LOBAR – Pemerintah Kabupaten Lombok Barat melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) tengah mematangkan persiapan pengamanan menyambut dua hari besar keagamaan yang diprediksi akan jatuh dalam waktu yang berdekatan, yakni Hari Raya Nyepi dan Hari Raya Idulfitri 1447 H. Fokus utama Satpol PP pada kekhusyukan ibadah masing-masing umat beragama tetap terjaga melalui semangat toleransi yang telah lama menjadi fondasi masyarakat di Lobar.

Kasat Pol PP Lobar, I Ketut Rauh, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyusun skema pengamanan khusus mengingat adanya potensi perayaan yang berhimpitan. Berdasarkan perhitungan sementara, Hari Raya Nyepi diperkirakan jatuh pada tanggal 19 Maret, sementara malam takbiran Idulfitri kemungkinan besar terjadi pada tanggal 20 atau 21 Maret 2026. Situasi ini menuntut adanya koordinasi yang sangat presisi agar prosesi Catur Brata Penyepian dan kemeriahan malam takbiran dapat berjalan beriringan tanpa gangguan. Inovatif yang diambil oleh Satpol PP dengan menerapkan sistem penjagaan silang atau cross-secular guarding. Strategi ini melibatkan personel yang tidak sedang merayakan hari besar tersebut untuk menjaga mereka yang sedang beribadah. Ketut Rauh menjelaskan bahwa harmoni ini merupakan cerminan nyata dari tingginya rasa saling menghargai antarumat beragama di wilayahnya.

“Kita sudah buat antisipasi. Jadi nanti yang melaksanakan pengamanan pawai takbiran itu adalah teman-teman yang non-Hindu. Nah, nanti teman-teman yang Hindu menggantikan di hari-hari tanggal 20 itu jam setengah enam pagi. Begitu jam setengah enam pagi, teman-teman yang Muslim bisa pulang dulu untuk ganti baju supaya bisa salat Id berjamaah bersama keluarga,” ujar Ketut Rauh, Rabu (11/3).

Skema ini bukan hal baru namun akan lebih diperkuat tahun ini karena jadwal yang sangat berdekatan. Pada saat umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian, personel Muslim akan berada di garda terdepan untuk menjaga ketenangan lingkungan. Sebaliknya, saat umat Islam merayakan Idulfitri, personel Hindu akan mengambil alih peran pengamanan di lapangan.

Pemetaan sejumlah titik yang dianggap memerlukan perhatian khusus dilakukan. Terutama saat prosesi pawai ogoh-ogoh dan malam takbiran. Setidaknya ada 10 lokasi yang telah dipetakan sebagai titik keramaian pawai ogoh-ogoh. Pihak Satpol PP menyiagakan sekitar 40 personel untuk pengamanan malam takbiran dan 20 personel yang bergerak secara mobile untuk pemantauan selama Hari Raya Nyepi.

“Personel kita standby di titik-titik mobile, patroli, plus standby di kalau yang ogoh-ogoh itu ada sekitar 10 tempat yang sudah kita petakan,” jelasnya. Pengawasan ini bertujuan untuk mencegah potensi gesekan serta memastikan arus lalu lintas dan ketertiban umum tetap terkendali di tengah tingginya aktivitas masyarakat.

Selain fokus pada hari H perayaan, Satpol PP juga secara konsisten melakukan pengawasan selama bulan suci Ramadan. Pengawasan mencakup jam operasional usaha pariwisata hingga penertiban reklame dan pedagang yang melanggar zona larangan. Ketut Rauh mengonfirmasi bahwa sejauh ini hasil pantauan menunjukkan kepatuhan yang baik dari para pelaku usaha pariwisata.

Terkait tradisi kembang api yang kerap memicu gangguan kebisingan, Pemkab Lobar telah mengambil langkah preventif sejak dini melalui koordinasi dengan pihak Kepolisian dalam rapat Forkopimda. Upaya pelarangan dilakukan mulai dari sektor hulu guna menekan peredaran petasan dan kembang api di masyarakat.

“Kalau kembang api sudah kita lakukan dari awal di bulan suci ini. Kita juga sudah menghimbau melalui kepolisian pada saat rapat Forkopimda itu supaya di hulunya itu sudah dilarang,” tegas Rauh. (win)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *