Petani Padi Gigit Jari

F Petani 2

KHOTIM/RADARMANDALIKA.ID PETANI: Sejumlah petani saat melakukan cocok tanam padi, Minggu siang kemarin.

PRAYA – Penyakit tahunan bagi petani padi muncul lagi. Lagi-lagi soal pupuk bersubsidi yang mendadak langka di pasaran. Dari masalah ini, sejumlah petani mengaku bisa terancam gagal panen jika tidak segara ada tindaklanjut pemerintah.

Informasi yang dihimpun wartawan Radarmandalika.id pendistribusian pupuk dari distributor ke pengecer akan mulai dibuka per 15 Januari 2021, namun jika informasi tersebut benar maka dapat dipastikan pemupukan petani akan terlambat dan akan berdampak pada penurunan hasil produkasi.

Petani asal Desa Bagu, Rifa’i  menyampaikan, pihaknya tidak mendapatkan pupuk mengingat kondisi pupuk sudah habis di ketua kelompok taninya. Di lahan pertanian garapannya sekitar 50 are pihaknya membutuhkan sekitar 200 kg pupuk dalam sekali tanam padi.

“Yang melakukan tanam padi dengan waktu paling akhir ya akan beresiko tidak dapat pupuk,” ungkapnya di lokasi.

Kendati petani diberikan jatah pupuk subsidi, namun dirasakan belum cukup, dan harus membeli non subsidi yang harganya selangit. Bahkan bibit padi dari pemerintah kepada petani dimana pihaknya dapat 4 pcs isi 10 kg, namun tidak bisa tumbuh.

“Sudah kita coba rendam namun tidak ada perubahan, dan terpaksa harus beli sendiri secara mandiri jenis inpari 32,” bebernya.

Sementara, petani asal Desa Batunyala, Kecamatan Praya Tengah, Desi mengeluhkan persoalan pupuk, dimana pihaknya sangat kesulitan mendapatkan pupuk subsidi, bahkan  kalau melalui kelompok tani pihaknya akan mendapatkannya bulan Januari 2021.

“Terpaksa kami harus beli di pengecer dengan harga yang tidak wajar, sampai 700 ribu sampai dengan 1 juta per saknya,” katanya.

Ketua kelompok tani di Kecamatan Praya yang enggan dimediakan namanya membeberkan, persoalan kelangkaan pupuk hanya akan membuka ruang permainan mafia pupuk.

Dijelaskan dia, data E-RDKK untuk 2021 terjadi pengurangan subsidi pupuk hampir 70 persen, penghapusan subsidi pupuk SP-36 akan menambah parah kondisi petani kedepannya. Pihaknya sangat kecewa dengan Dinas Pertanian Lombok Tengah yang cenderung pasif melihat masalah ini, padahal potensi masalah sosial sangat besar kedepan terutama pada petani yang belum mengetahui kebijakan pemerintah terhadap pupuk bersubsidi.

“Saya atas nama petani dan ketua kelompok tani berharap kepada bupati untuk membantu dan mencarikan jalan keluar,” pintanya.

Pupuk subsidi, harusnya berkisar diharganya 180 ribu rupiah per sak, namun di saat langka begini harganya bisa mencapai 300 ribu rupiah,  dan non subsidi bisa mencapai 1 juta.

Dia menyatakan belum ada solusi karena yang mereka butuhkan pupuk tidak tersedia dan bisa potensi gagal panen, atau kalaupun dapat panen dengan kondisi padi yang kerdil dan tidak maksimal (Rugi).

“Kasihan petani kita, setiap hari banyak yang datang ke rumah mencari pupuk,” katanya.

Ditambahkan dia, padahal di gudang distributor pupuk subsidi sudah ada. Pertanyaan besar saat ini yakni, kenapa distribusi tanggal 15 Januari 2021?.

Terpisah, Ketua Forum Kelompok Tani Lombok Tengah Sahabudin memastikan kelangkaan pupuk yang terjadi akibat kurang pedulinya Dinas Pertanian pada petani.”Rencana-nya Minggu depan kita akan pertanyakan ke dinas,” janjinya.(tim)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Wagub Minta Santri Berperan Aktif

Read Next

Perayaan Tahun Baru Ditiadakan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *