Melihat Kekompakan Pemuda di Dusun Kandung Desa Lajut

Bok

IST/RADAR MANDALIKA MULAI LANGKA: Para remaja Dusun Kandung Desa Lajut saat memainkan music hadrah di salah satu rumah pengantin baru, Minggu malam.

Mainkan Musik Hadrah di Rumah Pengantin, Sudah Eksis Sejak 2017

Pemuda atau remeja Dusun Kandung, Desa Lajut Kecamatan Praya Tengah selalu eksis sampai dengan saat ini. Mereka pun terlihat semakin kompak. Banyak hal positif dilakukan pemuda di sana. seperti apa?

HAZA-LOMBOK TENGAH

MENJADI ciri khas remaja Kandung Desa Lajut, mereka memiliki group musik hadrah. Setiap ada pemuda yang menikah di kampung halamannya, remaja di sana dengan kompak keluar rumah bersamaan mendatangi rumah pengantin. Di rumah sang pengantin, para remaja diberikan kesempatan menampilkan music hadrah ini. Kegiatan ini semua sebagai bentuk pemberian ucapan selamat kepada pengantin.

Minggu malam kemarin, wartawan Radar Mandalika ikut masuk dalam kelompok ini. Kebetulan ada pemuda di Dusun Kandong baru saja selsai melaksanaan prosesi pernikahannya. Biasanya rombongan remaja ini datang satu minggu setelah acara selsai.
Kedatangan remaja ini disambut baik oleh pihak keluarga dan tokoh pemuda di sana selaku koordinator acara. Dari pengakuan Ketua Remaja Dusun Kandong, Reza Ramdani menyebutkan jika musik Hadrah Rabana merupakan salah satu seni musik yang harus dilestarikan. Sebab dalam pertunjukannya banyak sekali nilai-nilai islam yang terkandung di dalamnya.
“Sehingga secara tidak langsung pada saat kami tampil, masyarakat diajak bersolawatan juga,” ceritanya di lokasi.

Dibeberkannya, music Hadrah Rabana di Dusun Kandong berdiri sejak 4 tahun silam tepatnya 2017 lalu bersamaan dengan lahirnya Forum Pemuda Dusun Kandong atau dikenal dengan sebutan PADUKA. Dari pengakuannya, Hadrah Rebana sejauh ini sudah tampil diberbagai macam acara keagamaan di Desa Lajut khususnya di Dusun Kandong. Misalnya di acara tasyakuran, maulid nabi, pengajian dan acara besar agama islam lainnya.
“Kadang kami juga sering diundang tampil diacara pernikahan dan sunatan untuk memeriahkan acara,” katanya lagi.
Dilihat dari respons masyarakat, keberadaan Hadrah Rebana ini sangat direspons positif. Katanya, awal mula berdirinya Hadrah Rebana ini karena di Dusun Kandong para pemuda atau ramaja banyak memiliki talenta dibidang musik baik modern maupun tradisional. Musik modern pumada Dusun Kandong juga sering tampil dengan orkesnya, begitu juga dengan musik tradisional di Dusun Kandong masih melestarikan seni musik gemelan atau sering disebut kelentang biasanya tampil di acara pernikahan dan sunatan.
“Musik kelentang ini sudah menjadi turun temurun dan sekarang diperkanalkan keremaja milenial,” ungkap dia.
Sementara Hadrah Rebana walaupun bisa dikatakan masih baru di Dusun Kandong, namun tidak kalah eksis dengan kelentang maupun musik modern lainnya. Pasalnya ini didukung dengan para remaja yang mahir bermain alat-alat musik modern dan tradisional dan kebanyak dari pemainnya merupakan orang tepelajar jebolan dari pondok-pondok santren ternama di Lombok Tengah.
“Jadi sudah terbiasa memainkan alat musik rebane terbuat dari kayu dan kulit sapi. Dengan SDM yang unggul kenapa tidak Hadrah Rebana ini kita kembangkan dan lestarikan,” serunya.(*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Babat Pohon, Oknum Orang Pemerintahan Diduga Terlibat

Read Next

Dewan Loteng Sorot Keberadaan Desa Wisata

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *