Khawatir! Banyak Orangtua Menolak Anaknya Divaksin

  • Bagikan
F AA Vaksinasi Anak
EKA SUSILAWATI FOR RADAR MANDALIKA VAKSINASI: Tampak para orang tua wali murid sedang duduk di kursi belakang menunggu anak mereka divaksinasi di SDN 3 Puyung, belum lama ini.

PRAYA – Pemkab Lombok Tengah sedang gencar-gencarnya melakukan vaksinasi Coronavirus Disease atau Covid-19 bagi anak usia 6-11 tahun. Namun proses vaksinasi terhadap anak-anak ini bukan tanpa masalah. Pasalnya, banyak orang tua yang ternyata melarang atau menolak anaknya untuk divaksinasi Covid-19.

 

Hal itulah yang terjadi pada saat pelaksanaan vaksinasi bagi siswa SDN 1 Puyung, Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Senin (10/1). Dimana, ada puluhan siswa di sana yang belum dapat divaksinasi karena orang tua menolak anak mereka untuk divaksin Covid-19.

 

“SDN 1 Puyung yang banyak menolak yang tidak disetujui orang tuanya. Di sana 60 an orang yang nolak dari 284 sasaran,” ungkap Kepala Puskesmas (Kapuas) Puyung, Eka Susilawati pada Radar Mandalika, Rabu (12/1) kemarin.

 

Dari jumlah 284 siswa di SDN 1 Puyung, sebanyak 216 siswa yang dapat divaksin. Ada puluhan siswa yang tidak dapat divaksinasi karena orang tuanya menolak. “Yang lima siswa kalau ndak salah karena sakit,” ungkap Eka.

 

Untuk mengatasi masalah tersebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak Dinas Pendidikan (Disdik) Loteng. “Dari dinas pendidikan akan diberlakukan daring (belajar online, Red) untuk yang tidak dapat vaksin. Itu tidak boleh (belajar) tatap muka dengan guru sama temannya yang tidak vaksin,” tutur Eka.

 

Menurutnya, banyaknya orang tua yang menolak anaknya untuk divaksinasi Covid-19 karena mereka termakan hoax alias berita bohong yang beredar dari luar sana. Sehingga, ada wali murid  yang secara tegas tidak mengizinkan anaknya divaksinasi. Apapun alasannya dan  konsekuensinya.

 

“Kemarin ada satu orang wali murid, saya tidak mau anak saya divaksin apapun alasannya dengan apapun konsekuensinya saya terima. Itu alasannya,” tutur Eka.

 

Padahal kata dia, hari Sabtu (8/1) pihaknya sudah melakukan sosialisasi di sekolah-sekolah dalam rangka pelaksanaan vaksinasi anak. Termasuk sosialisasi di SDN 1 Puyung. Kendati demikian, banyak wali murid di sekolah tersebut yang menolak anaknya divaksinasi Covid-19.

 

Namun begitu, pihaknya sudah meminta kepala sekolah (Kepsek) SDN 1 Puyung untuk memberitahukan pihak puskesmas kalau ada siswa atau orang tua siswa yang sekiranya memang berubah pikiran membolehkan anaknya divaksin Covid-19. Tapi hingga kemarin belum ada informasi dari pihak sekolah terkait hal tersebut.

 

“Kebetulan besok pagi (hari ini, Red), kepala sekolah dan puskesmas diundang sama dinas pendidikan, akan kita bahas masalah SDN 1 Puyung,” tutur Eka.

 

Dia melanjutkan, pihaknya menargetkan 3.856 siswa untuk dapat divaksinasi Covid-19 dari 27 sekolah. Baik itu sekolah dasar (SD) lingkup Disdik Loteng maupun madrasah ibtidaiyah (MI) lingkup Kementerian Agama (Kemenag) Loteng.

 

Dikatakan, pelaksanaan vaksinasi anak sekolah baru berjalan tiga hari. Data sampai tanggal 12 Januari 2022, realisasi atau cakupan vaksinasi anak sudah mencapai 526 orang lebih. Yang mana, empat tim vaksinator yang diterjunkan ke dua sekolah per hari. Satu tim vaksinator terdiri dari lima orang tenga kesehatan.

 

Pihaknya terus berupaya mengejar capaian target vaksinasi anak sebelum ajang MotoGP Sirkuit Mandalika. Sesuai arahan Bupati Loteng. Namun adanya penolakan dari orang tua menjadi kendala di lapangan. Selain siswa yang tidak dapat divaksinasi Covid-19 karena sakit. Rata-rata ditemukan batuk pilek.

 

“Kalau anak yang sakit parah itu nanti kita sarankan ke orang tuanya untuk konsultasi ke dokter spesialis. Nanti kalau ada surat rekomendasi dari dokter spesialis yang dibawa ke kami, baru kita eksekusi untuk vaksinasinya. Tapi kalau yang batuk pilek biasa, boleh vaksinasi kalau memang sudah sembuh,” terangnya. (zak)

 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *