MATARAM – Bakal Calon Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal mengupas visi misi membangun NTB. Ini sekaligus penegasan dirinya untuk tetap maju sebagai calon gubernur NTB.

“Disini saya ingin menegaskan diri saya untuk maju,” tegas Iqbal dihadapan wartawan tadi malam di Mataram.

Kehadirannya untuk mengikuti kontestasi bukan sebatas menginginkan jabatan gubernur saja melainkan ini murni panggilan jiwa memperbaiki segelumit persoalan di NTB.

“Karis saya sudah sampai diplomat. Duta Besar Turki. Saya tubuhnya presiden. Saya sebagai presiden di Turki. Itu karir tertinggi ASN yang saya raih. Tapi mencalonkan diri bukan masalah jabatan melainkan panggilan jiwa,” tegas putra kelahiran Praya Lombok Tengah itu.

Menjadi gubernur bukan hanya mengejar jabatan. Lebih dari itu kewenangan besar menjadi instrumen memperbaiki kondisi saat ini.

“Kewenangan menjadi gubernur itu bagaikana melakukan perubahan, perbaikan pembangunan,” tegasnya.

Iqbal mengatakan meski selama ini meniti karir di luar tapi semangat dan jiwanya terus untuk NTB. Dengan jabatan yang dimilikinya telah berbuat banyak untuk NTB. Selama menjabat, lebih dari 13 ribu TKI bermasalah dari luar negri yang dibantu kepulangannya termasuk banyak berasal dari NTB. Terbaru sebanyak 2.300 pelajar terjebak di konfik Yaman, 122 diantaranya dari NTB bisa dipulangkannya.
Dengan peran yang dimilikinya membuktikan jiwanya selalu ada untuk NTB.

“Meski fisik saya diluar tapi jiwa saya di NTB,” katanya.

Maju sebagai calon gubernur NTB bukan tanpa pertimbangan dan alasan yang kuat. Kegelisahannya 10 tahun terakhir tentang daerahnya sendiri telah dituangkan dalam tulisan buku The Choclate. Jika nanti ia terpilih sebagai gubernur maka buku tersebut akan ia terbitkan. Dengan persoalan yang ada enam bulan terakhir Iqbal mengaku terus keliling mengkonfirmasi kesejumlah tokoh agama masyarakat sekaligus menyampaikan tawaran solusi-solusi.

“Apa yang saya rasakan pun sama dirasakan oleh banyak orang,” katanya.

Dengan persoalan yang ada saat ini di NTB ia akhirnya memantapkan diri untuk maju.

“Restu terakhir dari isteri anak. Saya diikhlaskan untuk mengabndi untuk NTB.
Saya infak kan diri untuk membangun NTB,” ungkapnya.

Iqbal mengaku telah berkeliling di 80 an tuan guru, ratusan komunitas di NTB. Termasuk ke organisasi buruh migran di NTB.

“Alhamdulillah mereka semuanya kenal saya,” katanya.

Ditegaskannya dengan tidak berlatarbelakang dari satu warna, ini menujukkan bahwa pengabdian dirinya untuk NTB menjadi milik semua orang. Sementara untuk kendaraan sendiri Iqbal pun optimis akan diusung banyak partai.

“Tidak punya background partai justru membuka basis dukungan lebih luas.
Keputusan mengenai rekomendasi calon gubernur itu ranah DPP. Saya sudah silaturahmi ke pimpinan ketua partai,” klaimnya.

“Tema besar saya pulang saya ingin menjadi gubernur milik semua warga NTB bukan milik satu kelompok milik satu grup,” ujarnya.

Dari sekian visi misi tersebut, Miq Iqbal sapaannya menyampaikan konsep pembangun pariwisata dan infrasturktur yang memadai untuk NTB. Untuk pariwisata sendiri, Miq Iqbal menegaskan NTB tidak harus mengukur pengembangan pariwisata Bali. NTB harus membuat peta pariwisata tersenditri.

“Kalau Bali ambil jalan Kuantity Tourism. Diukur jumlah pengunjung banyak. Kita di NTB lebih kepada quality tourism. Wisatawan berkunjung ke NTB tinggal lebih lama dan tentunya tidak menganggu tatanan sosial yang ada,” terangnya.

“Orang datang ke Lombok karena mau datang ke Lombok dan tinggal lama sehingga spendnya tinggi,” katanya mencotohkan.

Ia beringinan mengimplementasikan gagasan wisata halal yang dicetus TGB periode kedua. Konsep wisata halal, lanjut Miq Iqbal sangat bagus.

“Sayangnya beliau launcung di periode akhir. Tapi saya akan bangkitkan itu dengan versi lebih baik,” tegasnya.

Salah satu implementasi yang dicanangkan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yaitu Muslim Friendly Tourism.

Kedua, dalam aspek pembangunan terutama infrastruktur. Iqbal menyinggung selama ini pembangun infrastruktur selalu mengandalkan APBD. Padahal sumber peluang pembangunan yang tersedia dari sejumlah negara luar sangat terbuka.

“Di luar sana begitu banyak lembaga bisa membantu pengembangan infrastruktur negara,” katanya.

Disatu sisi APBD NTB tergolong rendah. NTB masuk provinsi miskin sehingga kemampuan fiskalnya sangat rendah.

“Jadi selain memakai APBD juga membangun dengan jalur alternatif tadi. Ada IDB, Asian Depelopmen Bank dan lain-lain” ujarnya.

Hal yang dipikirkan kedepan bagaimanan membangun Transn NTB dalam rangka memperpendek jarak tempuh dan juga membangun mobilisasi yang lebih luas.
Ia memaklumi ketimpangan Lombok Sumbawa. Ini dikarenaoan mobilitas rendah.

“Tapi solusinya Trans NTB. Dengan memperpendek jarak tempuh dari Ampenan ke Sape Bima 18 jam bisa menjadi 6 jam. Dampaknya juga memperbanyak mobilisasi. Ini menjadi solusi,” pungkasnya. (jho)

67% LikesVS
33% Dislikes
Post Views : 510

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *