Pengemis dan Pengamen Masih jadi PR Pemkot

F AA Pengamen

DINSOS/RADAR MANDALIKA JADI ATENSI: Anggota Satgas Sosial Kota Mataram menjaring seorang anak perempuan yang sedang mengamen di simpang Airlangga (Kampus STIE AMM), belum lama ini.

MATARAM – Keberadaan anak jalanan (Anjal) dan gelandangan pengemis (Gepeng) hingga saat ini masih menjadi tugas berat atau pekerjaan rumah (PR) Dinas Sosial (Dinsos) Kota Mataram. Pasalnya, seperti pengemis dan pengamen masih ditemukan di berbagai titik di wilayah ibu kota Provinsi NTB. Terutama di simpang empat lampu lampu stop, toko, dan lain sebagainya.

Keberadaan mereka hingga saat ini masih cukup sulit ditangani oleh Dinsos Kota Mataram. Parahnya lagi, tidak sedikit juga pengemis dan pengamen yang masih berusia anak-anak. Yang notabane masih berusia sekolah dan merupakan generasi penerus bangsa yang sangat butuh pendidikan. 

Namun, Pemkot Mataram bukan berarti berpangku tangan, tanpa bertindak untuk melakukan penertiban. Dinsos melalui personel satuan tugas (Satgas) sampai sekarang terus melakukan razia diberbagai titik. Tetapi masih saja diantara mereka masih terlihat berkeliaran diberbagai titik. 

Kepala Dinsos Kota Mataram, Hj Baiq Asnayati mengungkapkan, pihaknya melalui Satgas tidak bisa melakukan pengawasan atau razia secara rutin. Dalam upaya penertiban, dinas sangat membutuhkan keterlibat masyarakat. Paling tidak, masyarakat bisa melapor ke dinas jika melihat atau menemukan pengemis, pengamen atau Anjal dan Gepeng.

“Kita gak bisa mengawasi 24 jam. Dalam hal ini tergantung pembinaan dari orang tua,” kata dia, belum lama ini.

Asnayati menyebutkan, jumlah personel Satgas Dinsos ada 48 orang. Dengan wilayah Kota Mataram yang terbilang tidak terlalu luas. Jumlah personel Satgas yang ada saat ini disebutnya terbilang sudah cukup. Dalam melakukan penertiban atau razia terhadap pengemis dan pengamen.

“Tetap keliling Satgas kita. Kita atur dengan shif-shifan,” ujar perempuan asal Lombok Timur (Lotim) itu.

Asnayati menegaskan, Satgas memang bertugas untuk memantau gerakan para Anjal dan Gepeng. Namun tugas yang diemban tersebut tidak bisa maksimal tanpa peran aktif dari warga masyarakat sendiri. Terutama bagi para orang tua disebutnya perlu memberikan pembinaan ke anak.

“Kalau ada info dari masyarakat kita intip. Kalau ada foto, kita kejar dia,” cetus perempuan berjilbab itu.

Dalam melakukan penertiban atau razia di lapangan. Satgas disebutnya keranpkali main kucing- kucingan dengan pengemis dan pengamen saat akan ditertibkan. Jika ada yang ditemukan, Satgas langsung memberikan pembinaan dan diserahkan ke orang tua atau tempat tinggal untuk diberikan arahan.

“Kita main kucing-kucingan. Tapi tetap kita kejar. Serba salah di masa covid ini,” kata Asnayati.

Ditanya soal anak yang jadi pengemis dan pengamen. Apakah itu termasuk eksploitasi anak. Atau ada kesengajaan alias dipekerjakan oleh orang tua. Asnayati mengatakan, bahwa orang tua mereka tidak tahu anaknya berkeliaran jadi pengemis atau pengamen. “Itu setahu saya kalau di Kota Mataram,” jelas dia.

Kasus di Mataram disebutnya atas kemauan dari anak-anak sendiri. Dalam arti, bukan termasuk ekploitasi atau mempekerjakan anak. “Bukan eksploitasi atau mempekerjakan anak,. Kita akan tetap atensi,” tegas Asnayati.

Belum lama ini, dia sendiri menuturkan pernah melihat secara langsung ada seorang anak sedang mengamen di perempatan lampu merah di Gomong. Untuk itu, Asnyati mengimbau masyarakat agar jangan memberi sesuatu kepada pengemis maupun pengamen. Karena masih banyak cara lain kalau memang ingin beramal. 

“Kita tegakkan aturan dan kembali ke aturan. Hak-hak anak kita berikan,” kata dia. (zak)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Pleno, KPU Loteng Dihujani Kritikan

Read Next

Lomba Surfing Berhasil Sedot Wisatawan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *