Nasih, IRT yang Diserang Tumor Ganas Belasan Tahun di Perutnya

bok

HAZA/RADAR MANDALIKA MEMPRIHATINKAN: Nasih dan suaminya saat duduk berdampingan menerima kedatangan wartawan Radar Mandalika, Sabtu siang.

Dikira Hamil, Sekarang Perut Terus Membesar

Nasih adalah seoarang ibu rumah tangga (IRT). Dia memiliki satu orang anak, ia bersama keluarga tinggal di kampung pedalaman di Dusun Bun Kawang, Desa Barejulat, Kecamatan Jonggat.

HAZA-LOMBOK TENGAH

SABTU siang sekitar pukul 11.00 Wita, wartawan Radar Mandalika mencari alamat ke Dusun Bun Kawang, Desa Barejulat, Kecamatan Jonggat. Radar Mandalika akan menemui salah satu warga yang bernama Nasih, dia seorang ibu rumah tangga (IRT). Kabarnya, dia diserang tumog ganas di perutnya. Parahnya lagi, diakuinya sudah belasan tahun dirasakan.

Untuk sampai ke tempat kediaman Nasiah, butuh waktu yang lama dan cukup melelahkan. Pasalnya, jalan ke tempat tinggalnya tak mudah ditemui. Jalan ke sana harus menggunakan sepeda motor. Kendaraan roda empat tidak bisa masuk. Jalan ke kampungnya juga memprihatinkan, becek.

Namun Radar Mandalika tidak menyerah untuk mencari alamat Nasih ini, ia dan keluarga tinggal di gubuk yang cukup sepi dan berjarak dengan rumah warga lainnya.

Hampir setengah jam perjalanan dari Praya ke lokasi, sebab jalan yang ditempuh sangat terjal dan melalui parit-parit sawah warga untuk bisa ke rumahnya. Setelah sampai di lokasi Radar Mandalika langsung diterima Nasih dan suaminya, Nurawi.

 “Adik siapa?” Tanya Nasih.

Nasih menyempatkan diri bercerita kepada Radar Mandalika. Dia mengaku, gejala awal tidak ada sama sekali, sehingga pihak keluarga mengira Nasih tengah berbadan dua atau hamil untuk kedua kalinya. Wanita yang lahir di Bunkawang 1957 ini mengetahui ada tumor setelah menjalani pemeriksaan setelah setahun. Sementara pihak keluaraga hanya rencana saja untuk menajalani operasi, gara-gara  tidak ada biaya, belum lagi BPJS Kesehatan juga tidak pernah buat atau daftar.

Katanya, sebelum mengalami pembesaran perobatan tetap dilakukan, mulai dari mengunjungi berbagai mantri atau dokter selain pemerikasaan rutin dua kali seminggu ke RSUD Praya, namun itu hanya meringankan nyeri saja tidak menyembuhkan. Saking seringnya berobat, sampai menghabiskan biaya akhirnya pihak keluarga tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya berdoa untuk minta kesebuhan karena biaya pengobatan sudah tidak ada.

Sekarang, istri dari Nurawi ini sangat mebutuhkan biaya untuk operasi. Kalau lamban ditangani, tentu dipastikan pembengkakan di bagian perut akan semakin membesar.

“Kalau ada rasa sakit baru kita bawa ke ke dokter, tapi hanya menghilangkan rasa nyeri saja,” kata sang suami.(*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Lobar, Longsor Empat Rumah Rusak

Read Next

Satgas Covid-19 Loteng Kecolongan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *