Mafia Tiket MOTOGP Bergentayangan, Penonton Ngeluh

  • Bagikan
F tunggu
FENDI/ RADAR MANDALIKA TUNGGU: Para penonton MotoGP Mandalika tengah menunggu di shutle bus, Minggu malam.

 

PRAYA – Salah seorang warga yang ada di sekitar Sirkuit Mandalika, Lalu Marzuki Yahya menyesalkan banyaknya mafia tiket yang berkeliaran di sekitar Sirkuit Mandalika. Lebih anehnya para mafia tersebut jelasnya berasal dari luar daerah.

“Banyak orang luar bisa jualan tiket berkeliaran di wilayah bazar, kita pertanyakan apakah tiket ini dikeluarkan oleh mafia tiket atau mungkin tiket gratis yang diperjual belikan,” ungkapnya menduga.

Fenomena ini jelasnya terjadi sejak hari pertama even MotoGP di KEK Mandalika, adapun harga tiket yang di jual diperkirakan dari kisaran harga Rp 400 ribu dari jenis tiket yang diperjual belikan resmi seharga Rp 200 ribu.

Penonton juga mengeluhkan akses masuk menuju tribun penonton yang cukup jauh dari shutle bus yang telah disediakan. Pasalnya, jarak dari shutle bus menuju tribun diperkirakan lebih dari 500 meter.

“Jarak kita jalan ini sangat jauh, kasian teman- teman yang tidak kaut untuk jalan,” jelas salah satu penonton, Widodo pada media, kemarin.

Menurutnya, mestinya para penonton diantar menggunakan bus sampai dengan depan loket masuk agar tidak terlalu jauh. Dia juga menceritakan jika pada waktu siang cuacanya sangat panas sehingga ini sangat menyulitkan para penonton.

“Tidak ada masalah dengan pengaturannya, kita berharap kita bias diturunkan di depan loket,” ujarnya.

Dia juga menyinggung keberadaan tiket MotoGP yang sudah kosong di platform. Dimana dia bersama rombongan sejak beberapa minggu sudah membooking tiket MotoGP. Namun ketika pihaknya hendak membooking tiket lagi, ternyata tiket sudah habis terjual.

“Saya cari tambahan namun, sudah habis terpaksa cari lewat teman,” jelasnya.

Namun persoalan ini menjadi pertanyaan pihaknya lantaran ketika masuk ke tribun penonton banyak kursi yang belum terisi padahal tiketnya sudah terjual. Dia tidak berani menduga seperti apa permasalahannya. Namun yang jelas ungkapnya mestinya ada tiket yang disediakan di lokasi misalnya saja sekitar 10 persen agar mampu diakses oleh penonton yang bereuporia ketika sudah di Lombok.

“Saya pesan yang A, tapi dikasih tau hanya E, terakhir dapatnya di tribun I,” sesalnya.(ndi)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *