Makam Keleang di Tengah Genangan Air Bendungan Pengga

F Makam scaled

FOTO DIKI WAHYUDI/RADAR MANDALIKA TERTATA: Makam Keleang milik Sayid Muhammad Ali atau Sayid Abdurrahman terlihat sudah direnovasi.

PRAYA-Keberadaan Makam Keleang di tengah genangan air bendungan Pengga, Kecamatan Praya Barat Daya tidak banyak diketahui warga Lombok Tengah. Namun warga luar Gumi Tastura, banyak yang mengetahui keberadaan makam itu. Belum lama ini, sejumlah warga dari Negara Malaysia melakukan ziarah ke tempat yang disebut keramat ini.
“Pernah ada orang Malaysia, orang dari Jawa datang ke sini untuk ziarah,” ungkap pengelola Makam Keleang, Martono di lokasi, Sabtu sore kemarin.
Tono menegaskan, selain warga Malaysia dan pulau Jawa, banyak juga warga di luar Lombok Tengah berziarah. Bahkan mereka ada yang sampai bermalaman di sana.”Di lokasi ini juga banyak warga yang datang untuk menyembelih kerbau warna hitam, kemudian mereka makan berjamaah di sini. Dan kami sudah siapkan tempat khusus,” ceritanya.
Dikatakan Martono, dari garis peta wilayah lokasi makam ini masuk di Dusun Ngabok Bagek Pituk Desa Pelambik. “Ini masuk wilayah kami,” tegasnya.
Namun ia mengaku bersyukur, tahun 2020 ada seorang berasal dari Ampenan dengan biaya pribadi merehab makam ini. Bahkan sekarang terlihat cukup baik lagi dan tertata.
Martono menceritakan, berdasarkan informasi yang dia terima dari orangtua sebelumnya. Makam ini diberikan nama Makam Keleang karena saat dulu, para tokoh agama dan warga sekitar hanya bisa melihat ada selendang warna putih milik Sayid Muhammad Ali atau Sayid Abdurrahman. Almarhum adalah seorang ulama yang sejak lama mensiarkan agama islam di wilayah ini termasuk Pulau Lombok.
“Jadi Keleang itu bahas kami yang artinya selendang, makanya disebut Makam Keleang. Warga dan para tokoh kami di sini tidak ada yang mengetahui di mana jejak terakhir ulama itu, hanya ada selendang dilihat saja. Warga pun memastikan bahwa di situ beliau terakhir,” ceritanya.
Kata Martono, warga di tempatnya bahkan yang sering ziarah menyebutkan almarhum adalah seorang wali. Konon seperti informasi yang ia kumpulkan dari para tokoh dan orangtua, almarhum merupakan keturunan dari Mas Jenangan atau Ratu Emas Jayenede dari Kedaru, Sekotong Lombok Barat. Almarhum juga kabarnya pernah melakukan dakwah islam di Kerekok Desa Pelambik. Termasuk juga pernah ritual di goang gue Desa Montong Ajan.
“Jadi ada hubungan juga dengan makam wali di tengah genangan air Bendungan Batujai,” sebutnya.
Tono menambahkan, dari kegiatan dakwah pernah dilakukannya. Ulama satu ini pernah terlibat adu mulut lantaran beda pendapat. Baru ceritanya dengan menggunakan kuda putih mengarah ke lokasi makam saat ini. “Baru di sana warga hanya melihat ada selendang saja,” ceritanya lagi.
Dari keberadaan makam ini, Tono berharap dapat perhatian pemerintah kabupaten. Paling tidak bisa memudahkan warga yang ziarah ke lokasi makam. “Kalau mau ke makam hanya naik perahu sederhana milik warga, ya kurang lebih 10 menit sampai,” katanya lagi.
Sementara, Sekcam Praya Barat Daya Husnan yang dikonfirmasi membenarkan keberadaan makam ini.”Betul ada, Cuma yang paham cerita warga di sana,” katanya.(r1/tim)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Gubernur NTB Dapat Penghargaan Keberhasilan Pengesahan Perda Perkawinan Anak

Read Next

Di NTB Mudik Diperbolehkan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *