Pilkada Lobar, Duet Farin-Dayah Menguat

  • Bagikan
IMG 20230317 WA0014
Naufar F Farinduan (JHONI SUTANGGA/RADAR MANDALIKA)

MATARAM – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2024 terbilang masih lama. Namun, sejumlah figur di Lombok Barat (Lobar) mulai terang-terangan menunjukkan sikap siap tampil untuk maju di Pilkada Lobar nantinya. Salah satunya adalah Ketua DPC Partai Gerindra Lobar, Naufar F Farinduan.

“Saya sudah niat dari awal ingin mengembangkan Lombok Barat,” tegasnya di Mataram, kemarin (16/3/2023).

Pimpinan DPRD NTB itu menerangkan, komunikasi maupun penjajakan pasangan nantinya juga sudah mulai ia lakukan. Meski saat ini belum bisa dipastikan siapa saja sosok figur yang akan menjadi pendampingnya.

Namun, salah satu figur yang sering disebut-sebut akan mendampinginya adalah Hj.Nurhidayah yang juga Sekretaris DPC Gerindra Lobar.

Menanggapi itu, Farin menegaskan keputusan siapa yang akan berpasangan dengan siapa, siapa yang menjadi Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati nantinya itu sepenuhnya menjadi urusan pimpinan Partai.

“Keputusan Paslon ini bergantung pada keputusan Parpol,” jelasnya.

Namun begitu, Farin mengatakan siapapun nantinya yang menjadi pasangannya selagi itu yang terbaik bagi pemangku keputusan di partai tentu ia akan menerimanya.

“Siapapun itu,┬ákita serahkan ke Parpol. Parpol bisa melihat siapa yang terbaik demi kemaslahatan masyarakat Lobar,” terangnya.

Kembali menyinggung duet Farin-Nurhidayah. Farin menerangkan, jika memungkinan sesama Gerindra dan tentunya mendapat dukungan dari parpol lain, maka hal itu tidak ada masalah.

“Kalau memungkinkan sesama Gerindra dan partai lain mendukung kenapa tidak,” ucap politisi ramah senyum itu.

Lalu bagaimana dengan figur lain di Lobar? Bagi Farin tokoh lain di Lobar dianggap sahabat. Sebagai sesama kompetitor tujuannya sama ingin untuk membangun daerah. Terpenting, lanjutnya, para figur tidak mengkapitalisasi suara rakyat.

“Yang terpenting jangan mengkapitalisasi suara rakyat menjadi sebuah komoditas politik. Jangan sampai nanti mengkapitalisasi suara rakyat ini berarti menyamakan seperti komoditas komoditas di tengah pasar. Sehingga menjadi dagangan politik,” pungkasnya. (jho)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *