Namanya Muhammad Yusuf Ronodipuro.

Mungkin tidak banyak yang mengingat namanya hari ini. Tetapi pada malam 17 Agustus 1945, suara pria inilah yang membawa kabar kemerdekaan Indonesia menembus batas negeri.

Bayangkan…

Indonesia baru saja memproklamasikan kemerdekaannya.

Pukul 10.00 pagi, Soekarno membacakan Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.

Tetapi ada satu pertanyaan besar:

Bagaimana dunia akan tahu bahwa Indonesia telah merdeka?

Jawabannya ada di sebuah gedung radio yang dijaga ketat tentara Jepang.

Di Radio Hoso Kyoku, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, seorang pemuda berusia 26 tahun bernama Muhammad Yusuf Ronodipuro sedang terkurung bersama para pegawai radio.

Sejak 14 Agustus 1945, tentara Kempetai memperketat penjagaan. Tidak sembarang orang boleh masuk. Tidak ada yang boleh keluar. Siaran ke luar negeri dihentikan.

Kemudian, pada sore 17 Agustus, datanglah sebuah pesan rahasia.

Seorang pegawai kantor berita Domei, Syahruddin, berhasil menyusup melalui tembok belakang gedung.

Ia membawa kabar dari Adam Malik:

Soekarno dan Mohammad Hatta telah membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Yusuf langsung bergerak.

Bersama Bachtiar Loebis dan teknisi radio Joe Seragih, mereka mencari cara agar berita kemerdekaan itu bisa mengudara.

Semua studio dijaga tentara Jepang.

Namun Yusuf mengetahui satu tempat yang luput dari pengawasan: studio siaran mancanegara yang sudah tidak digunakan.

Masalahnya, studio itu tidak terhubung dengan pemancar.

Joe Seragih kemudian bekerja cepat.

Kabel-kabel diubah.

Sambungan dipindahkan.

Dan sebuah jalur rahasia menuju pemancar internasional berhasil dibuat.

Pukul 19.00 WIB.

Yusuf Ronodipuro mengambil mikrofon.

Dengan risiko nyawa, ia membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia.

Sekitar 20 menit kemudian, teks yang sama dibacakan dalam bahasa Inggris.

Pesan itu kemudian dapat ditangkap dan diteruskan oleh jaringan radio internasional.

Dunia akhirnya mendengar.

Indonesia telah merdeka.

Tetapi ada konsekuensinya.

Siaran tersebut juga terdengar oleh pihak Jepang.

Kempetai murka.

Yusuf dan Bachtiar Loebis ditangkap dan dipukuli hingga babak belur.

Dalam sebuah kisah yang begitu mengerikan, seorang perwira Jepang bahkan menghunus katana dan hampir memenggal kepala Yusuf.

Nyawanya terselamatkan setelah seorang pegawai Nippon masuk dan menghentikan penyiksaan, mengingatkan bahwa Jepang telah kalah perang.

Tubuh Yusuf penuh luka.

Pakaiannya berlumuran darah.

Namun ia masih hidup.

Dalam kondisi seperti itu, ia bersepeda menuju rumah sahabatnya, pelukis Basuki Abdullah, di kawasan Gambir.

Keesokan harinya, Yusuf mendapatkan perawatan di rumah sakit Salemba, yang kini dikenal sebagai RSCM.

Namun perjuangannya belum selesai.

11 September 1945, Yusuf Ronodipuro bersama tokoh-tokoh radio lainnya mendirikan Radio Republik Indonesia (RRI).

Dari perjuangan itu lahir sebuah kalimat yang kemudian menjadi legenda:

“Sekali di Udara, Tetap di Udara.”

Bukan sekadar slogan.

Bagi Yusuf, kalimat itu adalah semangat perjuangan.

Ia telah mempertaruhkan nyawanya agar suara Indonesia tetap terdengar.

Muhammad Yusuf Ronodipuro lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 30 September 1919.

Ia wafat di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, pada 27 Januari 2008, dalam usia 88 tahun.

Namanya mungkin tidak selalu muncul di halaman depan buku sejarah.

Tetapi sejarah Indonesia pernah membutuhkan keberaniannya.

Karena pada malam 17 Agustus 1945, ketika Indonesia baru saja berdiri sebagai bangsa merdeka, seorang pemuda mempertaruhkan nyawanya agar dunia mendengar satu kalimat:

🇮🇩 INDONESIA TELAH MERDEKA

Dan mungkin, itulah salah satu bentuk patriotisme paling sunyi dalam sejarah kemerdekaan kita.

Ia tidak mengangkat senjata.

Ia mengangkat mikrofon.

Tetapi nyawanya hampir menjadi taruhan.

💕🇮🇩

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *