Menyambangi Ibu-ibu Pengrajin Ketak di Dusun Kandong

F Bok 2

SEMANGAT: Atun dan seorang IRT tengah membuat ketak saat dijumpai Radar Mandalika, Minggu sore kemarin.

20 Tahun Sebagai Pengrajin, Atun Berhasil Sekolahkan Anak  

Namanya Atun, dia seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) usia 39 tahun merupakan warga Dusun Kandong, Desa Lajut, Kecamatan Praya Tengah. Sekarang, sehari-harinya Atun bersama IRT yang lain, disibukkan dengan membuat ketak. Seperti apa? Berikut catatan wartawan Radar Mandalika.

HAZA-LOMBOK TENGAH

MINGGU sore sekitar pukul 15.00 Wita, Radar Mandalika berangkat ke Dusun Kandong Desa Lajut, Kecamatan Praya Tengah. Sebab di Dusun Kandong dikenal banyak para Ibu Rumah Tangga (IRT) aktif sebagai pengrajin ketak. Ada sekitar 20 IRT yang aktif memproduksi ketak untuk dijadikan rupiah. Di lokasi, Radar Mandalika langsung menyapa beberapa IRT yang tengah sibuk membuat ketak.

“Ada yang bisa saya bantu dek,” kata Atun menyambut kedatangan Radar Mandalika.

Kepada Atun, Radar Mandalika mulai mengupas perjalanan para pengjarin ketak di sana. Dia mengaku, sebagian besar IRT di sana menjadi pengrajin ketak. Selama ini, para IRT mencari tambahan biaya hidup tambahan dari hasil ketak.

Atun menceritakan, dirinya juga sudah sekitar 20 tahun menjadi pengrajin ketak. Bahkan selama ini, hasil ketak bisa menambah ekonomi keluarga termasuk membiayai anak sekolah. Atun menuturkan, sebelumnya ia pernah menjadi seorang pengepul hasil pengrajin ketak. Namun ia sempat menghentikan usaha ini. Tak lema kemudian, usaha ini kembali dijalankannya. Karena tidak ada modal, dia terpaksa menjadi buruh pengrajin ketak.

“Sehari saya bisa buat dua model ketak, itu kalau saya maksimal bekerja,” ungkap ibu anak tiga itu.

Dijelaskan Atun, untuk membuat ketak dibutuhkan modal tidak begitu besar. Cukup Rp 50 ribu bisa membuat enam ketak dengan berbagai model. Bahkan kalau kreatif bisa sampai tujuh ketak. Atun menerangkan, bahan untuk membuat kerajinan ketak biasa dia beli di para pengepul. Selanjutnya hasil pun dijual kepada pengepul.

“Satu ketak kami jual 16 ribu kepada pengepul. Biasanya kami jual seminggu sekali kepada mereka,” ceritanya.

Atun menerangkan, dalam membuat ketak tidak mudah. Disebut agak rumit ketika ada pesanan khusus dari calon pembali. Sebagai pengrajin ketak tentu ada resiko lebih besar juga. Salah satunya, tangan jadi korban karena kenak tusuk jarum atau alat untuk melubangi ketak.

“Kalau pemula pasti kenak tusuk, kita harus lebih teliti. Kadang kita buat tidak sesuai pesanan sehingga kita akan rombak kembali,” kata istri Mahsun itu.

Atun menuturkan, pendapatan dia perminggunya kurang lebih Rp 100 ribu. Tapi kalau menerima pesanan yang rumit dengan harga yang tinggi, dia bisa memperoleh pendaatan di atas 100 ribu.

Katanya, hasil jualan ketak ini selain biaya kebutuhan hidup juga untuk membantu biaya sekolah tiga anaknya. Apalagi sekarang di masa pandemic, anak-anak harus sekolah via daring dan tentu membutuhkan kuota internet.

“Kalau ada pendapatan lebih saya beli ketak hasil warga untuk distok. Nanti saya baru jual ke pengepul lagi,” ungkap dia.(*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Terkumpul Hasil Razia Masker 61 Juta

Read Next

Ruslan Turmuzi Tepati Janji

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *