga, pemerintah Lombok Tengah telah mengkampanyekan diri menjadi kabupaten bebas buang air besar sembarangan atau open defecation free (ODF).
Berawal dari kampanye ini, adalah 48 desa diverifikasi dan ditargetakn bebas ODF pada tahun 2021, salah satunya masuk Desa Ranggagata. Namun dari lima pilar yang diverifikasi oleh tim dari Dinas Kesehatan, Desa Ranggagata dinyatakan tuntas pada tiga pilar yakni, bebas buang air besar sembarangan, Cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan pengolahan makanan dan air minum rumah tangga.
Namun sayang, dua pilar tentang pengolahan sampah rumah tangga dan pengelolaan limbah cair rumah tangga dinyatakan tidak tuntasoleh tim. “Alhamdullilah kita hanya terverifikasi tiga pilar, namun kita terus berusaha untuk mengerjar yang masih belum tuntas,” katanya di lokasi acara sosialisasi pengolahan sampah dan penandatanganan antar Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Unram, Selasa kemarin di Desa Ranggagata.

Kades menceritakan, saat ini kebiasaan masyarakat masih seperti dulu dengan membakar dan membuang sampah ke sungai atau kali di sekitar rumah. Kebiasaan ini menurutnya, menyebabkan banyak kali mengalami penyempitan karena produksi sampah yang semakin tinggi dan kebiasaan warga yang terus membuang sampah di kali.
Sebagai pemerintah desa, masih kesulitan untuk menangani persoalan sampah, sebab saat ini pemdes tidak memiliki tempat pembuangan sampah (TPS). Selain itu, Haikal juga pesimis jika hanya di tamping di TPS desa malah akan menjadi masalah besar.
Sejak lama katanya, pemdes memikirkan soal mekanisme pengolahan sampah dan cara untuk memproduksi sampah sehingga akan bisa bernilai ekonomi tidak hanya sebagi barang yang tidak bernilai dan dipandang sebelah mata.
Namun katanya, berkat kolaborasi dan komunikasi dengan prof. dr. Kurniawan yang merupakan salah satu putra asli Ranggagata di Unram, berhasil memberikan petunjuk dan dukungan atas semua ini.
Haikal membeberkan, nantinya pemdes akan memiliki mesin pengolah sampah untuk mengolah sampah yang ada di desa. Selain itu, peran warga sangat dibutuhkan untuk memilah sampah organic dan non organik, agar proses pengolahan bisa lebih mudah.
“Target kita Ranggata akan jadi desa bersih sampah pertama di Kecamatan Praya Barat Daya dan jadi desa percontohan,” tegasnya.
Dekan Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Unram, Baiq. Rien Handayani mengaku yakin bahwa pemerintah Desa Ranggagata bisa mencapai itu, terlebih dengan adanya kelompok sahabat sampah yang akan menjadi motor penggerak pengelolaan sampah di desa.
“Ranggagata ini akan jadi potret desa pioneer pengolahan sampah,” yakin dia.
Pihak Unram memiliki lokus yang sama soal penanganan sampah, dimana prosesnya dapat dilakukan mulai dari merubah maindshet soal sampah di tengah masyarakat. Kemudian pihaknya secara stap by stap akan mentrasfer teknologi pengolah sampah di desa, sehingga bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomi.
“Semoga kerjasama ini menjadi pondasi yang kuat dan saling menguntungkan,” harapnya.
Prof.dr. Kurniawan menambahkan, ini menjadi beban baru menurutnya. Harusnya soal kegiatan ini, tidak mesti dirinya hadir cukup diterima kades. “Tadinya saya tidak mau hadir,” katanya sambil menggunakan nada guyon.
Kurniawan juga berharap, desa kelahirannya ini bisa menjadi desa percontohan dalam program lain juga. Tidak hanya program sampah. “Soal kesehatan juga Unram ada RS, dokter spesialis terbanyak di NTB ada 50 dokter. Kalau butuh, kami juga siap memfasilitasi. Soal peternakan kami juga siap,” katanya.(*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Pusuk Rawan Longsor, Pengendara Diimbau Waspada

Read Next

Catat! Jangan Pilih Pejabat Karena Kedekatan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *