Neti Autovi, Penderita Kaki Gajah dari Desa Sesait

f BOKS

IST/RADAR MANDALIKA BUTUH BANTUAN: Neti Autovi penderita kaki gajah yang membutuhkan pertolongan medis.

Sakit Sejak Lahir, Malu Keluar Hanya Main di Rumah Saja


Semua orang tentu ingin merasakan kehidupan yang sehat dan hidup yang normal. Namun nasib yang kurang beruntung dirasakan Neti Autovi. Dia menderita sakit disebut kaki gajah sejak lahir.

ROHADI-LOMBOK UTARA

BARU berusia 7 tahun warga Dusun Pokok Ara, Desa Sesait, Kecamatan Kayangan Lombok Utara. Kabarnya sejak lahir, Neti Autovi sudah mengalami gangguan kesehatan, yakni penyakit kaki gajah namanya pada kaki kanan.

Anak yang masih membutuhkan perhatian dan perawatan orang tua itu, kini hanya bisa duduk dan tidur di rumah. Jika ingin keluar dari rumah, ia harus ngesot atau menyeret badan dan tangannya. Karena dipaksakan demikian, kakinya pun kini lecet.

Relawan kemanusiaan dari Yayasan Endri’s Lombok Utara, Fahmi saat menyambangi kediaman Neti mengakui kondisi Neti masih membutuhkan perhatian. Penyakit kaki gajah yang dialami belum membaik, malah terlihat mengalami masalah baru dari kakinya yang terlihat luka. Itu akibat gesekan dengan lantai dan tanah saat berjalan.

 “Adik Neti sangat membutuhkan bantuan kita semua, mari membantu doa dan dukungan kepada adek kita agar dia bisa belajar bermain seperti teman-teman sebayanya,” kata Fahmi kepada wartawan Radar Mandalika, kemarin.

Hak Neti untuk menikmati masa bahagia saat di usia anak-anak ini seperti sirna. Akibat penyakitnya, Neti lebih banyak mengurung diri di rumah. Karena untuk bermain bersama dengan teman sebaya, Neti kerap merasakan rasa minder dengan kondisinya.

 “Terkadang Adek Neti malu bermain bersama teman-temannya karena kakinya yang besar. Dia juga sering dikatakan si kaki besar, sehingga membuat dirinya kadang-kadang bersedih,” tuturnya.

“Makanya dia lebih banyak bermain di halaman rumahnya sendiri,” ceritanya.

Fahmi mengakui kini pihaknya di Yayasan sedang berupaya memberikan pertolongan, dengan menjadikannya sebagai dampingan yayasan. Ia berharap semua pihak bisa membuka hati dalam memberikan perhatian, baik dalam bentuk bantuan keuangan untuk pengobatan medis lanjutan.

Karena pihak rumah sakit menyarankan Neti untuk melakukan operasi ketiga, pihak keluarga mengaku masih belum siap dengan kebutuhan biaya pendampingan di rumah sakit selama proses perawatan dan operasi berjalan.

 “Adik Neti punya BPJS tapi pihak keluarga dari kedua orang tuanya membutuhkan biaya untuk menunggu di sana (rumah sakit, red),” ujarnya. (*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Paket Dwi-Normal Semakin Berat

Read Next

Terbaru, Dua Bayi Positif Covid-19

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *