Ilustrasi kereta gantung Rinjani (IST/RADAR MANDALIKA)

PRAYA – Kelanjutan pembangunan kereta gantung menuju kawasan Gunung Rinjani dari kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Nuraksa di Desa Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah (Loteng) masih menjadi tanda tanya.

Padahal, pihak investor bersama Gubernur NTB Dr. Zulkieflimansyah dan Bupati Loteng H Lalu Pathul Bahri telah melakukan peletakan batu pertama pembangunan kereta gantung senilai Rp 2,2 triliun itu pada 18 Desember 2022.

Menanggapi itu, Production Manager PT Indonesia Lombok Resort (ILR) Ahui menegaskan, pembangunan kereta gantung Rinjani dipastikan jalan terus. Namun saat ini ada beberapa faktor penghambat sehingga proyek pembangunan kereta gantung Rinjani tertunda alias belum dilanjutkan. Salah satunya, pihaknya masih menunggu kepastian dari pemerintah daerah (Pemda) terkait pembangunan pelebaran jalan menuju lokasi pembangunan kereta gantung tersebut.

Dia mengakui, sebelumnya pernah melakukan rapat dengan Pemprov NTB terkait pelebaran jalan yang dimaksud. Tapi masalahnya adalah siapa yang akan mendanai, apakah dari Pemkab Lombok Tengah atau Pemprov NTB, ini belum ada kejelasan.

“Justru belum, rapat kemarin pemerintah saling menunjuk siapa yang mendanai Pemkab atau Propinsi. Jadi, Rabu ini kita akan ada rapat lagi,” ujarnya pada Radar Mandalika, Senin (15/5/2023).

Sehingga, masih belum ada informasi yang jelas mengenai pembangunan  pelebaran jalan seperti yang dijanjikan pemerintah. Pelebaran jalan itu dimulai dari titik mana sampai titik akhir pelebaran jalan yang ditangani dari pemerintah. Selanjutnya terusan jalan tersebut akan ditangani pihak perusahaan/investor.

“Kalau jalan yang kabupaten pemerintah yang bangun. Kalau yang jalan ke atasnya yang menyambung dengan jalan kabupaten kita yang bangun,” terangnya.

“Makanya kita perlu tau dimana akhir jalan yang akan dibangun pemerintah. Jadi, kita bisa langsung bekerja tanpa harus tunggu pemerintah memulai pelebaran jalannya. Karena mereka kan perlu ajukan dulu ke DPR,” tambah Ahui.

Kembali ditegaskan, mengenai pembangunan pelebaran jalan oleh pemerintah masih belum ada kejelasan dimulai dari mana dana sampai mana. Sementara, pihaknya perlu pembangunan akses jalan menuju lokasi proyek pembangunan kereta gantung Rinjani.

“Jadi pembangunan pertama kita targetkan ke jalan akses dulu sambil memproses AMDAL,” jelasnya.

Belum adanya AMDAL juga menjadi salah satu faktor penghambat bagi perusahaan belum bisa melanjutkan pembangunan kereta gantung tersebut. Namun akhir bulan Mei, kata Ahui, pihaknya akan mulai menyusun AMDAL.

“Kalau untuk pembangunan kereta gantung kan harus ada AMDAL dulu. Amdal juga yang utama karena belum ada AMDAL kita juga belum bisa berbuat apa-apa,” terangnya.

Namun  begitu, pihaknya meminta kejelasan atau kepastian dari pemerintah terkait pelebaran jalan dimulai dari titik mana dan titik akhirnya dimana yang menuju kawasan pembangunan kereta gantung. Nanti sembari pihaknya mengurus AMDAL untuk bisa memulai pembangunan kereta gantung tersebut.

“Kalau jalan akses dari jalan kabupaten menuju lokasi kan masuk daerah HKM, dan wilayah HKM itu yang akan kita bangun jalannya. Setelah bangun jalan baru base camp sampai AMDAL keluar baru mulai pembangunan kereta gantung-nya. Kalau gak ada akses bagaimana bisa melakukan pembangunan,” katanya.

Yang jelas, pihaknya yang akan membangun jalan menuju lokasi proyek pembangunan kereta gantung dari titik akhir pembangunan jalan yang ditangani pemerintah. “Makanya kita minta kepastian titik akhir jalan yang mau dilebarkan dari mana, supaya kita baru bisa buat design-nya dan juga perlu juga ijin lingkungan walaupun hanya pembangunan jalan,” katanya.

Saat ini, pihaknya masing menunggu proses di Dinas PUPR NTB dan juga proses penyampaian data dan perubahan DED pembangunan kereta gantung dengan pihak mitra dalam hal ini perusahaan yang akan mengerjakan kereta gantung Rinjani. Tapi untuk waktu dekat pihaknya meminta kepastian dari Pemda soal pelebaran jalan tersebut.

“Seperti yang sudah saya jelaskan jalan itu yang utama karena kita bermitra dengan perusahaan besar pemerintah (BUMN China, red)) seperti BUMN Indonesia. Jadi kalau mereka sudah mulai proyeknya ternyata jalannya masih kecil dan belum ada kepastian maka mereka akan ragu untuk investasi karena pembangunan kereta gantung ini memakan biaya yang besar,” tutupnya.(zak)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 508

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *