Mengenal Husnul Hatim, Pemilik Tangan “Super”

F Bok 1

Husnul Hatim

Dari Guru Honor, jadi TKI ke Korea dan Sekarang Serbabisa

Nama Husnul Hatim, 54 tahun warga Serengat Selatan, Kelurahan Prapen, Kecamatan Praya cukup dikenal banyak orang. Dari hasil tangan “super” perlahan dia mampu melakukan apa yang orang tidak bisa lakukan.

KHOTIM-LOMBOK TENGAH

DIA sekarang sudah tidak muda lagi. Namun semangatnya, tak bisa diragukan. Nyaris setiap hari, Paman Senul sapaan di luar tak henti beraktifitas. Selain itu, Paman Senul juga dikenal memiliki tangan “super”. Dia  banyak berkarya dan berbuat mulai di tingkat pemuda dan masyarakat lainnya. Terobosan dan inovasinya tidak ada henti. Dia juga tidak pernah habis akal.

Soal keahlian cukup banyak dimilikinya. Mulai dari pertukangan, perbengkelan, las, cat, pertanian organik dan saat ini sedang konsen bagaimana mengatasi limbah botol dan kaca yang beberapa tahun lalu menjadi program prioritas pemerintah.

Siap dia ? pendidikan pertama Paman Senul di SDN 8 Praya, kemudian melanjutkan di Sekolah Menengah Pertama (SMP)N 2 Praya, baru melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA)N 1 Praya. Lebih hebat lagi, Paman Senul sempat duduk di bangku perkuliahan selama 6 bulan di STMIK Bumigora Mataram namun kandas. Setelah itu dilanjutkan dan mengabdi sebagai guru honorer di SMAN 1 Mataram sekitar satu tahun namun berhenti. Dia kembali bekerja di sebuah restoran di Kuta selama 2 tahun.

Tidak sampai di situ, Paman Senul juga sempat mengadu nasib menjadi TKI ke Korea selama 3 tahun dan penambangan emas illegal di Sumbawa. “Saat musim batu akik saya juga jualan dari rumah,” ungkapnya pada wartawan Radarmandalika.id.

Setelah itu, usai musim batu akik tahun 2017 Paman Senul mulai diajak bergabung oleh pengurus Karang Taruna Kelurahan Prapen ‘Tunas Bersatu’ namanya. Dalam kesematan itu, dia mau bergabung kendati usia sudah tak tergolong muda lagi.

Selama bersama karang taruna, Paman Senul banyak melahirkan ide dan praktek sehingga perlahan organisasi kepemudaan ini mulai bangkit. Focus pada saat itu, dimulai dari sulap limbah botol dan kaca menjadi rupiah.

Dari tangan supernya, Paman Senul dan pemuda lain keliling mencari limbah botol dan kaca. Dia berhasil menjadikan limbah botol menjadi gelas cantik yang berhasil dijual. Sementara kaca bisa dijadikan akuarium dan plakat.

“Kalau botol dan kaca bekas kan tidak laku dijual dan penguraiannya sangat lama, kemudian kenapa tidak kita kreasikan lebih-lebih bisa bernilai ekonomis,” katanya.

Bahkan di setiap pameran, pihaknya selalu tampil di stand pameran. Demikian juga di pameran pertanian dengan brand kampung organiknya juga dilakukannya. Sehingga perhatian beberapa pihak mulai bermunculan dari aneka tanaman kebutuhan dapur yang dikoleksi sampai saat ini mengembangkan Tambulapot (tanaman Buah dalam Pot, Red) yang dengan nilai ekonomis yang lumayan tinggi bagi Husnul.

“Kalau taman dapur di pameran ya lumayan, kalau pameran 2-3 hari 2 juta itu sih sedikit, apalagi kalau Tambulapot yang laku bisa lebih tinggi lagi omzetnya,” beber dia.

Nampaknya hobi ini bukan sekadar, namun menjadi sumber pendapatannya. Ditambah lagi dengan gagasanya membrending program Kampung Organik bebas limbah botol dan kaca yang diusung menjadi program utamanya. Tidak tanggung-tanggung di tahun 2019 kemarin Karang Taruna setempat berhasil meraih juara 1 di tingkat Kabupaten Lombok Tengah dan meraih juara II di tingkat Provinsi NTB.

Sosok Paman Senul yang sosialis dan tetap berjiwa muda, membuatnya terkenal sebagai sosok penggerak pemuda Prapen. Terlebih dengan karya-karya dan kontribusinya terhadap pembinaan pemuda dan masyarakat selama ini.

Sampai saat ini, Paman Senul ini masih menggalakan Kampung organik bebas limbah botol dan kaca di kediamanya di Kampung Serengat Selatan, Kelurahan Prapen dan kerap menerima order dari Cafe, Home Stay, Comunitas dan kantor pemerintahan. Yakni gelas daur ulangnya yang terbuat dari botol kaca bekas yang bisa di gambar dan di tuliskan sesuai keinginan pemiliknya. plakat dari kaca daur ulang dan lampu tidur juga tidak kalah menarik.(*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Ditendang, Fitri Wartawan Online Langsung Lapor Polisi

Read Next

Dewan Minta BRI dan Dinsos Tidak Main-main

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *