Melihat Tradisi Bejango Bliq Songak di Kabupaten Lombok Timur

  • Bagikan
F BOK 1
IST / RADAR MANDALIKA BEJANGO : Warga Desa Songak Kecamatan Sakra Lotim membawa berbagai kebutuhan, untuk pergi Bejango disebuah makam di TPU Desa Songak, setelah melakukan sejumlah ritual di masjid kuno, kemarin.

Masih Tetap Eksis, Digelar Setiap Bulan Maulid

Kabupaten Lombok Timur memiliki banyak budaya dan tradisi bahkan saat sekarang masih lestari. Dari budaya dan tradisi itu dijadikan bagian destinasi wisata.

MUHAMAD RIFA’I – LOTIM

ADA banyak kegiatan ritual adat dan budaya di tengah masyarakat Lombok Timur (Lotim). Ritual di Bale Beleq Desa Wakan, Kecamatan Jerowaru, ritual di Desa Sapit Kecamatan Suela, ritual adat di Kecamatan Sembalun dan banyak lagi ritual lainnya. Tak terkecuali di Desa Songak Kecamatan Sakra Lotim. Masyarakat setempat memiliki tradisi tersendiri disetiap bulan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang disebut dengan Bejango Bliq.

Tradisi Bejango bagi masyarakat Desa Songak, merupakan salah satu tradisi yang diwarisi turun temurun dari leluhur. Keberadaannya, masih tetap eksis di tengah gempuran era modern saat ini. Tradisi itulah yang dijadikan sebagai acara tahunan oleh Lembaga Adat Darma Jagat Songak. Selain sebagai atraksi budaya, juga menjadi penyempurna dari ritual yang dilaksanakan secara individu.

Puncak kegiatan itu digelar selama dua hari, sejak 3-4 November kemarin. Namun persiapannya sendiri, dilakukan sejak tiga bulan lalu, yakni mulai bulan Muharam, Safar, hingga Rabiul awal sebagai puncak kegiatan. Dalam tiga bulan itu, warga setempat setidaknya menggelar beberapa ritual adat. Yaitu Bubur Beaq pada bulan Muharam, Bubur Putiq pada safar, dan maulid adat jarig minyak Songak, serta terakhir bejango. Warga Songak memiliki prinsip “lempot pumbak” sebagai prinsip keilmuan.

Kata Ketua Lembaga Adat Darma Jagat Songak, Mastur Sonsaka, munculnya tradisi tersebut berawal dari pesan leluhur, dan sudah secara turun temurun diyakini oleh warga setempat. Pesan leluhur itu, ialah ketika ingin ketemu, memiliki hajat, atau sedang mengalami sakit berat, datanglah melalui masjid, dilanjutkan menuju ke makam (petilasan, red). Konon, masjid itu sebagai tempat tinggal sang leluhur.

Leluhurnya konon memberikan pesan, kalau mau bertemu atau memiliki hajat, agar datang ke petilasan, namun harus lewat masjid dulu. Kemudian inilah yang menjadi tradisi warga. Sebenarnya, bejango ini tidak hanya dilakukan sekali dalam setahun. Melainkan juga dilakukan setiap hari Senin dan Kamis. Pelaksanaan hari Senin dan Kamis hanya sifatnya pribadi, sesuai hajat warga itu sendiri.

Sedangkan yang dilakukan sekali setahun seperti saat ini, kata Mastur, merupakan acara tahunan yang dilakukan secara kelembagaan. Bahkan bisa dikatakan sebagai penyempurna dari pelaksanaan ritual yang dilaksanakan secara individu. Ritual tradisi ini dilakukan selama dua hari, yakni pada sore hari Minggu dan Rabu, selanjutnya pagi Senin serta Kamis.

Ritual sore itu, disebut Bejango Buwaraq. Artinya pemberitahuan kepada leluhur, bahwa besok akan datang ke tempat tersebut. Sebagaimana yang diyakini oleh warga sekitar. Sedangkan untuk puncak acara yang dilaksanakan pada pagi harinya, disebut Bejango Nyaur. Artinya membayar nazar bagi yang memiliki hajat. Ritual ini dimulai dari masjid, dengan membawa sesangan dan sanganan sebagai rukun dari prosesi itu. Di lokasi yang sama, warga memanjatkan doa selamat pada sang khaliq, sebagai penguasa atas segalanya.

Diman usai memanjatkan doa, warga menikmati hidangan yang dibawanya (sanganan, red). Setelah itu masyarakat membasuh muka di samping mimbar yang dibimbing oleh tetua (yang ditokohkan) di desa setempat. Selesai prosesi di masjid kuno tersebut, warga desa itu berjalan menuju makam diiringi gamelan, melaksanakan ritual yang sama.

Sekretaris Daerah (Sekda) Lotim, HM Juaini Taofik menjelaskan, setiap kehidupan pasti menemukan masalah. Begitulah, ucapnya memberikan penjelasan sesenggak suku sasak yang mengatakan “Aiq Meneng Tunjung Tilah Empaq Wau, dimana setiap kehidupan itu pasti memiliki masalah”. Ungkapan suku sasak itu, telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW, yakni bagaimana Nabi menyelesaikan konflik antar kaum pada waktu itu.

Dirinya menceritakan, belajar dari desa wisata yang sukses dengan destinasinya. Banyak mendatangkan manfaat seperti lapangan kerja baru, dan banyak pendatang yang akan membawa duit. Desa wisata Seruni Mumbul misalnya, membangun wisata pada tahun 2018 yang lalu. Hanya memanfaatkan menanga dan membuat ikon menara eiffel. Desa tersebut, hanya mengandalkan anggaran dana desa sekitar Rp 600 juta, untuk membangun infrastruktur destinasi itu. Keberadaan wisata itu, memberikan efect domino bagi desa tersebut. Dalam membangun desa itu, melalui strategi yang disebutnya tiga A. Yakni aksesebilitia, amenitas dan atraksi.

“Tapi tetap prinsipnya menggunakan Aig Meneng Tunjung Tilah Empaq Wau,” kata Juaini. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *