DIKI WAHYUDI/RADAR MANDALIKA NANGIS: Andra Itayani alias Inaq Panji menangis sejadi-jadinya di depan kuburan anaknya, Jumat kemarin.

Bolak-balik Rumah Sakit, Dicium Ayah Langsung Meninggal Dunia

 

 

Hati orangtua mana yang tidak hancur setelah mengetahui anaknya meninggal dunia. Apalagi, perjuangan yang begitu berat harus dilalui hanya untuk mendapatkan pertolongan medis. Sampai-sampai bolak-balik rumah sakit.

 

DIKI WAHYUDI-LOMBOK TENGAH

 

STATUS yang diposting di media social facebook oleh Andra Itayani alias Inaq Panji, 24 tahun membuat dunia maya heboh. Wanita dari Kecamatan Janapria itu sambil menangis menulis status soal perjalanan dirinya menyelamatkan nyawa sang anak yang baru berusia 4 bulan bernama, Lailan Mahsyar.

Kepada Radar Mandalika, Inaq Panji kembali menangis ketika mengingat tulisan status yang pernah dia posting.

“Saya harus bolak-balik ke rumah sakit untuk berharap ada pertolongan pertama,” katanya sembari mengusap air mata, Jumat pagi di Dusun Pemotoh Barat Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara.

Dalam kesempatan itu, Inaq Panji menceritakan awal mula perjalanan keluarga melarikan putra keduanya ke rumah sakit. Dikatakannya, Hari Rabu kemarin pukul 10.00 wita anaknya dalam kondisi sehat. Di rumah usai azan zuhur tiba-tiba sang anak demam. Dia pun melaporkan ke suami, tapi suami menganggap itu hal biasa. Tidak lama, kondisi malah semakin memburuk. Balita 4 bulan ini semakin tinggi demam ditambah susah bernafas. Suami pun bertanya dengan rekannya yang anaknya pernah mengalami kondisi yang sama di satu desa. Saran rekannya agar sang anak dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya karena di sana alat lengkap.

“Kami pun memutuskan membawa langsung ke RSUD Praya,” katanya.

Setibanya di UGD RSUD Praya, petugas di sana mengatakan tidak bisa menerima pasien karena ruangan penuh. Tapi Inaq Panji minta tolong agar diberikan pertolongan pertama, namun tidak diberikan juga. Pihak di RSUD menyarankan membawa ke RSCM Praya di Leneng dengan dalih alat lebih lengkap di sana.

Saking panic, sang ibu dan keluarga langsung membawa balita ini ke RSCM. Tapi di tengah perjalanan, Inaq Panji anak lebih dekat dan  ada spesialis anak di Klinik Yusra sekitar pukul 3 sore. Nasib berkata lain, petugas di Klinik Yusra menyampaikan jika dokter belum datang.

“Baru setelah itu saya ke RSCM, di sana saya ditolak. Sempat juga ditanyak pakai BPJS atau umum, orangtua saya bilang sambil pukul meja pakai umum pokok cucu saya sehat,” ungkapnya.

Tapi anehnya, oleh petugas kesehatan di RSCM juga mempertanyakan kenapa tidak diberikan pertolongan pertama oleh pihak RSUD dengan kondisi parah begini. Bahkan pihak RSCM menyebutkan, lebih lengkap alat di RSUD dan RSUD Provinsi NTB sehingga disarankan untuk dirujuk.

“Di RSCM kami diterima tapi itu pun dalam posisi sambil saya gendong anak. Mau bagaimana lagi,” ceritanya lagi sambil menangis.

Sebelum menyetujui dirujuk ke RSUD Praya yang lebih dekat, pihak RSCM menyampaikan kalau bisa hubungi orang dalam di RSUD. Sehingga ibu almarhum mencoba hubungi keluarga bahkan rekannya untuk bisa dikomunikasikan dengan orang dalam di RSUD.

“Itu posisi anak saya sedang diberikan oksigen, tapi bukan yang menggunakan selang dalam hidung,” ungkap dia.

Setidaknya dua jam menunggu, akhirnya pihaknya menerima kabar bisa diterima di RSUD. Karena minta bantuan orang di dalam, sampai RSUD sang anak langsung diberikan pertolongan petugas dan dokter.

“Saya tidak tahu bagaimana tiba-tiba kami diterima, kami syukur sekali. Pertolongan terus diberikan kepada anak saya, bahkan sampai diinfus meskipun beberapa kali dimasukan jarum dan gagal. Pas Magrib di situ anak saya meninggal dunia setelah dicium ayahnya,” tuturnya.

“Pas tengah malam setelah kami di rumah baru saya tulis status di facebook itu,” sambungnya.

Pascadilakukan pemakaman di pemakaman keluarga Hari Kamis, malamnya Inaq Panji tidak bisa tidur di rumah. Dia pun bermalam di samping kuburan anaknya dan mendirikan tenda kecil.

“Saya tidur di situ,” katanya sambil menunjukkan.

Namun di balik ini semua, keluarga Inaq Panji sangat menyayangkan sikap pihak rumah skait yang tidak segera memberikan pertolongan pertama. Parahnya lagi, baru masuk ruang UGD selalu ditanyakan pakai BPJS atau umum.

“Disitu saya marah sekali kalau ingat itu,” pungkasnya.(*)

 

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 379

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *