Mitigasi Bencana Lobar Dinilai Lemah

  • Bagikan
F BENCANAA.
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA BANJIR: Genangan air di kawasan Meninting Kecamatan Batulayar yang sempat belum surut selama dua hari, Selasa (7/12) lalu.

LOBAR—Penyebab bencana banjir bandang dan longsor yang menerjang kawasan Lombok Barat (Lobar) Senin (6/12) lalu menjadi sorotan. Pasalnya meski Pemkab Lobar sudah mendapat informasi prediksi dari BMKG mengenai curah hujan dua kali lebih tinggi dari tahun sebelumnya, langkah mitigasi bencana justru kurang. Bahkan mitigasi bencana yang dilakukan Pemkab Lobar dianggap lemah.

Anggota Komisi II DPRD Lobar, Abu Bakar Abdullah mengharapkan bencana yang melanda Kecamatan Gunungsari, Batulayar dan Sekotong bisa menjadi pelajaran bagi pemkab untuk membenahi mitigasi bencana. “Ini harus dipertimbangkan, bagaimana kita melihat dampak musibah ini. Lima orang meninggal, belum lagi rumah-rumah yang roboh, warga kita terus berada di tenda-tenda pengungsian sampai kapan,” ujar Abu yang dikonfirmasi, Rabu (8/12).

Politisi PKS itu turut berbelasungkawa atas korban yang meninggal dunia akibat bencana yang terjadi. Ia sendiri pun merupakan korban terdampak banjir yang terjadi di Meninting Batulayar. Kediamannya turut tergenang hingga mencapai dada orang dewasa. Banjir terjadi kurang dari dua puluh menit. Sehingga ia menilai bencana itu menjadi pelajaran yang berharga untuk mengambil hikmahnya. “Jangan sampai kemudian lemah melakukan mitigasi bencana,” kritiknya.

Dari sisi tata ruang kawasan Lombok Barat (Lobar) menurutnya perlu dilihat kembali. Lantaran diduga terjadi alih fungsi lahan secara massif, agar zonasi suatu kawasan bisa makin jelas. Apabila itu zona hijau tetap zona hijau  tidak ada tawar menawar. Ia mencontohkan masih kurangnya drainase di jalur jalan negara di kawasan Meninting. Bahkan jalan di depan kantor Desa Meninting tak memiliki drainase. Sehingga wajar jika air tak mengalir dan justru mengalir ke rumah warga. Ia begitu sedih dengan kondisi bencana ini karena tak hanya menghilangkan lima nyawa, namun kerusakan yang ditimbulkan cukup parah. Hingga rumah tahan gempa (RTG) yang baru terbangun dan sudah lama diharapkan korban gempa, kini rusak. “Bagi kita yang diberikan rezeki lebih dari allah untuk bersama-sama saling membantu,” ajaknya.

Sementara itu Camat Batulayar, Afgan Kusuma Negara menilai bencana banjir yang terjadi itu tak ada kaitan dengan kawasan perbukitan yang terdapat villa. Karena kejadiannya di daerah hulu sungai. “Di daerah hulu tempatnya, sumber-sumber airnya pada hutan yang cukup subur. Mungkin tanahnya labil,” jelasnya.

Ia menambahkan jika kejadian longsornya di kawasan Makam Batulayar atau belakang kantor camat, maka wajar jika menyalahkan kawasan villa.

Sebelumnya Bupati Lobar H Fauzan Khalid mengatakan jika penyebab bencana itu karena curah hujan yang dua kali lebih besar dari tahun sebelumnya. Bahkan hanyutnya pohon itu bukan karena penebangan atau perusakan hutan. “Tapi tingginya intensitas hujan, kemudian longsor dan kayunya ikut. Jadi bukan karena perusakan hutan,” tegasnya.(win)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *