Oleh: H Abdus Syukur

Selamat kepada kawan-kawan wartawan yang baru saja dinyatakan kompeten UKW Madya. Saya tahu, untuk sampai pada titik ini tidak mudah. Ada proses belajar, pengalaman di lapangan, tekanan, dan tentu saja ketegangan ketika berhadapan dengan penguji. Kini predikat kompeten sudah melekat. Selanjutnya Bagaimana?

Jangan buru-buru merasa selesai. Justru setelah lulus UKW Madya, perjalanan yang sesungguhnya sebagai wartawan profesional baru dimulai. UKW bukan sekadar soal lulus atau tidak lulus. Lebih dari itu, UKW seharusnya menjadi ruang untuk mengukur kembali. Sudah sejauh mana kita menjalankan profesi ini dengan benar? Sebab kompetensi tidak berhenti di ruang ujian.

Ia harus terlihat ketika kita turun ke lapangan, menyusun rencana liputan, mencari narasumber, menggali data, melakukan verifikasi, menulis berita, sampai ketika kita menghadapi tekanan dari orang yang tidak senang dengan berita kita. UKW boleh selesai. Tetapi tanggung jawab sebagai wartawan tidak pernah selesai.

Jangan Hanya Menunggu Rilis

Saya sering melihat pola yang sama dalam kerja jurnalistik. Datang ke acara. Mendengarkan pejabat bicara. Mencatat. Pulang. Berita dibuat. Lalu selesai. Tidak salah. Tetapi kalau terus seperti itu, kita hanya akan menjadi penunggu rilis. Padahal wartawan madya seharusnya mulai bertanya lebih jauh.

Ketika pejabat mengatakan sebuah program berhasil, saya akan bertanya. Mana datanya? Ketika pemerintah mengatakan pembangunan berjalan baik, saya ingin tahu. Bagaimana masyarakat merasakan dampaknya? Ketika sebuah anggaran disebut besar, pertanyaan berikutnya. Untuk apa uang itu digunakan? Dan, ketika sebuah kasus ramai di media sosial, jangan buru-buru ikut ramai. Periksa dulu.

Menurut saya, di situlah kelas wartawan madya mulai terlihat. Bukan hanya dari seberapa cepat berita kita tayang, tetapi dari seberapa kuat berita itu ketika diuji dan dipertanyakan.

Jangan Mudah Percaya

Kita hidup di zaman ketika semua orang bisa menjadi penyebar informasi. Satu pesan WhatsApp bisa menyebar ke mana-mana. Satu video TikTok bisa membuat sebuah daerah heboh. Satu unggahan Facebook bisa menjadi bahan pembicaraan publik. Tetapi saya kira wartawan tidak boleh bekerja seperti pengguna media sosial biasa. Kita harus punya satu kebiasaan. Periksa sebelum percaya, konfirmasi sebelum menulis, dan verifikasi sebelum menerbitkan.

Saya lebih memilih terlambat beberapa menit tetapi beritanya benar. Daripada menjadi media pertama yang ternyata memberitakan sesuatu yang keliru. Sebab ketika berita salah, yang rusak bukan hanya nama orang yang diberitakan. Nama media dan kepercayaan publik kepada wartawan ikut dipertaruhkan.

Belajarlah Melihat Berita di Balik Berita

Saya suka melihat bagaimana seorang wartawan memandang sebuah persoalan. Ada yang melihat jalan rusak lalu menulis. Jalan rusak. Tetapi ada yang berhenti sebentar dan bertanya. Mengapa jalan itu rusak? Siapa yang mengerjakannya? Berapa anggarannya? Kapan dibangun? Bagaimana proses pengadaannya? Berapa banyak masyarakat yang terdampak?

Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat seorang wartawan berkembang. Wartawan madya (Redaktur) harus mampu melihat berita di balik berita. Jangan biarkan satu berita mati setelah dipublikasikan. Pikirkan apa berita berikutnya. Lakukan follow up. Cari data. Temui masyarakat. Cari dokumen. Minta penjelasan pihak terkait. Karena berita yang baik sering kali bukan berita yang selesai dalam satu hari. Berita yang baik justru membuka pintu untuk berita berikutnya.

Bangun Jejaring, Bukan Ketergantungan

Saya juga percaya, wartawan tidak mungkin bekerja sendirian. Bangun hubungan baik dengan pejabat, akademisi, aparat, pengusaha, tokoh masyarakat, aktivis, komunitas, dan tentu saja masyarakat biasa. Tetapi jangan sampai hubungan itu membuat kita kehilangan jarak profesional. Kita boleh berteman dengan siapa saja tapi tetap Jaga Jarak. Karena ketika orang itu menjadi objek berita, kita harus kembali menjadi wartawan. Jangan karena terlalu dekat, berita menjadi terlalu manis.  Jangan pula karena tidak suka, berita menjadi terlalu pahit. Wartawan boleh punya teman. Tetapi berita tidak boleh punya teman. Teman terbaik sebuah berita tetap satu. Fakta.

Setelah Madya, Jangan Pelit Ilmu

Ini pesan yang menurut saya tidak kalah penting. Setelah lulus madya, jangan merasa lebih tinggi dari wartawan muda. Justru semakin tinggi kompetensi, semakin besar tanggung jawab kita untuk berbagi. Kalau ada wartawan muda yang belum bisa mewawancarai dengan baik, ajari. Kalau tulisannya kurang rapi, koreksi. Kalau belum memahami cara mencari data, dampingi. Kalau belum berani turun ke lapangan, ajak.

Saya percaya, ukuran keberhasilan seorang wartawan senior bukan hanya berapa banyak berita yang pernah ditulisnya. Tetapi juga berapa banyak wartawan muda yang pernah dibantunya menjadi lebih baik. Kalau ilmu hanya berhenti pada diri sendiri, ia akan habis bersama kita. Tetapi kalau dibagikan, ia akan terus hidup di generasi berikutnya.

Sertifikat Bukan Jaminan

Ini yang paling ingin saya titipkan kepada kawan-kawan yang baru lulus. Sertifikat UKW bukan tiket untuk merasa paling benar. Sertifikat hanya membuktikan bahwa kita dinyatakan kompeten ketika mengikuti ujian. Setelah itu, publik yang akan menguji kita setiap hari.

Pembaca tidak akan bertanya. “Mana sertifikat UKW Anda?” Mereka akan bertanya. “Benarkah berita ini?” “Dari mana datanya?” “Sudah dikonfirmasi belum?” “Mengapa hanya satu pihak yang diberitakan?” Dan, ketika kita salah, publik tidak akan menyalahkan sertifikat. Mereka akan mempertanyakan kredibilitas kita. Karena itu, kalau boleh saya berpesan kepada kawan-kawan yang baru lulus UKW Madya.

Jangan berhenti belajar. Jangan berhenti bertanya. Jangan malas melakukan verifikasi. Jangan takut mengembangkan berita. Jangan kehilangan independensi. Dan, yang paling penting, jangan pernah merasa sudah selesai menjadi wartawan. Sebab menjadi wartawan bukan soal berapa kali kita lulus ujian. Menjadi wartawan adalah soal berapa lama kita mampu menjaga kepercayaan publik.

UKW selesai. Tetapi ujian integritas dimulai lagi setiap pagi, ketika kita membawa kartu pers, membuka laptop, mengambil kamera, lalu turun ke lapangan. Di sanalah sertifikat kita benar-benar diuji. Bukan lagi oleh penguji. Tetapi oleh fakta, realitas, dan publik.

Selamat menjadi wartawan madya. Naiklah kelas dalam kompetensi, tetapi tetaplah rendah hati dalam menjalankan profesi. Sebab pada akhirnya, yang membuat seorang wartawan dikenang bukan sertifikat yang tergantung di dinding. Melainkan karya jurnalistik yang memberi manfaat, keberanian mencari kebenaran, dan integritas untuk tetap berdiri di atas fakta. (*)

Disclaimer: Tulisan ini merupakan gagasan dan pandangan penulis yang dikembangkan dengan bantuan AI dalam penyusunan dan penyuntingan. Tanggung jawab atas substansi dan publikasinya tetap berada pada penulis.

**Penulis Penguji UKW PWI

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *