Lebih Dekat dengan Dandim 1620 Lombok Tengah, Letkol Inf I Putu Tangkas Wiratawan

F bok 1 1

IST/RADARMANDALIKA.ID Letkol Inf I Putu Tangkas Wiratawan

Jadi Juara Sepak Takraw Tingkat Nasional

Komandan Kodim 1620 Lombok Tengah, Letkol Inf I Putu Tangkas Wiratawan memiliki banyak prestasi saat masih muda, sebelum dia mengenakan baju loreng. Seperti apa?

KHOTIM-LOMBOK TENGAH

LAHIR di Bali, 28 Oktober 1980, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Dandim 1620 Lombok Tengah, Letkol Inf I Putu Tangkas Wiratawan merupakan pasukan khusus tempur yang sudah melalang buana. Di balik itu, dandim satu ini juga merupakan atlet berprestasi. Sejak muda, dandim memang gemar berolahraga, dan menjadikannya atlet di berbagai bidang. Mulai sepakbola, sepak takraw dan juga lempar lembing. Ini juga diakui sebagai salah satu tiket bisa jadi prajurit TNI AD tahun 1999 melalui jalur Akademi Militer (Akmil).
Dari cerita dandim, dia lahir dari latarbelakang keluarga biasa-biasa saja, bapak seorang anggota TNI dengan lulusan Tamtama, kemudian ibu seorang guru SD di Kabupaten, Singaraja, Provinsi Bali.
Ceritanya, dia menghabiskan masa kecilnya dengan berpindah-pindah tempat tinggal. Mengingat harus mengikuti kemana bapak tugas. Bahkan sampai-sampai dandim sempat dititip orangtua di rumah pamannya saat masih duduk di bangku sekolah.
“Sebelum jadi anggota saya sering membantu paman sebagai peternak ayam, saya harus ikut memberikan makan ayam setiap pagi untuk uang jajan di sekolah,” ceritanya kepada Radarmandalika.id.
Sejak muda, dia gemar dalam bidang olahraga yang tidak jarang menjadi kebanggaan sekolah dan mengharumkan nama daerah. Bahkan di lempar lembing beberapa kali mendapatkan juara di daerah. Namun seiring waktu, dia pun terus mencoba bidang olahraga lain seperti sepak takraw yang kemudian mengantarkannya sebagai tim yang berhasil meraih juara III tingkat Nasional.
Bahkan, di masa remaja dandim sempat bercita-cita ingin menjadi seorang sarjana perawat. Saat tamat SMA, dandim pernah mencoba untuk ikut tes masuk dalam pendidikan keperawatan namun gagal. Kemudian mendaftarkan diri ke perguruan tinggi pariwisata di Bali justru diterima. Hanya sampai dua semester, pembukaan calon anggota TNI dibuka dan kemudian ia pun daftar dan lolos.

“Awalnya saya sempat terbayang enak akan keliling dunia dengan kapal pesiar saat kuliah kepariwisataan, namun takdir saya lain. Pembukaan taruna AKMIL TNI AD yang menjadikan medan pengabdian saya kepada negara,” tuturnya.

Pada tahun 1998, dia daftar masuk Akademi Militer dan menjadi anggota resmi tahun 1999. Sampai dengan menjadi anggotapun dirinya tetap gemar mengikuti turnamen olahraga antar taruna.

Sementara, adapun penempatan pertama saat menjadi anggota yakni, di wilayah Maluku Utara selama 3 tahun sejak tahun 2002, dengan program pada saat itu yang bernama Danramil Penugasan.
“Jadi yang baru-baru lulus waktu itu kita disebar ke seluruh Indonesia, di tempat daerah-daerah rawan konflik dan di wilayah perbatasan. Saat itu masih berlangsungnya operasi pemulihan keamanan pascadulu konflik tahun 2003. Dan saya juga masuk satuan tempur di Batalyon di sana juga di Maluku Utara,” ceritanya.

Dalam penugasan, dia saat itu merasakan semua berjalan biasa dan dalam semua persoalan pasti ada solusi sebagai keyakinannya juga. Dengan kondisi secara usia dan semangat yang masih muda dan dihadapkan dengan banyak permasalahan yang terkait dengan sosial masyarakat, membuatnya banyak belajar dan menambah pengalaman.
Kemudian dari berbagai elemen anggota juga memiliki banyak keterampilan-keterampilan yang tidak ada secara umum. Ibarat sama dengan tugas-tugas seperti di perbatasan. Dimana dari keseluruhan itu, intinya bagaimana pihaknya dapat berkomunikasi dengan masyarakat, kemudian bagaimana membawa anggota dalam melaksanakan tugasnya.
“Tugas di perbatasan dengan terbatasnya akses komunikasi, akses jalan, itu juga menjadi hal yang masih sampai saat ini saya ingat,” katanya.
“Malah saat mau mencari sembako saja susah. Saya harus naik motor dengan akses yang lumayan ekstrim dan jauh. Saat bawa sembako itu pulang berasnya sempat jatuh ke tanah dan terpaksa harus saya pungut,” sambung dandim.

Dalam satuan tempur, Putu Tangkas juga sempat menguji kemampuan tempurnya dalam latihan gabungan bersama prajurit luar negri dari Australia dalam program Junior officer kombat. Dalam latihan itu, kurang lebih selama satu bulan di Australia.
Sementara, perjalanan dinas Putu Tangkas Wiratawan pada awalnya sebagai Koramil penugasan selama setahun, kemudian dia ditugaskan di Maluku Utara dan ditarik ke Magelang menjadi pembina taruna selama 2 tahun, masuk ke Batalyon satuan tempur di Kodam IV Diponegoro, Jawa Tengah 470 menjadi Danton, menjadi komandan Kompi kemudian menjadi perwira staf sekolah AH 8 lanjutan perwira.
“Saya ditugaskan setelah lulus sekolah itu ditugaskan di Jawa Barat, tepatnya di Bandung di pusat pendidikan Infanteri kembali ke tempat pelatihan pendidikan di sana tugas kemudian ada sekolah lagi, baru saya berdinas di Kodam 9 di Bali sekitar 1 tahun di sana. Baru diberikan amanah jabatan di Kupang sebagai Komandan Batalyon 743 di Kupang.
“Waktu itu saya berangkat tugas satu Batalyon di perbatasan Timor Leste setelah selesai kemudian saya kembali kurang lebih 2 tahun dan pindah lagi ke Bali ke satuan pendidikan kalau ini sebagai kepala sekolah pendidikan Infantri dan baru tahun 2020 menjadi dandim di Lombok Tengah,” tutur dandim murah senyum ini.(*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Lima Sindikat Jaringan Narkoba Internasional Diciduk

Read Next

Dewan Ramdan Dukung Warga Bertahan di Tengah Sirkuit

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *